MARINEWS, Bandung - Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Bandung, Dr. Abdul Hakim, M.H.I., menegaskan pentingnya transformasi kinerja aparatur peradilan yang berlandaskan iman dan amal saleh dalam kegiatan pembinaan yang digelar di Aula PTA Bandung (7/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan, hakim tinggi, panitera, sekretaris, serta pejabat struktural dan fungsional PTA Bandung. Hadir pula para pimpinan, panitera, dan sekretaris Pengadilan Agama se-Jawa Barat.
Dalam arahannya, Abdul Hakim mengangkat tema “Transformasi Kinerja: Mengetuk Pintu Langit Melalui Iman, Mengukir Prestasi Melalui Amal Saleh”. Ia menekankan bahwa kinerja unggul tidak semata diukur dari capaian administratif, tetapi juga ditentukan oleh kekuatan nilai spiritual.
“Iman adalah fondasi utama, sedangkan amal saleh adalah wujud nyata dalam pekerjaan kita. Ketika keduanya berjalan beriringan, maka setiap kinerja tidak hanya bernilai profesional, tetapi juga menjadi ibadah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, prinsip tersebut sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya QS. Al-‘Ashr ayat 3 yang memuat empat pilar, yakni keimanan, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, serta kesabaran.

Pembinaan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung / Dok. Tim IT PTA Bandung.
Menurutnya, budaya kerja yang sehat harus dibangun di atas semangat saling mengingatkan.
“Budaya kerja yang sehat lahir dari saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Dari sinilah akan tumbuh integritas dan akuntabilitas yang kuat,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengutip QS. An-Nahl ayat 97 tentang janji kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Dalam konteks kelembagaan, nilai tersebut tercermin dalam ketenangan bekerja, kepuasan batin, serta kemandirian dalam menjalankan tugas.
Lebih jauh, Abdul Hakim mengaitkan nilai spiritual tersebut dengan delapan nilai utama Mahkamah Agung, yaitu kemandirian, integritas, kejujuran, akuntabilitas, responsibilitas, keterbukaan, ketidakberpihakan, serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
“Nilai-nilai ini bukan sekadar pedoman administratif, tetapi harus menjadi karakter yang melekat dalam diri setiap aparatur peradilan,” jelasnya.
Mengakhiri pembinaannya, ia menegaskan bahwa transformasi kinerja merupakan sebuah siklus berkelanjutan antara iman dan amal.
“Setiap tugas yang kita emban adalah bagian dari pengabdian, bukan hanya kepada institusi, tetapi juga kepada Allah SWT,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews





