MARINews, Bawean-Nuansa khas selalu hadir dalam suasana Ramadhan di Pulau Bawean, yang terletak di tengah laut Jawa.
Pulau yang hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dan udara tersebut, selalu memancarkan semangat religius yang kuat pada setiap datangnya bulan suci. Ramadhan di Bawean terasa lebih hangat, karena kehidupan sosial masyarakat yang masih sangat erat.
Bagi masyarakat Bawean, Ramadhan bukan sekedar kewajiban ibadah tahunan, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan dan menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Menjelang sore hari, aktivitas masyarakat mulai berubah. Jalan-jalan menjadi lebih hidup, karena bersiap menyambut waktu berbuka.
Banyak masyarakat yang menjajakan hidangan berbuka puasa, di mana kebanyakan berbahan dasar ikan. Sementara masjid dan mushala dipenuhi jamaah yang menanti azan Maghrib.
Salah satu tradisi yang paling menarik dan masih terus dilestarikan adalah tradisi meriam sebagai penanda waktu berbuka puasa.
Tradisi ini, dapat dijumpai di halaman Masjid Sa'adatuddarain, Sangkapura, Pulau Bawean.
Setiap menjelang Maghrib, warga menyiapkan meriam besi yang diisi bahan bakar sedemikian rupa untuk menghasilkan dentuman keras yang dapat terdengar hingga penjuru Pulau Bawean.
Dentuman meriam tersebut, bukan sekadar hiburan, melainkan penanda bagi masyarakat bahwa waktu berbuka telah tiba.
Saat suara ledakan meriam menggema di sekitar masjid dan perkampungan, warga yang menunggu di rumah jalan, maupun sekitar masjid segera bersiap menikmati hidangan berbuka puasa.
Tradisi dimaksud, menjadi simbol kebersamaan masyarakat Bawean dalam menyambut waktu berbuka. Anak-anak biasanya berkumpul untuk menyaksikan proses penyalaan meriam, sementara para orang tua menjaga agar tradisi tersebut tetap aman dan tertib.
Momen ini, seringkali menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi perantau Bawean yang pulang kampung saat Ramadhan.
Selain tradisi meriam, kegiatan keagamaan di Bawean juga berlangsung dengan sangat semarak. Setelah berbuka puasa, masyarakat berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat Maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan salat Isya dan tarawih.
Suasana masjid selalu dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Tradisi tadarus Al-Qur’an juga menjadi bagian penting dari kehidupan Ramadhan di Bawean.
Di banyak masjid dan mushala, para remaja hingga orang tua berkumpul selepas tarawih untuk membaca Al-Qur’an secara bergiliran.
Aktivitas tersebut, sering berlangsung hingga larut malam, menciptakan suasana religius yang kental di setiap sudut desa.
Bagi Pulau Bawean yang masyarakatnya dikenal gemar merantau, Ramadhan juga memiliki makna emosional tersendiri.
Banyak warga yang bekerja di luar negeri atau daerah lain, seperti perantau Malaysia dan Singapura yang selalu berusaha pulang untuk merasakan kembali suasana Ramadhan di kampung halaman.
Kebiasaan sederhana seperti berbuka bersama keluarga, tarawih di masjid desa, hingga mendengar dentuman meriam menjadi kenangan yang sangat dirindukan.
Keberadaan Pulau Bawean yang menjadi salah satu Pulau terluar tidak pernah menjadi penghalang bagi masyarakatnya untuk menjalankan ibadah dengan penuh semangat.
Justru keterbatasan geografis tersebut, melahirkan kekuatan solidaritas sosial dan spiritual yang begitu terasa, terutama selama bulan suci.
Ramadhan di Pulau Bawean pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menjaga tradisi, memperkuat kebersamaan, dan merawat nilai-nilai keislaman yang telah hidup lama di tengah masyarakat.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews





