Setiap fajar menyingsing di bulan Ramadan, gema seruan 'imsak' menjadi penanda dimulainya perjuangan menahan diri.
Namun, bagi insan peradilan di bawah naungan Mahkamah Agung, esensi imsak sejatinya melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga hingga azan magrib berkumandang.
Wujudnya laboratorium integritas sepanjang hayat, sebuah komitmen untuk "berpuasa" dari syahwat kekuasaan, intervensi perkara, hingga godaan gratifikasi yang sering kali datang mengetuk pintu nurani di balik jubah toga dan seragam dinas.
Sejarah mencatat bahwa "puasa" dari kepentingan pribadi demi menjaga marwah jabatan, bukanlah konsep baru dalam peradaban manusia. Salah satu potret paling ikonik tentang pemisahan antara hak pribadi dan amanah negara datang dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Suatu malam, di tengah kesibukannya mengurus administrasi umat, sang Khalifah sedang bekerja menggunakan lampu minyak milik negara.
Saat, salah seorang putranya datang untuk membicarakan urusan keluarga, Umar bin Abdul Aziz seketika meniup padam lampu tersebut dan menggantinya dengan lampu pribadinya.
Ia, menunjukkan tindakan yang terdengar sederhana, namun memiliki kedalaman filosofis yang luar biasa. Ini, tentang integritas dimulai dari kemampuan menahan diri (imsak) untuk tidak mencampuradukkan fasilitas negara dengan kepentingan pribadi.
Tongkat estafet keteladanan "menahan diri" ini rupanya tidak berhenti di masa lalu. Di koridor gedung Mahkamah Agung, kita mengenal Artidjo Alkostar sosok yang menjadikan integritas sebagai napas pengabdiannya.
Jika puasa Ramadan memiliki waktu berbuka, bagi Artidjo menjaga kesucian profesi (puasa) hingga akhir masa tugasnya.
Beliau bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan diri dari hiruk-pikuk lobi perkara yang kerap menggoda nurani seorang hakim.
Salah satu fragmen hidupnya yang melegenda adalah ketegasannya menutup pintu bagi siapa pun yang mencoba "bertamu" untuk urusan perkara, termasuk kerabat dekat atau kolega lama.
Bagi Artidjo, integritas adalah kesunyian. Ia memilih jalan yang sepi dari popularitas dan materi, demi memastikan palu hakim yang diketukkannya benar-benar murni dari intervensi.
Ramadhan akhirnya akan berlalu, dan gema takbir akan segera menggantikan seruan imsak. Namun, bagi setiap insan peradilan, perjuangan menahan diri tidaklah mengenal kata "hari raya".
Teladan dari lampu minyak Umar bin Abdul Aziz dan keteguhan palu Artidjo Alkostar adalah pengingat abadi bahwa kemuliaan jabatan kita tidak terletak pada fasilitas yang kita nikmati, melainkan pada seberapa kuat kita "berpuasa" dari segala bentuk godaan yang mencederai keadilan.
Mari jadikan momentum suci ini sebagai ajakan untuk memperbarui "puasa integritas" kita sepanjang tahun.
Hal ini, dikarenakan puasa secara syariat adalah menahan diri hingga terbenam matahari, maka menjaga marwah peradilan yakni puasa yang tidak boleh berbuka hingga akhir masa pengabdian.
Sebab di tangan kitalah, kepercayaan publik terhadap tegaknya hukum di negeri ini dipertaruhkan.
Referensi Sumber:
- https://kalam.sindonews.com/read/1366959/70/kisah-hikmah-padamnya-lampu-istana-dan-khalifah-umar-bin-abdul-aziz-1714212240
- https://islamdigest.republika.co.id/berita/qgrgjk320/pilihan-lampu-umar-bin-abdul-aziz-saat-menerima-para-tamu
- https://marinews.mahkamahagung.go.id/serba-serbi/mengenang-kembali-sosok-artidjo-alkostar-hakim-teladan-0Q6
- https://www.tempo.co/hukum/cerita-artidjo-alkostar-yang-ingin-mundur-jadi-hakim-agung-ma-533446





