Samarinda - PTUN Samarinda memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini sebagai ajang berbagi kepada sesama di lingkungan sekitarnya.
Walaupun jam kerja telah berakhir sejak sore pukul tiga, tetapi keluarga besar PTUN Samarinda dengan keikhlasannya, meluangkan waktu membersamai anak-anak Panti Asuhan Al-Maa’uun yang diundang dalam acara inti berbuka puasa bersama.
Acara dimulai dengan perbincangan interaktif antara pembawa acara dengan anak-anak panti asuhan yang tampak penuh keceriaan.
Mulai dari perkenalan, usianya yang dari sembilan sampai 13 tahunan, juga cerita mengenai jumlah hafalan Al-Qur’an, lalu dengan teduhnya melafalkan.
Ustadz Fendy Darmawan selaku pengisi acara tausiyah menyampaikan, peringatan dan pengingat dari sumber orientasi laku dan perbuatan.
Beliau mengingatkan, laku dan tindak yang tampak pada diri kita, adalah wujud dari bagaimana keadaan hati kita.
Itu adalah sari pati dari hadits HR Bukhari dan Muslim ini:
أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”
Beliau mengibaratkan teko yang berisi air, apabila air di dalamnya kotor, maka yang tertuang di gelas adalah air kotor.
Tetapi, apabila air di dalamnya bersih, maka yang tertuang di gelas adalah air yang bersih.
Adapun hati manusia digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu qalbun mayyit, qalbun maridh, dan qalbun salim.
Qalbun mayyit, yaitu hati yang tidak mau menerima kebenaran. Walapun sudah ditunjukkan dengan jelas mana yang benar, hati itu tidak sedikitpun terketuk untuk menerimanya (Ref. QS. Al-Baqarah: 6-7).
Qalbun maridh, hati yang sakit, telah menerima kebenaran tapi masih memiliki penyakit hati, iri, dengki, berbangga diri, kikir, terlalu cinta dunia, ataupun suka berburuk sangka (Ref. QS. Al-Baqarah: 10).
Qalbun salim, hati yang penuh ketenangan, kedamaian, dan keselamatan. Hati ini layaknya didampakan dari setiap manusia, hati yang dipersiapkan untuk menghadap pemilik sejatinya. Hati yang dijanjikan ganjaran kenikmatan yang tak terbatas masa (Ref. QS. Asy-Syu’ara: 90).
Apakah kita mudah menerima kebaikan dan ilmu yang disampaikan, sehingga hati kita hidup dan menjadi lapang? Apakah kita memiliki penyakit hati, tapi berusaha untuk menyembuhkannya? Apakah kita sepenuhnya menyadari jalan kebenaran, dan terus berusaha mencapai puncaknya? Pengingat yang disampaikan Ustadz Fendy Darmawan ini, patut dijadikan bahan refleksi berada di bagian yang mana keadaan hati kita melalui pertanyaan-pertanyaan yang kita sendiri bisa menyadari apa jawabannya.
Tausiah berakhir, dan dilanjutkan dengan perwujudan berbagi keberkahan dari keluarga besar PTUN Samarinda, kepada anak-anak panti asuhan.
Apa yang dibagikan bukan menggambarkan seberapa besar nilainya, tetapi niat yang diwujudkan sudah menjadi catatan kebaikan, dan berbuah hasil yang merepresentasikan kepedulian warga peradilan terhadap lingkungan.
Harapannya giat ini membentuk ketebalan motivasi, bahwa rezeki apapun yang diterima, akan semakin bernilai manfaat apabila sebagian darinya tersampaikan kepada pihak lain yang benar-benar membutuhkannya.
Adzan berkumandang, menu pembuka untuk mengakhiri siam telah disediakan.
Acara ditutup dengan doa-doa keberlanjutan kebaikan, menyantap hidangan yang telah ada, dengan dilanjutkan shalat berjamaah yang memupuk kebersamaan dan keharmonisan dalam bingkai ketaqwaan.





