Thamrin dan Perjuangan Batalkan Aturan Kolonial

Ia aktif menolak pemberlakuan peraturan perundang-undangan yang merugikan kepentingan rakyat bumiputera. Beberapa pemberlakuan perundang-undangan yang ditolak dan akhirnya dicabut, antara lain ordonansi sekolah liar atau (Wilde Scholen Ordonantie) 1932.
Patung MH Thamrin di pusat kota Jakarta. Dokumentasi galeri nasional
Patung MH Thamrin di pusat kota Jakarta. Dokumentasi galeri nasional

Besok 16 Februari, akan dikenang sebagai hari kelahiran seorang tokoh nasional yang namanya diabadikan menjadi ruas utama jalan Jakarta. Tokoh nasional dimaksud, bernama Mohammad Husni Thamrin. 

Bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, tentu akrab dengan nama jalan dan wilayah sentra perekonomian Indonesia bernama MH.Thamrin.

Wilayah yang diatasnya, berdiri kantor pemerintahan, pusat ekonomi nasional dan  berbagai gedung pencakar langit.

Bahkan patungnya berdiri kokoh berdekatan dengan istana negara dan pusat pemerintahan lainnya.

Thamrin dikenal sebagai pahlawan nasional berdarah Betawi yang berjuang di Volksraad (Parlemen bentukan pemerintah kolonial Hindia Belanda). Ia masuk dan bergabung menjadi anggota Volksraad, pada tanggal 16 Mei 1927.

Meskipun anggota Volksraad, dirinya bukanlah tokoh yang mengikuti garis politik kolonial. Volksraad diubahnya menjadi panggung perjuangan kepentingan rakyat bumiputera. 

Pergerakan nasional dan tekad memperjuangkan kaum bumiputera, telah “mendarah daging” pada diri Thamrin, sebelum menjadi anggota Volksraad.

Ia, bersahabat dekat dengan para keturunan Belanda yang bersimpati pada penderitaan rakyat Hindia Belanda. Para sahabatnya antara lain Daan Van Der Zee, Sam Koperberg dan Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi).

Masa Kecil MH Thamrin

Thamrin lahir dan tumbuh dari keluarga pejabat yang memiliki keturunan Eropa.

Kakeknya merupakan pebisnis berdarah Inggris yang memiliki Hotel bernama Ort De Rijwick Batavia di daerah Petojo.

Ayahnya juga seorang pembesar era penjajahan, yang menjabat sebagai wedana Batavia pada tahun 1908. 

Sosok yang lahir di daerah Sawah Besar, tanggal 16 Februari 1894 mengenyam pendidikan Belanda, di mana berbeda dengan mayoritas anak rakyat bumiputera. 

Meskipun besar di lingkungan pendidikan Belanda, tidak membuat Thamrin kecil jauh dari pergaulan rakyat bumiputera.

Thamrin kecil, lebih memilih bermain dengan anak bumiputera dari kalangan bawah. Ia akrab dengan anak penjual nasi, penjual bunga untuk ziarah kubur dan kelompok kecil lainnya.

Bahkan sosok, yang memiliki perawakan blasteran Eropa terbiasa mandi bersama anak bumiputera lainnya di Sungai Ciliwung.

Sikap pro dan dekat dengan kehidupan bumiputera sejak kecil, membuatnya gigih berjuang untuk kepentingan pergerakan nasional dan rakyat bumiputera, melalui berbagai forum yang digelutinya.

Pergerakan Nasional dan Perjuangan di Volksraad
Ayah Thamrin yang merupakan Wedana Batavia, menginginkan Thamrin muda menjadi seorang ambtenaar (pegawai negeri).

Thamrin muda awalnya magang di kantor Kepatihan dan Karisidenan Betawi. 

Namun, ia tidak menyukai pekerjaan dimaksud dan memutuskan resign. Selanjutnya Thamrin memilih bekerja di KPM (perusahaan kapal) milik Belanda.

Disanalah, Thamrin mengenal dengan Daan Van Der Zee, seorang tokoh Belanda yang giat mengkritik sistem penjajahan dan memperjuangkan keadilan bagi rakyat terjajah di Hindia Belanda.

Kemudian Thamrin terplih menjadi anggota Gementeraad (Dewan Kota atau DPRD) Batavia, pada tanggal 29 Oktober 1919.

Dari gedung Gementeraad, dirinya aktif memperjuangkan kepentingan rakyat Betawi. 

Tidak lama kemudian Thamrin mendirikan perkumpulan masyarakat Betawi tahun 1923 dan PPPKI (Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) tahun 1927.

PPPKI sendiri di dalamnya tergabung organisasi sosial dan politik yang aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menyuarakan keadilan bagi rakyat bumiputera.

Organisasi anggota PPPKI antara lain Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Kelompok Studi Indonesia, Paguyuban Pasundan, Jong Sumatranen Bond dan Pemuda Kaum Betawi. 

Pada tahun 1927, Thamrin lanjutkan perjuangannya dengan jadi anggota Parlemen (Volksraad). 

Ia aktif menolak pemberlakuan peraturan perundang-undangan yang merugikan kepentingan rakyat bumiputera.

Beberapa pemberlakuan perundang-undangan yang ditolak dan akhirnya dicabut, antara lain ordonansi sekolah liar atau (Wilde Scholen Ordonantie) 1932.

Ordonansi tersebut, ditujukan untuk membatasi sekolah yang digagas tokoh kebangsaan, seperti Taman Siswa milik Ki Hadjar Dewantara yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial dikarenakan mengajarkan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan.

Demikian juga, Thamrin aktif menolak sanksi pidana dalam Ordonantie Koeli. Sanksi pidana yang ditujukan kepada pekerja yang tidak bekerja (mangkir).

Bahkan suara lantangnya mendunia dan mengakibatkan Eropa serta Amerika mengancam akan memboikot tembakau dari Hindia Belanda, karena adanya sanksi pidana dalam ketentuan dimaksud. 

Akhirnya sanksi pidana dicabut oleh pemerintah Hindia Belanda, dalam Ordonantie Koeli

Di dalam Volksraad tersebut, Thamrin bergabung dengan fraksi nasional yang juga menggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam persidangan Volksraad. 

Meskipun Usulan Thamrin dan Fraksi Nasional mendapatkan pertentangan dari anggota Volksraad keturunan  Belanda.

Kegigihannya memperjuangkan nasib bumiputera, membuat dirinya harus merasakan dinginnya status tahanan rumah dari pemerintah Hindia Belanda.

Ia wafat dalam status tahanan rumah pada tanggal 11 Januari 1941, akibat sakit yang tidak memadai penanganannya karena status Thamrin sebagai seorang tahanan. 

Semoga jasa dan perjuangan Thamrin, bisa diteladani bagi para generasi penerus bangsa.

Sumber Referensi
1.    Anhar Gonggong, Muhammad Husni Thamrin, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1985.
2.    Octria Dwi Hastuti,dkk, Identifikasi Peran Politik Muhammad Husni Thamrin Tahun 1919-1941 Sebagai Pengembangan Materi Sejarah Indonesiadi Kelas XI SMA, Jurnal Penelitian Pendidikan Pedagogia, Vol. 23, No. 1,  Februari 2020.
3.    https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1180-mengenal-m-h-thamrin-sosok-pahlawan-nasional-tokoh-pendidikan-dan-kebudayaan-pergerakan-kebangsaan
4.    https://tirto.id/husni-thamrin-pahlawan-betawi-yang-berjuang-di-volksraad
5.    https://vredeburg.id/id/post/mh-thamrin-pejuang-kooperatif-dari-betawi-yang-dermawan
  

Penulis: Adji Prakoso
Editor: Tim MariNews