Rontek, Tradisi Bangunkan Sahur Masyarakat Pacitan

Tradisi rontek di Pacitan meriahkan Ramadan, dari kentongan sahur hingga festival seni budaya yang jadi ikon daerah dan penggerak wisata lokal.
  • view 129
(Foto: Tradisi Rontek di Pacitan | Dok. Istimewa)
(Foto: Tradisi Rontek di Pacitan | Dok. Istimewa)

MARINews, Pacitan - Masyarakat Pacitan memiliki satu tradisi unik yang dapat dijumpai selama bulan Ramadan, yakni “rontek”. Rontek adalah kegiatan yang bertujuan untuk membangunkan masyarakat guna makan sahur selama bulan Ramadan dengan menggunakan alat musik tradisional berupa kentongan dari bambu.

Rontek berasal dari 2 (dua) kata, yaitu “ronda” dan “thektek”. Ronda merupakan kegiatan berjalan keliling atau patroli pada malam hari untuk menjaga keamanan. Sedangkan, thektek, artinya bunyi yang dihasilkan dari kentongan yang terbuat dari bambu dengan panjang sekitar 50 cm dan dilubangi pada bagian tengahnya. Sedangkan, cara memainkannya adalah dengan cara dipukul, sehingga menghasilkan suara atau alunan musik yang sangat unik dan indah.

Dalam perjalanannya, rontek ini tidak hanya dimainkan dengan menggunakan kentongan dari bambu saja, tetapi juga dilengkapi dengan alat musik yang lain, seperti: gendang, gamelan, gong, kenong, suling, saron, dan lain sebagainya. Bahkan saat ini rontek juga dikombinasikan dengan alat musik modern, seperti saxophone maupun bass drum. 

Rontek biasanya dimainkan oleh sekelompok orang yang terdiri dari penabuh, penyanyi, dan juga penari. Permainan rontek ini sangat mengutamakan kekompakan dan keserasian dari para pemainnya.

Pada awalnya, rontek hanya digunakan sebagai sarana membangunkan orang sahur guna melaksanakan ibadah puasa ramadan atau sebagai media komunikasi untuk memanggil warga ke dalam suatu acara atau memberikan sinyal tanda akan adanya bahaya. Namun, lambat laun rontek telah bertransformasi dari kegiatan warga sederhana untuk membangunkan orang sahur menjadi pertunjukan festival seni yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dan pelestarian budaya, tetapi juga menjadi promosi wisata bagi Kabupaten Pacitan dan penggerak ekonomi lokal. 

Saat ini rontek telah menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Pacitan. Sebab, sejak tahun 2011 rontek mulai dilombakan dalam suatu festival kreasi seni tari yang dinamis secara rutin setiap tahun ketika memasuki bulan ramadan. Lomba rontek biasanya diikuti oleh perwakilan dari  setiap Desa/Kelurahan se-Kabupaten Pacitan. Bahkan, Festival Rontek Gugah Nagari yang diselenggarakan pada tahun 2011 lalu tercatat ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil diikuti oleh 2.818 orang.

Festival rontek merupakan salah satu khazanah seni budaya yang sangat menarik. Sebab, pesertanya tidak hanya akan berdandan layaknya pawai 17 Agustus-an, tetapi kendaraan yang digunakan oleh masing-masing kelompok juga didekorasi menjadi aneka macam bentuk yang sangat kreatif. Festival rontek biasanya akan berlangsung selama berhari-hari pada malam hari. Festival rontek adalah bagian dari upaya untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya serta memperkenalkannya kepada generasi muda di Kabupaten Pacitan.

 

Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews

Penulis: Ubed Bagus Razali
Editor: Tim MariNews