MariNews, Jakarta - Terdapat sebuah kenangan yang masih lekat dalam ingatan, hari itu 01 April 2019 adalah hari pertama saya memulai langkah sebagai Aparatur Sipil Negara dilingkungan Peradilan Militer, udara di lingkungan Pengadilan Militer terasa berbeda dan terasa asing. Bagaimana tidak, saya lahir dari lingkungan yang tidak pernah berkaitan dengan dunia militeristik, Langkah kaki saya yang pertama kali menginjakkan kaki di dunia hukum militer disambut oleh sebuah pemandangan yang tak biasa. Di sana, berdiri seorang perwira menengah dengan melati tiga di pundaknya (pangkat beliau saat itu adalah Kolonel). Namun, alih-alih kesan kaku dan dingin yang biasa menyertai atribut militer, yang saya temukan adalah sebuah senyuman. Senyum itu ramah, tulus, dan meninggalkan kesan mendalam yang sulit dihapus oleh waktu. Menjelaskan dengan lembut bahwa saya berdinas di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Hari itu saya paham beliau adalah Kepala Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Kolonel Laut (KH/W) Tuty Kiptiani, sosok yang kemudian mengingatkan tentang sosok yang luar biasa, sosok dengan penuh takzim: Ibu Kunthi.
Dalam setiap tarikan napas pengabdiannya, Saya memandang Ibu Tuty adalah personifikasi dari kasih sayang yang tak bertepi. Beliau menyayangi semua orang di sekelilingnya tanpa memandang kasta jabatan. Layaknya Dewi Kunthi dalam wiracarita Mahabharata yang mengayomi para Pandawa di tengah badai ujian, Ibu Tuty hadir sebagai peneduh bagi kami semua. Beliau memandang setiap rekan kerjanya bukan sekadar angka dalam barisan personel, melainkan sebagai individu yang memiliki jiwa dan kasih sayang.
Keikhlasan dan kebahagiaan seolah menjadi napas dalam setiap tindakan dan tutur katanya. Beliau tidak pernah membeda-bedakan apakah seseorang itu adalah seorang Perwira, Prajurit biasa, PNS, atau bahkan rekan-rekan PPPK. Di mata beliau, semua memiliki martabat yang sama dalam bingkai keluarga besar Pengadilan Militer. Inilah kekuatan utama beliau, kemampuan untuk memanusiakan manusia di balik seragamnya yang gagah.
Salah satu pelajaran kepemimpinan yang paling berharga dari beliau adalah cara beliau meluruskan yang bengkok. Di dunia militer yang serba tegas, Ibu Tuty memiliki metode yang sangat luhur. Beliau selalu mengawali tegurannya dengan sebuah pujian. Beliau menemukan kebaikan terkecil dalam diri seseorang sebelum menunjukkan letak kekhilafannya. Tak pernah ada kata-kata yang mempermalukan di depan umum. Tak pernah ada amarah yang menghancurkan harga diri.
Beliau memandang setiap "anaknya" sebagai pribadi yang unik dengan kelebihan masing-masing. Bagi beliau, setiap orang adalah mutiara yang hanya perlu dibersihkan dari debu agar bisa bersinar kembali. Ketegasan beliau makin terlihat saat menjabat sebagai Kepala Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta pada tahun 2024, beliau tidak hadir sebagai ancaman, namun sebagai bentuk tanggung jawab seorang ibu yang ingin melihat anak-anaknya berjalan di jalur yang benar. Saat beliau memimpin, sistem tercipta bukan karena rasa takut, melainkan karena tumbuhnya kesadaran di dalam sanubari kami masing-masing.
Sejatinya, ada sebuah momen yang mengoyak hati kami semua, sebuah peristiwa yang membuktikan betapa dalam cinta beliau kepada institusi dan orang-orang di dalamnya. Ada hari, ketika keadaan mengharuskan beliau berpindah tugas ke Pengadilan Militer Utama (Dilmiltama), kami melihat pemandangan yang sangat manusiawi. Ibu Tuty menangis. Air mata itu jatuh bukan karena kehilangan jabatan, melainkan karena beratnya berpisah dengan keluarga yang ia bangun dengan hati.
Di titik itulah saya menyadari sepenuhnya bahwa beliau sangat mencintai kami. Tangisnya adalah bukti bahwa setiap dari kami telah mendapatkan tempat di dalam doanya. Beliau mencintai kami sebagaimana Ibu Kunthi mencintai para Pandawa sebuah cinta yang siap berkorban dan selalu merindukan kepulangan anak-anaknya dalam keadaan selamat dan terhormat. Dalam kisah pewayangan, dunia mungkin lebih banyak mengenang keberanian Pandawa atau kelicikan Kurawa, namun sedikit yang menyadari bahwa kekuatan sejati Pandawa bersumber dari doa dan kehadiran Ibu Kunthi yang tak pernah absen di balik layar. Begitulah Ibu Tuty bagi kami beliau adalah energi tak terlihat yang membuat kami tetap berdiri tegak.
Harus diakui tanpa beliau sadari, beliau adalah guru kehidupan yang mengajarkan bahwa perubahan sejati hanya bisa dilakukan dengan niat yang tulus. Ketulusan sebagai motor perubahan dimana Beliau sering mengingatkan sebuah prinsip yang hingga kini terngiang jelas di telinga saya: "Kalau mau, ada banyak cara; namun jikalau tidak mau, akan selalu ada alasan." Kalimat sederhana ini adalah tamparan sekaligus motivasi bagi kami untuk berhenti mencari alasan dan mulai mencari jalan keluar.
Beliau tidak pernah mengeluh dengan apapun yang dilakukan oleh anak-anaknya. Beliau menerima setiap tantangan dengan lapang dada, sembari terus menanamkan nilai bahwa bekerja adalah ibadah, dan ini senantiasa ditekankan beliau dalam sambutan kegiatan yasinan dikantor pada setiap bulannya. Melalui keteladanan, beliau mengubah budaya kerja dari sekadar menggugurkan kewajiban menjadi sebuah pengabdian yang memiliki nilai rasa. Beliau menciptakan sistem yang bekerja secara mandiri karena setiap orang di dalamnya telah memiliki kesadaran kolektif untuk berbuat yang terbaik.
Bagi sebagian orang, purna bakti mungkin hanyalah sebuah seremoni formalitas. Sebuah upacara untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan, diikuti dengan jabat tangan dan foto bersama. Namun, bagi saya dan mungkin bagi banyak orang di Dilmilti, purna bakti Ibu Tuty adalah sebuah kehilangan yang teramat besar.
Pada akhirnya, meskipun berat Kita harus kehilangan sosok ibu yang senantiasa tersenyum bangga atas setiap pencapaian kecil yang kita raih. Kita kehilangan tempat mengadu yang selalu menyediakan telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami. Ruang-ruang di kantor mungkin akan tetap sama, kursi kepemimpinan akan segera terisi kembali, namun kehangatan yang ditinggalkan oleh "Sang Ibu Kunthi" yang mungkin tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.
Selamat memasuki masa purna tugas, Laksamana Pertama TNI Tuty Kiptiani. Ketahuilah Ibu telah menyelesaikan perjalanan panjang dinas ini dengan kepala tegak dan hati yang bersih. Meski secara administrasi pengabdian ini telah berakhir, namun di hati kami, Ibu tetaplah cahaya yang akan terus membimbing langkah kami melalui nilai-nilai yang telah Ibu tanamkan. Terima kasih telah menjadi ibu bagi kami, terima kasih telah mengajarkan kami cara mencintai tugas dengan hati. Doa kami akan selalu menyertai setiap langkah Ibu di masa depan, agar kebahagiaan yang Ibu tebar selama ini kembali kepada Ibu dalam jumlah yang berlipat ganda dan dimanapun ibu berada.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews