Jakarta – MARINews: Pelaksanaan Refleksi Mahkamah Agung Tahun 2025 menghadirkan nuansa yang berbeda. Selain memaparkan capaian dan tantangan Mahkamah Agung sepanjang tahun 2025, kegiatan ini juga menjadi ajang apresiasi melalui pengumuman Peraih Anugerah Peradilan 2025 serta pemenang Lomba Foto Peradilan 2025.
Lomba foto yang diikuti ratusan peserta tersebut terbagi ke dalam tiga kategori, yakni kategori umum, jurnalis, dan warga peradilan. Dari kategori warga peradilan, Isnanto Nugroho, S.Kom., M.M., Pranata Komputer Ahli Pertama pada Pengadilan Agama Suwawa, Bone Bolango, Gorontalo, berhasil meraih Juara Pertama.
Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung oleh Ketua Mahkamah Agung dalam rangkaian acara Refleksi Mahkamah Agung 2025. Momen penyerahan hadiah di Balairung Mahkamah Agung itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Isnanto. Kepada Azizah dari MARInews, ia bercerita tentang perasaannya, triknya mengikuti lomba serta pengalaman pertama kalinya hadir langsung di pusat lembaga peradilan tertinggi di Indonesia.
Isnanto sehari-hari bertugas sebagai tim pengelola teknologi informasi di Pengadilan Agama Suwawa. Ia aktif mengelola dan memperbarui website, mendukung pengelolaan media sosial kantor, serta menangani berbagai kebutuhan teknis IT lainnya. Di sela tugas tersebut, fotografi menjadi medium baginya untuk merekam berbagai momen pelayanan peradilan.
“Alhamdulillah, pimpinan sangat mendukung hobi saya. Justru hobi ini sangat menunjang tugas dan fungsi saya di kantor,” ujar Isnanto, lulusan S1 Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta dan S2 Universitas Gorontalo.
Bagi Isnanto, fotografi bukan sekadar hobi. Ia melihatnya sebagai sarana mengekspresikan pandangan tentang keadilan, hukum, dan kemanusiaan melalui bahasa visual. Alasan itulah yang mendorongnya mengikuti Lomba Foto Peradilan 2025.
“Fotografi mampu merekam momen, simbol, dan emosi yang sering kali tidak tersampaikan lewat kata-kata. Lomba ini juga menjadi ruang untuk mengasah kemampuan visual storytelling sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap transparansi dan integritas lembaga peradilan,” tuturnya.
Dalam lomba tersebut, Isnanto mengirimkan tiga karya foto. Satu foto yang mengantarkannya meraih juara pertama diambil saat ia mengikuti sidang itsbat di Kecamatan Pinogu salah satu daerah terisolasi di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, wilayah yang belum teraliri listrik. Foto tersebut menggambarkan layanan peradilan yang tetap hadir meski dalam keterbatasan.
“Foto itu bercerita bahwa keadilan harus ditegakkan dalam kondisi apa pun. Keterbatasan tidak boleh menghalangi pengadilan untuk melayani masyarakat pencari keadilan. Pengadilan harus selalu siap memberikan layanan prima,” jelasnya.

Saat namanya diumumkan sebagai pemenang, Isnanto mengaku tidak percaya. Rasa kaget dan haru bercampur ketika ia menyadari bahwa dirinya akan diundang ke Mahkamah Agung dan menerima penghargaan langsung dari Ketua Mahkamah Agung.
“Kabar kemenangan ini disambut hangat oleh Pimpinan, rekan-rekan kerja di Pengadilan Agama Suwawa, teman-teman, dan juga keluarga. Ucapan syukur dan selamat mengalir. Informasi kemenangan saya itu dibagikan di berbagai grup,” ujar Isnanto yang tahun lalu juga mengikuti lomba yang sama namun gagal.
Isnanto juga bercerita tentang perjalanannya menuju Jakarta. Baginya, perjalanannya itu menjadi pengalaman tersendiri. Dari Suwawa, ia menempuh perjalanan darat menuju Bandara Gorontalo sejak pagi hari. Penerbangan menuju Jakarta diwarnai cuaca kurang bersahabat dengan turbulensi akibat awan tebal.
“Meski begitu, alhamdulillah selamat sampai Jakarta,” ucapnya.
Setibanya di Jakarta, ia sempat kebingungan memesan transportasi daring karena baru pertama kali bepergian sendiri ke ibu kota. Namun, seluruh rangkaian perjalanan dapat dilalui dengan lancar.
Hingga ceritanya berakhir, Isnanto masih belum percaya bahwa ia bisa memenangkan lomba ini. Ia masih berasa mimpi bisa diundang langsung ke Mahkamah Agung dan bertemu dengan Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung dan pimpinan MA yang lain.
“Kayak mimpi,” ujarnya.

