Manifestasi Al-Qur’an dalam Kehidupan Seorang Muslim Menjadikannya Manusia Terbaik

Dengan kompleksitas penyakit jasmani dan rohani yang diderita umat manusia pada saat ini, maka Al-Qur'an adalah solusi untuk mencegah dan mengobatinya.
Ilustrasi Nuzulul Quran. Foto muhammadiyah.or.id
Ilustrasi Nuzulul Quran. Foto muhammadiyah.or.id

Pada Minggu malam, 16 Maret 2025, bertepatan dengan 17 Ramadan 1446 Hijriah, adalah waktu untuk memperingati malam Nuzulul Quran, yang berdasarkan pendapat mayoritas ulama, terjadi kurang lebih pada 14 abad yang lalu. 

Malam Nuzulul Quran sering diartikan sebagai malam awal mula diturunkannya kitab suci Al-Qur’an, pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah, kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur, melalui perantara Malaikat Jibril. Pada saat itu, ayat-ayat awal yang diturunkan adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5.

Atas peristiwa tersebut yang begitu agung, mayoritas umat Islam di seantero dunia, memperingati Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadan, atau pada siang harinya, maupun pada sore harinya (menjelang berbuka). Bahkan, ada yang memperingatinya tidak tepat pada 17 Ramadan, namun pada tanggal lainnya. 

Memperingati Nuzulul Quran adalah penanda momen penting dalam sejarah Islam, dan juga sebagai pengingat akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai way of life (jalan dan pegangan hidup) setiap Muslim, yang akan mengantarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan,  baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dibalik memperingati Nuzulul Quran, ada satu pertanyaan yang sejatinya harus menjadi renungan bagi seluruh umat Islam. Apakah Al-Qur'an sudah termanifestasi dengan baik, sebagai way of life dalam kehidupan seorang Muslim secara holistik?

Revolusi Industri 5.0, yang menggabungkan antara manusia dengan teknologi canggih, seperti AI (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Things) dan robot, telah menimbulkan beberapa permasalahan hidup bagi setiap orang, maupun organisasi. Hal tersebut tidak luput karena adanya peralihan peran manusia, yang diambil alih oleh teknologi canggih yang diciptakan manusia itu sendiri. Jika tidak diantisipasi dengan baik, maka akan menyebabkan semakin beragamnya permasalahan kehidupan manusia, yang berdampak kepada semakin buruknya kualitas hidup antarmanusia itu sendiri.

Untuk dapat keluar dari beragamnya permasalahan kehidupan saat ini, Al-Qur’an telah menyatakan bahwa solusinya adalah kembali kepada Allah SWT. Dengan memedomani Al-Qur'an sebagai way of life, sebagaimana yang disebutkan pada surah Al-Baqarah ayat 185 dan ayat 2, dan surah Al-Isra’ ayat 9. 

Upaya untuk menjadikan alquran sebagai way of life, dapat berupa dengan mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah-kisah terdahulu (Ali Imron: 137), karena menurut ulama berkebangsaan Mesir, Syeikh Sya’rawi, akan ada kemungkinan peristiwa-peristiwa yang tidak disebutkan nama tokohnya secara spesifik dalam Al-Qur’an, akan kembali terulang pada kehidupan yang kita jalani saat ini.

Syeikh Sya’rawi mencontohkan kisah Fir’aun yang menuhankan dirinya, dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa (An-Nazi’at ayat 18-24), serta senantiasa berbuat kezaliman dan menindas orang-orang Israel (Al-Baqarah ayat 49, Al-A’raf ayat 141, dan Ibrahim Ayat 6), dengan tujuan untuk melanggengkan kekuasaannya.

Namun, akhir dari kisah Fir’aun, ia dan pengikutnya musnah ditenggelamkan oleh Allah dan mendapatkan balasan seketika di dunia, dengan awetnya jasadnya sampai saat ini, maupun mendapatkan balasan di akhirat kelak dengan siksaan yang amat pedih (An-Nazi’at: 25).

Untuk diketahui, bahwa Fir’aun yang disebut dalam Al-Qur’an adalah gelar bagi raja Mesir pada saat itu. Namun, Al-Qur'an tidak menyebutkan secara spesifik siapa Fir’aun yang dimaksud, apakah seorang raja yang bernama Ramses I, Ramses II atau Ramses ke berapa? 

Pada saat ini, tidak sedikit kita dapat melihat, betapa banyak umat manusia yang menuhankan kekuasaannya seperti Fir’aun, dengan menghalalkan segala cara, berbuat kezaliman dan menindas orang-orang yang berseberangan dengannya. Dalam konteks tersebut, Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar, menyatakan, ada beberapa pemimpin diktator yang selalu menganggap dirinya benar, tidak mau salah dan disalahkan. Ia memiliki pengikut-pengikut yang setia, yang senantiasa memujanya, seolah-olah mereka sedang memuja Tuhan. Namun, akhir kehidupan mereka sangat mengenaskan.

Dalam konteks saat ini, para pengikut pemimpin diktator yang diilustrasikan sebagai pengikut Fir’aun, sejatinya selalu berbuat hal yang sama, walaupun zamannya sudah berbeda. Mereka selalu berbuat sesuatu “Asal Bapak Senang” (ABS), selalu “mencari muka,” dan “menjilat,” junjungannya. Bahkan, ia tidak segan-segan menzalimi dan menindas para pembencinya, serta senantiasa membenci kebenaran orang-orang yang berseberangan dengan kebenaran yang mereka anut.

Berapa banyak kisah seperti Fir’aun yang terulang kembali, bagi orang-orang yang menjadi oposisi, kompetitor, bawahan, dan orang-orang yang menyuarakan kebenaran saat ini, dikriminalisasi, dimutasi, dimatikan karirnya, bahkan dilenyapkan nyawanya oleh para pemimpin diktator yang menuhankan kekuasaan. Namun akhir kehidupan mereka, sama dengan akhir kehidupan Fir’aun dan pengikutnya, yang akhir kehidupan mereka sangat mengenaskan, walaupun tidak ditenggelamkan di dasar laut.

Untuk tidak mengulangi kisah yang sama dengan kisah Fir’aun, maupun kisah-kisah kelam yang diceritakan dalam Al-Qur’an, maka Allah SWT pun memerintahkan umat Islam untuk selalu mempelajari sejarah kisah-kisah tersebut, dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, seperti yang terdapat pada surah Ali Imran ayat 137, Al-An’am ayat 11, An-Nahl ayat 36 dan lain sebagainya.

Selain berfungsi sebagai way of life, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai obat dan penawar dari segala penyakit (surah Yunus ayat 57, Fushshilat ayat 44, dan surah Al-Isra’ ayat  82), baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani.

Penyakit jasmani dan penyakit rohani, ikut menyumbang permasalahan kehidupan pada saat ini. Di mana dengan kemajuan teknologi pada era revolusi industri 5.0, walaupun beragam jenisnya, penyakit jasmani sangat mudah diobati dengan menggunakan peralatan medis, dan obat-obatan mutakhir.

Namun, penyakit rohani seperti iri, dengki, sombong, riya, NPD (Narcissistic Personality Disorder yang berarti gangguan kepribadian narsistik) dan lain sebagainya, sangat susah untuk diobati. Karena, orang-orang yang terjangkit penyakit rohani, tidak menyadari bahwa rohaninya sedang sakit. Selain itu, penyakit rohani dapat menghinggapi siapa saja, baik itu ahli ibadah, maupun ahli maksiat, pemimpin maupun yang dipimpin.

Perlu diketahui, bahwa yang menjadikan iblis sebagai makhluk terhina, adalah karena ia terjangkit semacam penyakit rohani (sombong), dengan mengatakan bahwa ia adalah makhluk yang lebih baik dari Nabi Adam. Padahal sebelumnya, iblis adalah makhluk yang paling taat beribadah dan ibadahnya melebihi ibadah malaikat pada saat itu. Ia terjerumus dalam kehinaan, sesaat ia mengucapkan kata-kata: “aku lebih baik darinya (Nabi Adam A.S.)”.

Orang yang menganggap “aku lebih baik darinya,” dan menganggap kemampuan orang lain selalu di bawah kemampuannya, sehingga tidak mau menerima keadaan sebaliknya, yaitu keadaan d imana ia sejatinya tidak memiliki kemampuan maupun kelebihan, namun justru orang lain tersebut lah yang ternyata memiliki kemampuan dan kelebihan, berarti ia sudah dihinggapi penyakit rohani yang sama dengan iblis, yang kalau tidak segera menyadarinya dan bertaubat kepada Allah SWT, bisa jadi akan menjadi makhluk yang hina. 

Apalagi pada saat ini, penyakit rohani manusia semakin berkembang dan lebih kompleks, sehingga dulu penyakit rohani hanya dikenal dengan penyakit seperti iri, dengki, sombong, dan ria, namun sekarang sudah berevolusi sebagai penyakit mental, seperti bipolar, Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan lain sebagainya.

Namun, di antara semua penyakit rohani maupun mental yang ada, NPD adalah penyakit yang paling berbahaya, karena sukar untuk disembuhkan, dan mayoritas pengidapnya tidak merasa sedang sakit. Ia akan selalu merasa benar, sulit menerima kebenaran yang berseberangan dengan kebenaran yang dianut, dan selalu merendahkan orang lain. Orang yang terjangkiti NPD selalu “menuntut” siapa pun orang yang ditemui, untuk selalu menyanjung, memuji, dan memujanya. Bila ada yang mengecewakannya, maka ia akan menempuh berbagai cara untuk “menghabisinya”.

Dengan kompleksitas penyakit jasmani dan rohani yang diderita umat manusia pada saat ini, maka Al-Qur'an adalah solusi untuk mencegah dan mengobatinya. Hal ini didukung dengan banyaknya penelitian yang telah dilakukan, yang hasilnya menunjukkan, betapa Al-Qur'an dapat menjadi obat dan penawar dari segala penyakit yang diderita manusia. 

Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad, menyebutkan bahwa Al-Qur;an dapat menyembuhkan berbagai penyakit, baik itu penyakit jasmani maupun penyakit rohani. Tidak itu saja, penyakit keduniaan dan akhirat juga dapat disembuhkan dengan Al-Qur'an.

Sayangnya, tidak semua orang diberikan keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat dan penawar. Jika ada seseorang yang sakit, lalu secara konsisten berobat dengan Al-Qur'an, seperti meletakkan tangannya pada sakit yang dideritanya, dengan penuh kejujuran dan keimanan, kepasrahan yang sempurna dan keyakinan yang kukuh kepada Allah SWT, serta menyempurnakan seluruh syaratnya, maka niscaya setiap penyakit apa pun yang diderita seseorang, akan dapat disembuhkan dengan Al-Qur'an. 

Dahsyatnya fungsi Al-Qur’an sebagai penyembuh dan penawar bagi setiap penyakit yang diderita oleh umat manusia, dan dapat menjadi way of life dalam kehidupan, adalah contohnya nyata manifestasi Al-Qur’an dalam kehidupan seorang Muslim. 

Setiap Muslim harusnya dekat dan berpegang teguh dengan Al-Qur'an. Sejatinya Al-Qur’an harus dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan, dengan cara mentadabburi ayat-ayatnya, karena Al-Qur’an selalu membuka challenge bagi kaum intelektual, untuk menemukan misteri maupun rahasia yang belum terungkap darinya. Namun, jika seseorang tidak mampu mentadabburi ayat-ayatnya, maka cukup dengan membacanya. Jika tidak sanggup juga, maka paling tidak jangan mengingkari kebenaran-kebenaran dalam Al-Qur'an.

Momen bulan Ramadan, yang dikatakan sebagai bulannya Al-Qur’an, adalah momen untuk mentadabburi Al-Qur’an, dan membacanya. Di mana setiap pahala selama di bulan Ramadan, akan dilipatgandakan. Termasuk di antaranya mentadaburi atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Ramadan kali ini, terlewat begitu saja, tanpa pernah atau memaksimalkan membaca atau mentadabburi Al-Qur’an. Karena, apapun yang bersentuhan dengan Al-Qur’an, akan selalu menjadi yang terbaik.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena itu ia dikatakan Nabi dan Rasul terbaik di antara lainnya. Al-Qur’an diperuntukkan kepada umat Nabi Muhammad SAW, karena itu umat ini dikatakan sebagai umat terbaik dari umat lainnya. Al-Qur’an diturunkan pada Ramadan, karena itu ia menjadi bulan terbaik di antara bulan lainnya. Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar, karena itu ia menjadi malam terbaik dari seribu malam.

Bahkan, bangsa, negara dan pribadi yang menjadikan Al Qur’an sebagai way of life, dan tidak mau jauh dari Al-Qur'an, akan menjadi yang terbaik di antara yang lainnya. 

Semoga kita semuanya, yang masih berjumpa dan diberikan kesehatan untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan tahun ini, dapat menjadi pribadi yang terbaik, karena Al-Qur’an yang selalu kita tadabburi dan kita baca setiap harinya. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Penulis: Kontributor
Editor: Tim MariNews