Sarat Nilai Budaya: Tradisi Anyaman Ketupat Khas Kepri

Tradisi Riuh Rendah bukan sekadar aktivitas kerajinan tangan. Di balik jalinan jalur yang dianyam dengan telaten, tersimpan filosofi mendalam tentang kebersamaan, ketekunan, dan gotong royong. (Artikel Serba Serbi Ramadhan Edisi Hari Kesepuluh)
Kegiatan Riuh Rendah dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah | instagram tvrikepri
Kegiatan Riuh Rendah dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah | instagram tvrikepri

Ramadhan 1447 Hijriah di Provinsi Kepulauan Riau kembali diwarnai denyut tradisi yang sarat makna. 

Di tengah semarak ibadah dan kebersamaan umat Muslim, masyarakat Pulau Penyengat menghidupkan tradisi Riuh Rendah. 

Sebuah kegiatan menganyam ketupat yang tidak sekadar menjadi persiapan menyambut Bulan Suci Ramadhan dan Idulfitri, tetapi juga simbol persatuan dan warisan budaya Melayu yang terus terjaga lintas generasi.

Pulau Penyengat yang berada di Kota Tanjungpinang, selama ini dikenal sebagai pusat peradaban Melayu dan jejak sejarah Kesultanan Riau-Lingga. 

Pada bulan Ramadhan, suasana religius berpadu dengan geliat sosial masyarakat. 

Sejak pagi hingga menjelang waktu berbuka, warga dari berbagai usia berkumpul di halaman rumah, balai pertemuan, hingga pelataran masjid untuk bersama-sama menganyam daun kelapa muda menjadi sarung ketupat.

Tradisi Riuh Rendah bukan sekadar aktivitas kerajinan tangan. Di balik jalinan jalur yang dianyam dengan telaten, tersimpan filosofi mendalam tentang kebersamaan, ketekunan, dan gotong royong. 

Proses menganyam dilakukan secara kolektif, para orang tua mengajarkan teknik dan pola anyaman kepada generasi muda, sementara anak-anak belajar memahami nilai kesabaran dan kerja sama. 

Suasana riuh percakapan, senda gurau, dan tawa yang bersahutan menjadi ciri khas kegiatan ini yang melahirkan istilah “Riuh Rendah”.

Ketupat sendiri dalam tradisi Melayu memiliki makna simbolik. Bentuknya yang bersilang mencerminkan kekuatan persaudaraan dan keterikatan sosial. 

Setelah dianyam, ketupat akan diisi beras dan direbus untuk disajikan saat Idulfitri, menjadi pelengkap hidangan khas Lebaran. 

Namun, bagi masyarakat Pulau Penyengat, nilai utama bukan terletak pada hasil akhir, melainkan pada proses kebersamaan yang menyertainya.

Dalam konteks Ramadhan 1447 Hijriah, tradisi ini juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial. 

Banyak keluarga yang berbagi hasil anyaman kepada tetangga atau mereka yang membutuhkan. 

Semangat berbagi ini, sejalan dengan nilai-nilai Ramadhan yang menekankan kepedulian dan empati terhadap sesama. 

Riuh Rendah pun menjadi ruang sosial yang mempertemukan lintas generasi, mempererat hubungan kekeluargaan, serta meneguhkan identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Di era digital dan perubahan gaya hidup yang cepat, menjaga tradisi bukan perkara mudah. 

Namun, masyarakat Pulau Penyengat menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan jika diwariskan dengan kesadaran kolektif. 

Kegiatan menganyam ketupat kini tidak jarang didokumentasikan dan dibagikan melalui media sosial, memperluas jangkauan promosi budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas. 

Dengan demikian, Riuh Rendah tidak hanya menjadi milik masyarakat setempat, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya nasional.

Ramadhan 1447 Hijriah menjadi saksi bahwa di Pulau Penyengat, tradisi dan religiusitas berjalan beriringan. 

Riuh Rendah bukan sekadar keramaian menjelang Lebaran, melainkan cerminan nilai kebersamaan yang menjadi fondasi masyarakat Melayu. 

Di antara anyaman janur dan gema doa, terpatri harapan agar tradisi ini terus hidup, mengakar kuat, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai identitas yang membanggakan Kepulauan Riau.