MARINews, Bolaang Mongondow – Setiap daerah selalu memiliki keunikan tradisinya. Diantaranya tradisi yang dilakukan dalam menyambut bulan suci ramadhan, baik yang dilakukan di awal, pertengahan maupun akhir ramadhan.
Salah satunya di daerah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang memiliki tradisi lebaran ketupat.
Lebaran ketupat telah menjadi warisan budaya yang terus dirawat masyarakat. Perayaan ini biasanya dilaksanakan satu minggu setelah Idulfitri, sebagai penutup rangkaian hari raya dengan nuansa khas lokal.
Pada perayaan lebaran ketupat ini, warga menyiapkan banyak makanan yang akan disajikan berupa aneka ketupat, lauk-pauk, dan kue tradisional yang disediakan untuk tamu yang datang singgah untuk bersilaturahmi.
Suasana akrab terasa begitu kental saat perayaan ini dilaksanakan.
Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang terutama para pemudik yang melintasi jalan trans Sulawesi.
Pemudik bisa makan secara langsung pada rumah atau tenda-tenda yang tersedia, tuan rumah terkadang membungkuskan makanan untuk dibawa pemudik dalam perjalananya menuju tujuan.
Lebaran Ketupat juga menjadi sarana untuk mempertemukan warga yang merantau dan kembali pulang ke kampung halaman.
Momen inilah, yang dimanfaatkan untuk kembali menyapa, bercengkerama, dan menguatkan kembali ikatan yang mungkin sempat longgar karena kesibukan, jarak dan waktu.
Tidak hanya itu, kegiatan ini jadi wadah strategis untuk mempererat koordinasi antar perangkat desa dan masyarakat, serta memperkuat nilai gotong royong yang menjadi identitas masyarakat bolaang mongondow.
Makna Filosofis Ketupat
Melansir Wikipedia, kata "ketupat" sendiri sarat akan makna. Bungkusnya yang dibuat dari janur kuning dimaknai sebagai penolak bala.
Bentuk segi empatnya melambangkan prinsip Jawa “kiblat papat lima pancer”, yakni ke mana pun arah hidup manusia, akan selalu kembali kepada Allah.
Rumitnya anyaman janur dari ketupat mencerminkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara warna putih beras di dalamnya melambangkan kesucian setelah saling memaafkan.
Isi ketupat berupa beras juga menjadi lambang kemakmuran yang diharapkan setelah Hari Raya Idul Fitri.
Berkaitan dengan hal tersebut, ketupat menjadi simbol “maaf” bagi masyarakat Indonesia. Tak heran, hari raya Idul fitri maupun lebaran, identik dengan makanan ketupat tersebut.
Ketupat bukan sekadar kuliner pasca Idul Fitri, tetapi juga media refleksi, permohonan maaf, dan penguatan ikatan sosial.
Seperti kata Sunan Kalijaga, melalui ketupat manusia diajak untuk kembali kepada fitrah, melalui pengakuan, pengampunan, dan kebersamaan.
Melalui lebaran ketupat, tradisi ini menjadi penting untuk terus dirawat. Sebab di sinilah akar budaya dan kekuatan sosial masyarakat tumbuh, dalam tawa yang dibagi bersama, dalam ketupat yang disantap bersama, dan hati yang saling terbuka untuk saling memaafkan, serta menyatu kembali sebagai satu keluarga besar.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp : MARINews





