Dari Ritual ke Watak Etik: Imbas Puasa dalam Laku Peradilan

Pasca-Ramadan, ujian sejati bukan menahan lapar, melainkan menjaga integritas. Tanpa internalisasi nilai etik, deviasi mudah tumbuh dari kelonggaran kecil.
(Foto: Ilustrasi AI)
(Foto: Ilustrasi AI)

Setelah sebulan menahan lapar dan dahaga, pertanyaan yang layak diajukan bukan seberapa kuat tubuh bertahan, melainkan adakah yang berubah dalam cara kita menahan diri ketika berhadapan dengan godaan, kesempatan, dan kepentingan?

Bagi dunia peradilan, pertanyaan itu tidaklah sederhana. Dalam praktik, integritas tidak runtuh sekaligus. 

Bentuknya retak pelan-pelan, dari kelonggaran yang dianggap sepele, dari batas yang sedikit demi sedikit digeser, berawal pembiaran terhadap hal yang semula terasa janggal, sampai akhirnya menjelma menjadi deviasi yang melukai nama baik diri, keluarga, dan lembaga.

Ritual Selesai Ujian Dimulai

Di titik itulah puasa layak dibaca kembali. Bukan semata sebagai ibadah tahunan yang selesai bersama gema takbir Idulfitri, melainkan sebagai latihan batin untuk menilai ulang hubungan antara ritual, pengendalian diri, dan laku etik. 

Namun perlu ditegaskan, puasa tidak otomatis melahirkan laku etik. Wujdunya hanya mungkin memberi imbas etik apabila nilai-nilai yang dilatih di dalamnya benar-benar diimplementasikan menjadi kebiasaan, watak, dan cara hidup.

Refleksi  ini, tidak lahir dari ruang hampa. Dari laptah tahunan, realitas kelembagaan masih menunjukkan adanya pelanggaran etik, baik oleh hakim maupun aparatur peradilan lainnya. 

Padahal materi kode etik terus disampaikan dalam forum pembinaan dan pengawasan. Integritas terus digaungkan. 

Kewajiban ditegaskan, larangan dijelaskan. Nasihat untuk hidup tenang dan bermanfaat pun terus diberikan. Namun kenyataan memperlihatkan, deviasi masih terjadi.

Kedalaman Internalisasi

Maka, kita perlu jujur bertanya, jangan-jangan persoalannya bukan semata kurangnya pengetahuan etik. 

Jangan-jangan yang kurang justru kedalaman internalisasi. 

Nilai-nilai etik sudah dikenal, tetapi belum sepenuhnya menetap dalam diri. Sudah dipahami, tetapi belum membentuk watak. 

Sudah dihafal, tetapi belum menjelma menjadi refleks moral ketika berada sendirian bersama pilihannya.

Di sinilah puasa menjadi relevan. Puasa mengajarkan manusia untuk hidup dalam batas, bahwa tidak semua dorongan harus diikuti.

Tidak semua keinginan patut dituruti dan tidak semua yang bisa dilakukan lalu layak dilakukan. 

Orang yang berpuasa menahan makan dan minum, bukan karena tidak mampu, tetapi setidaknya, karena sedang melatih diri untuk tidak selalu tunduk pada dorongan kepentingan sesaat.

Irisan puasa dan kode etik

Di titik ini, puasa dan kode etik saling bertemu. Kode etik berbicara tentang kepantasan batas dan pengendalian diri. 

Ia juga menuntut kemampuan, menahan langkah, kedekatan, keinginan di luar yang dibutuhkan dan menahan diri dari menyalahgunakan kesempatan. 

Kode etik bangga bila setiap anggota profesinya mampu berkata “tidak” saat peluang untuk berkata “ya” terbuka, dan mampu tetap menapaki jalan lurus, meski ada tawaran jalan menyimpang yang menggiurkan.

Maka, puasa dan internalisasi kode etik memiliki irisan nilai yang kuat. Puasa melatih orang untuk menahan diri, kode etik menuntut kemampuan yang sama dalam kehidupan profesi. 

Puasa juga, melatih kejujuran di ruang yang sunyi, kode etik menguji integritas justru ketika tidak ada yang melihatnya. 

Keduanya sama-sama berbicara tentang batas, yaitu menjaga dan melaksanakan amanah dalam koridor ketentuan. 

Puasa mengajarkan agar manusia tidak menjadi budak, bagi nafsu keinginan dan dorongan kenikmatan sesaat. 

Dalam hidup etik, pelajaran ini sangat penting. Tidak sedikit penyimpangan lahir ketika seseorang tidak qona’ah. Tidak mampu berkata “cukup” kepada diri sendiri terhadap dorongan instingtif (syahwat harta, tahta dan wanita), lalu perlahan kehilangan kepekaan atas marwah profesi dan kehormatan lembaga.

Integritas Tidak Lahir Otomatis

Argumen di atas tetap perlu dibatasi secara adil. Puasa tidak otomatis membuat seseorang imun dari deviasi etik. 

Fakta justru mengajarkan kerendahan hati, ada yang berpuasa, tetapi tergelincir.

Sisi lain, ada yang tidak berpuasa, tetapi mampu menjaga integritasnya. Artinya, laku etik tidak boleh dipersempit sebagai hasil otomatis dari suatu ritual. 

Dengan demikian, nilai etik bersifat universal dan puasa dapat menjadi salah satu jalan penting untuk mendalaminya, tetapi bukan satu-satunya.

Persoalan laku etik tidak boleh dibaca secara tunggal. Deviasi etik bisa lahir dari banyak sebab. 

Kebiasaan buruk yang dibiarkan, gaya hidup yang kehilangan proporsi, relasi yang terlalu dekat, konflik kepentingan yang diabaikan, budaya yang permisif, keteladanan yang redup, pengawasan melekat yang datang terlambat, dan lainnya. 

Dengan kata lain, masalah deviasi etik bukan hanya karena orang tidak tahu, melainkan juga karena nilai etik yang diketahuinya itu belum menjelma menjadi habitus, belum mewujud menjadi karakter dan belum menjadi kecenderungan batin yang spontan menjaga diri dari hal-hal yang tidak patut.

Saat etika berhenti pada kulit kognitif, akan mudah kalah oleh sesuatu kondisi. Di forum, orang bisa terdengar begitu meyakinkan, tetapi goyah ketika berhadapan dengan pilihan yang menguntungkan. 

Padahal penyimpangan jarang dimulai dari sesuatu yang langsung besar. Lebih sering berawal dari kelonggaran kecil, dari jarak yang tidak lagi dijaga, dari toleransi atas sesuatu yang dianggap “sekali ini saja” atau dari pembenaran bahwa “yang lain juga begitu”. 

Lama-kelamaan, yang semula tidak patut tampak seolah-olah wajar, yang semula janggal menjadi biasa.

Nilai Etik Harus Menjadi Watak

Di sinilah, internalisasi nilai etik tidak cukup dipahami sebagai proses mendengar. Ia harus sampai menjadi bagian dari diri. Nilai etik baru benar-benar bekerja ketika ia menetap sebagai kebiasaan: kebiasaan berpikir, bersikap, dan bertindak. Orang yang watak etiknya telah terbentuk, biasanya tidak memerlukan banyak dalih untuk menolak yang tidak patut. Penolakannya lahir dari latihan yang terus-menerus, dari disiplin yang dirawat, dari rasa malu batin yang tidak mati, dari muhasabah –kesediaan mengoreksi diri sebelum dikoreksi orang lain.

Puasa dapat menjadi titik tolak bagi pembentukan watak etik itu. Ia melatih sabar –pengendalian diri, muhasabah, kejujuran dan qona’ah. Namun bekal itu akan cepat menguap bila tidak dilesakkan ke dalam kebiasaan konkret setelah Ramadan berlalu. Karena itu, nilai menahan diri harus turun menjadi kebiasaan menolak yang tidak patut. Nilai muhasabah harus turun menjadi keberanian memeriksa motif pribadi. Nilai kejujuran harus turun menjadi keterbukaan dalam relasi dan kepentingan. Nilai qona’ah harus turun menjadi cara hidup yang tidak memberi ruang bagi pembenaran atas jalan pintas yang menyimpang.

Laku Etik Butuh Ekosistem

Namun, manusia tidak hidup sendirian. Watak etik yang baik tetap memerlukan pagar. Dengan demikian, puasa sebagai latihan spiritual, integritas sebagai nilai etik, pembiasaan sebagai proses pembentukan karakter dan pengawasan sebagai mekanisme kelembagaan harus diletakkan dalam hubungan yang saling menopang. 

Spiritualitas memberi kedalaman batin, etika memberi arah, pembiasaan membuat arah itu menetap dalam watak dan pengawasan menjaga agar kelemahan manusia tidak dibiarkan berkembang terlalu jauh menyimpang.

Di sinilah lembaga berperan. Internalisasi kode etik tidak cukup dibebankan pada seruan moral saja. Bentuknya perlu ditopang oleh keteladanan pimpinan, role model atasan langsung, budaya organisasi yang sehat, pemetaan titik-titik rawan, pembinaan yang hidup serta penegakan etik yang adil dan konsisten. 

Pesan etik akan kehilangan daya, ketika apa yang diucapkan di forum tidak berbanding lurus dengan yang tampak dalam kesehariannya. 

Sebaliknya, teladan yang tenang, jujur, dan ajeg sering lebih efektif daripada nasihat yang fasih.

Maka, pasca-Ramadan, pembinaan etik idealnya tidak berhenti pada seruan moral. Ia perlu diperkaya dengan dialog reflektif yang jujur, latihan membaca dilema etik, mitigasi atas titik-titik rawan deviasi, serta penguatan budaya kerja yang sehat. 

Sebab integritas pada akhirnya tidak terutama dibangun ketika orang berbicara tentangnya, melainkan saat orang membiasakan dirinya hidup di dalamnya.

Tetap Menjaga Nyala 

Pada akhirnya, puasa memang bukan jawaban tunggal. Namun puasa tetap menawarkan pelajaran mendasar, di mana manusia yang terlatih menahan dirinya lebih mungkin mampu menjaga amanah. 

Dengan demikian, kode etik jangan dipandang semata sebagai daftar kewajiban dan larangan. 

Kode etik pada dasarnya adalah pagar kebijaksanaan. Ia disusun oleh "the framers of the code" bukan untuk mempersulit hidup, melainkan untuk menyelamatkan hidup, menenangkan batin, menjaga martabat profesi, melindungi keluarga dan merawat kepercayaan pencari keadilan, serta menjaga kehormatan lembaga.

Maka, pasca-Ramadan, yang kita perlukan bukan sekadar rasa puas telah menunaikan ibadah sebulan, melainkan keberanian untuk menanyakan imbasnya dalam diri kita, apakah puasa membuat kita lebih jujur, lebih waspada pada motif, lebih tertib menjaga batas, malu menoleransi yang tidak patut, siap dikoreksi, dan ringan menolak yang salah meskipun datang dengan wajah yang simpatik?

Puasa memang berakhir dalam penanggalan. Tetapi bila pengendalian diri, muhasabah, dan penjagaan batas etika profesi juga ikut selesai bersamanya, maka puasa mudah tinggal sebagai ritual yang lewat, tanpa bekas yang cukup. 

Padahal peradilan membutuhkan orang-orang yang sesudah  berpuasa, memiliki bekal lebih mampu berkata tidak terhadap yang tidak pantas, lebih teguh menjaga batas amanah, dan lebih jujur mendengar suara nurani.


Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp : MARINews.

Penulis: Aminal Umam
Editor: Tim MariNews