JAKARTA, MARINews-Ketua Mahkamah Agung (MA) memberikan pesan tajam sekaligus menyentuh bagi ribuan hakim di seluruh Indonesia. Dalam acara pembinaan bagi Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama pada empat lingkungan peradilan di Balairung Mahkamah Agung, Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
Ketua MA menekankan pentingnya menjaga kehormatan profesi melalui tutur kata.
Pidato yang disampaikan dalam rangkaian Laporan Tahunan MA Tahun 2025 ini mengusung pesan utama "Kehormatan Hakim Lahir Dari Sikap dan Perkataan."
Ketua MA secara khusus menanggapi beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, terutama terkait munculnya komentar-komentar dari oknum hakim yang bernada kontraproduktif di ruang publik.
"Sikap semacam ini patut disayangkan, terlebih apabila muncul dari hakim, termasuk pimpinan pengadilan. Hal itu tidak sejalan dengan keluhuran jabatan yang sedang diemban," ujar Ketua MA di hadapan para pimpinan pengadilan se-Indonesia.
Prof Sunarto mengingatkan bahwa sebagai wakil Tuhan di dunia, setiap sikap dan tutur kata hakim semestinya mampu menenangkan, memberi teladan, serta menghadirkan suasana yang kondusif, bukan justru memicu kegaduhan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua MA juga menyentuh isu kesejahteraan hakim yang belakangan menjadi perbincangan hangat. Ia menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan yang dinikmati para hakim saat ini adalah hasil kerja keras banyak pihak.
"Kesejahteraan yang saat ini diterima oleh para hakim bukanlah hasil dari perjuangan pendek dan sepihak, melainkan lahir dari proses panjang dan kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak, termasuk koordinasi intensif dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait," tegasnya.
Maka, ia meminta para hakim untuk memandang kesejahteraan sebagai amanah dari negara. Dirinya menekankan agar fasilitas dan gaji yang diterima wajib disyukuri dan dipertanggungjawabkan melalui sikap rendah hati serta dedikasi penuh dalam menjalankan tugas.
Menutup pidatonya, Ketua MA memberikan satu renungan penting yang menjadi "tamparan" sekaligus pengingat bagi seluruh insan peradilan di Indonesia.
"Marwah peradilan tidak dijaga oleh siapa yang paling keras bersuara, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga perilaku dan menata tutur kata," pungkasnya.
Pesan ini seolah menjadi penutup yang kontemplatif bagi rangkaian Sidang Istimewa Laporan Tahunan MA 2025, yang menekankan bahwa integritas moral adalah benteng terakhir bagi pengadilan yang terpercaya.
