Puasa Sebagai Kendali Panca Indra

Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum spiritual untuk memperkuat iman dan takwa melalui pengendalian diri yang menyeluruh.
(Foto: Ilustrasi Puasa | Dok. https://koransulindo.com/)
(Foto: Ilustrasi Puasa | Dok. https://koransulindo.com/)

Puasa yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Ramadhan menjadi suatu momen bagi manusia untuk menambah iman dan takwa. Selama kurang lebih sebelas bulan kondisi keimanan dan ketakwaan seseorang menurun drastis karena gangguan-gangguan duniawi. Esensi puasa itu pada dasarnya yakni menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sebagian orang berasumsi bahwa puasa intinya yaitu menahan makan dan minum. Akan tetapi yang lebih krusial puasa yaitu menahan segala panca indra melakukan perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa. 

Puasa yang dalam bahasa arab disebut shaum atau shiyam yang artinya menahan. Puasa termasuk masuk ke dalam rukun islam. Puasa ramadhan bagi orang yang islam, baligh, berakal, dan dewasa hukumnya adalah wajib. Barangsiapa yang meninggalkannya maka akan mendapatkan dosa yang pedih. Haram nukumnya bagi seseorang yang telah cukup syarat dan rukunnya untuk tidak berpuasa. 

Ibadah puasa selain untuk menahan dari makan dan minuman yang masuk, tentunya juga harus mampu untuk mengendalikan panca indra, mulai dari mulut, mata, telinga, hidung, dan kulit dari hal-hal maksiat yang dapat membatalkan puasa. Puasa seseorang akan memiliki kualitas jika mampu mengendalikan semua indranya dengan baik dan terarah. Maksudnya jangan sampai nafsu menguasai diri yang dapat memberikan perintah ke indra untuk melakukan perbuatan yang dilarang selama puasa.

Kendali Panca Indra

Kendali untuk menahan indra melakukan perbuatan kemaksiatan menjadi salah satu misi yang diemban oleh ibadah puasa. Kekuatan pengendalian  itu sangat ditentukan oleh iman seorang hamba. Karena dengan kepercayaan yang kuat kepada ilahi akan menjadi penguat sekaligus pengendali panca indra. Mata memiliki kecenderungan melihat hal-hal yang berbau maksiat yang dapat menimbulkan syahwat. Zina mata sangatlah rentan, mata merupakan indra yang memiliki kecepatan tinggi untuk mengirim data sensori ke otak dan memunculkan efek gerakan melalui saraf motorik. Diantara indra lainnya matalah yang memiliki kecenderungan melakukan maksiat.

Telinga menjadi indra kedua yang mampu mengirim data ke otak dengan kecepatan tinggi dan menimbulkan efek gerakan melalui motoriknya. Sehingga terkadang dengan telinga seorang manusia sering sekali berbuat maksiat, misalkan mendengarkan ghibah, mendengarkan hal-hal yang menimbulkan syahwat. Kemudian berikutnya adalah mulut yang memiliki kecepatan pengiriman data ke otak lalu meresponnya dalam bentuk gerakan. Mulut menjadi indra yang ketiga setelah mata dan telinga. Ketiga indra tersebut sangatlah banyak menimbulkan kesalahan dalam setiap ibadah puasa yang dilakukan oleh seseorang.

Kulit dan hidung menjadi indra yang tidak begitu banyak melakukan kemaksiatan. Karena kinerjanya yang lambat dan jangkaunnya yang timbul secara lambat. Oleh karena itu sebagai seorang manusia ketika berpuasa tentunya kita harus berhati-hati dalam menggunakan indra mata, telinga, dan mulut. Karena salah sedikit saja puasa kita takkan ada artinya lagi.

Puasa bagaikan rantai baja yang mengendalikan semua indra agar tidak bergerak bebas kemana-mana. Kekuatan rantai baja itu tergantung dari iman dan takwa. Semakin kuatnya imtak hamba, maka akan semakin kencang rantai baja tersebut, begitu pula sebaliknya semakin lemahnya imtak hamba. Maka akan semakin mengendurlah ikatan rantai baja itu.

Menambah Iman dan Takwa

Puasa diwajibkan oleh Allah SWT kepada manusia yang telah cukup syarat dan rukunnya dengan tujuan untuk menambah iman dan takwa seorang hamba. Ketakwaan adalah goal atau tujuan yang harus dicapai oleh seseorang hamba pasca beribadah puasa. Karena puasa memiliki banyak sisi-sisi positif dalam nilai kehidupan, contohnya puasa mampu mendidik seseorang untuk bersabar dan tawakal, lalu puasa mampu menjadi pelajaran bagi kita bagaiman rasanya menjadi seseorang yang miskin yang tak punya apa-apa sehingga dapat memunculkan jiwa sosial yang tinggi pasca puasa, kemudian puasa mampu menjadi ibadah yang dapat menambah ketakwaan seseorang kepada sang Khalik.

Iman artinya percaya, sementara takwa artinya menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Pengertian tersebut menjelaskan tentang hubungan antara iman dan takwa. Iman menjadi penguat untuk bertakwa kepada Allah. Begitu pula Takwa menjadi sebuah aplikasi tindakan nyata karena kepercayaan kepada sang pencipta. Iman merupakan suatu sebab yang berakibat kepada ketakwaan. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. “

Penulis: Adeng Septi Irawan
Editor: Tim MariNews