Syaikhona Kholil Bangkalan: Maha Guru Ulama Besar Nusantara

Syaikhona Kholil menanamkan kepada para santri, bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Semangat inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjuangan kemerdekaan. (Artikel Serba Serbi Ramadhan Hari Kedelapan)
Foto ramainya peziarah di Masjid dan Makam Syaikhona Kholil Bangkalan. Dokumentasi Penulis
Foto ramainya peziarah di Masjid dan Makam Syaikhona Kholil Bangkalan. Dokumentasi Penulis

Profil Syaikhona Kholil Bangkalan
Dalam sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, peran ulama tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kemerdekaan. 

Diantara deretan ulama, ada satu tokoh sentral yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk wajah keislaman Nusantara, yakni Syaikhona Kholil.  

Sosoknya menempati posisi sangat istimewa, bukan hanya seorang guru, melainkan  maha guru yang melahirkan generasi ulama besar Nusantara, diantaranya Hasyim Asy'ari yang merupakan pendiri organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). 

Gelar maha guru Ulama Nusantara disematkan pada sosoknya, karena jaringan muridnya menyebar dan menjadi penggerak dakwah perjuangan di berbagai daerah pada saat zaman pra-kemerdekaan Indonesia. 

Selain itu, keteladanan, keilmuan, dan perjuangannya di bidang pendidikan menjadikan Syaikohna Kholil Bangkalan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2025 lalu.

Jejak Kehidupan dan Perjalanan Ilmu
Syaikhona Kholil lahir di Bangkalan, Pulau Madura tanggal 9 Safar 1252 H /25 Mei 1835 M. 

Sejak kecil, ia menunjukkan kecintaan mendalam terhadap ilmu agama. Perjalanan intelektualnya membawanya belajar ke berbagai pesantren di daerah nusantara hingga ke tanah suci, Makkah. 

Di sana, Syaikhona Kholil berguru kepada para ulama besar dan memperdalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari fikih, tafsir, hingga tasawuf. 

Setelah kembali ke tanah air, ia mendirikan pesantren di Bangkalan yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam terkemuka. Dari pesantren inilah lahir tokoh-tokoh besar yang akhirnya memimpin organisasi perjuangan umat di Indonesia, seperti NU. Syaikhona Kholil tutup usia ketika berusia 105 tahun atau dikebumikan pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H /14 Mei 1923 M. 

Peran dalam Perjuangan dan Gelar Pahlawan Nasional
Pada masa penjajahan Belanda, pesantren sering menjadi basis pembinaan mental dan spiritual untuk menumbuhkan keberanian melawan ketidakadilan. 

Syaikhona Kholil menanamkan kepada para santri, bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Semangat inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjuangan kemerdekaan. 

Kontribusinya dalam membangun jaringan ulama, membentuk karakter bangsa, dan menanamkan nilai perjuangan membuat pemerintah Republik Indonesia menetapkan dirinya sebagai Pahlawan Nasional. 

Kehidupan Spiritual dan Karomah Syaikhona Kholil
Dalam tradisi Islam, Karomah bukanlah sesuatu yang dicari atau dipamerkan. Wujudnya seperti mukjizat atau dikenal sebagai anugerah dari Allah SWT kepada para wali sebagai tanda kedekatan mereka kepadanya. 

Karomah tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari keistiqamahan dalam ibadah, ketulusan hati, dan pengabdian tanpa pamrih kepada umat. 

Syaikhona Kholil dikenal sebagai sosok yang zuhud dan memiliki kedalaman spiritual luar biasa. Banyak kisah karomah yang melekat pada dirinya. 

Menurut beberapa sumber, beberapa Karomah Syaikhona Kholil, seperti pernah berada di tempat lain saat mengajar di pesantren, maha guru Kholil hafal 3 kitab dengan cara berguru dalam mimpi, ada juga Karomah menakjubkan saat ditangkap Belanda, dan beberapa Karomah lainnya.

Warisan Abadi untuk Generasi Kini
Setiap hari ada ratusan hingga ribuan peziarah dari berbagai pelosok tanah air mendatangi area masjid dan makam Syaikhona Kholil di Kabupaten Bangkalan. 

Para pengunjung tidak hanya untuk berziarah, namun juga untuk mengenal dan memahami keteladanannya. 
Keteladanan Syaikhona Kholil telah mengajarkan banyak ulama nusantara dan santri, akan makna dari semangat belajar tanpa henti, keikhlasan dalam mengabdi, keteguhan dalam memegang prinsip-prisip agama dan penanaman sikap cinta tanah air. 

Hingga saat ini, warisan intelektualnya masih terus hidup dalam tradisi pesantren di Indonesia, melalui sistem pendidikan yang menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu agama, pembentukan karakter, dan tanggung jawab sosial. 

Rasa-rasanya nilai fundamental yang beliau ajarkan tersebut sangat relevan dan dibutuhkan ditengah derasnya pengaruh era modern ini, khususnya bagi generasi muda dalam menghadapi realita dan krisis moral-integritas yang terjadi belakangan ini. 

Penutup
Syaikhona Kholil bukan hanya tokoh sejarah yang dikenang lewat cerita dan ziarah, tetapi juga sosok teladan yang ajarannya masih terasa hingga sekarang. 

Sosoknya menunjukkan semangat belajar yang kuat, pemahaman agama yang luas, akhlak yang baik, dan rasa cinta kepada tanah air adalah kunci untuk membangun bangsa. 

Dari Madura untuk seluruh Nusantara, Syaikhona Kholil menjadi bukti ilmu, akhlak, dan cinta tanah air jika disatukan dapat menjadi kekuatan besar yang membawa perubahan bagi Sejarah.

Daftar Referensi
1.    Azra, Azyumardi. 2012. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.
2.    Muhammad Husni Tamami. 2024. “Kisah Mbah Kholil Bangkalan Berguru dalam mimpi langsung Hafal 3 Kitab, Karomah Wali”. Diakses melalui: https://www.liputan6.com/islami/read/5585808/kisah-mbah-kholil-bangkalan-berguru-dalam-mimpi-langsung-hafal-3-kitab-karomah-wali.
3.    Muhammad Husni Tamami. 2024. “Kisah Penjajah Belanda Kewalahan Hadapi Keanehan Mbah Kholil Bangkalan di  Tahanan, Kisah Karomah wali”. Diakses melalui: https://www.liputan6.com/islami/read/5676308/kisah-penjajah-belanda-kewalahan-hadapi-keanehan-mbah-kholil-bangkalan-di-tahanan-kisah-karomah-wali.
4.    Nahdlatul Ulama. 2025. “Syaikhona Kholil Bangkalan, Pahlawan Nasional dan Simpul Keilmuaan Islam di Nusantara”. Diakses melalui: https://www.nu.or.id/tokoh/syaikhona-kholil-bangkalan-pahlawan-nasional-dan-simpul-keilmuan-islam-di-nusantara-u8i61.
5.    Pemerintah Republik Indonesia. 2025. Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Jakarta: Sekretariat Negara.
6.    Ryan Syarif Hidayatullah. 2025. “Biografi dan jejak Perjuangan Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional”. Diakses melalui: https://jatim.nu.or.id/tokoh/biografi-dan-jejak-perjuangan-syaikhona-kholil-sebagai-pahlawan-nasional-EOzXl.
7.    Tim Penulis Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. 2010. Biografi Syaikhona Kholil Bangkalan: Mahaguru Ulama Nusantara. Bangkalan: Penerbit Pesantren Syaikhona Kholil.
 

Penulis: Wienda Kresnantyo
Editor: Tim MariNews