Jakarta - Pembinaan Ketua Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia bagi para Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama se-Indonesia menjadi ruang hening untuk bercermin, lebih dari sekadar forum laporan capaian.
Bertempat di Balairung Gedung Tower Mahkamah Agung RI, Jakarta, pada Selasa (10/2), kegiatan yang merupakan rangkaian Laporan Tahunan Mahkamah Agung Tahun 2025 ini mengusung tema “Pengadilan Terpercaya, Rakyat Sejahtera”.
Hadir pula Ketua Komisi Yudisial RI, Dr. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H., sebagai narasumber.
Dalam pembinaannya, Ketua MA, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H., menegaskan, capaian dan penghargaan yang diraih patut disyukuri, namun tidak boleh mengaburkan kejujuran untuk menilai diri.
Keberhasilan justru harus melahirkan kerendahan hati dan kewaspadaan, sebab amanah kehakiman sejatinya ditimbang bukan oleh pujian, melainkan oleh nurani.
Negara yang telah meningkatkan kesejahteraan hakim menaruh harapan besar agar setiap putusan lahir dari integritas, bukan transaksi.
Karena itu, MA menegaskan sikap zero tolerance terhadap segala bentuk pelayanan transaksional sekecil apa pun.
Data integritas dan kepercayaan publik menjadi cermin bersama.
Indeks Integritas Hakim Komisi Yudisial 2025 berada pada kategori baik, sementara tingkat kepercayaan publik terhadap MA dan pengadilan menunjukkan tren positif, termasuk dari kalangan anak muda.
Namun di sisi lain, penurunan tajam Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK hingga kategori rentan, serta peristiwa operasi tangkap tangan terhadap pimpinan pengadilan, menjadi peringatan keras bahwa pengawasan eksternal tidak cukup tanpa penjagaan dari dalam diri.
Ketua MA juga mengingatkan, kehormatan peradilan lahir dari sikap dan tutur kata.
Hakim adalah simbol kebijaksanaan; ketika perilaku dan pernyataan justru menimbulkan kegaduhan, maka marwah jabatan akan tergerus.
Di akhir pembinaan ditegaskan, integritas tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan harus hadir nyata dalam keseharian. Sebab, marwah peradilan dijaga bukan oleh suara yang paling lantang, melainkan oleh perilaku yang paling terjaga.
