Koko’o hingga Tumbilotohe: Simfoni Ramadhan di Gorontalo

Ramadhan di Gorontalo menjadi ruang perjumpaan antara iman dan tradisi. Di tanah yang dijuluki Serambi Madinah ini, bulan suci hadir bersama gema budaya yang telah diwariskan turun-temurun. (Artikel Serba Serbi Edisi Ramadhan)
Tradisi Ramadhan di Gorontalo. Dokumentasi Penulis
Tradisi Ramadhan di Gorontalo. Dokumentasi Penulis

Lebih dari sekadar peristiwa spiritual tahunan, Ramadhan di Gorontalo menjadi ruang perjumpaan antara iman dan tradisi. Di tanah yang dijuluki Serambi Madinah ini, bulan suci hadir bersama gema budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Dua di antaranya yang paling memikat adalah Koko’o dan Tumbilotohe, dua tradisi yang laksana nada dan cahaya dalam satu simfoni Ramadhan sekaligus simbol spiritual yang hidup dalam denyut keseharian warga.

Koko’o: Irama yang Membangunkan Jiwa
Koko’o atau ketuk sahur adalah tradisi membangunkan sahur yang dilakukan dengan cara berkeliling kampung dengan menggunakan alat musik tradisional bambu. 

Kentongan terbuat dari bambu pilihan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan bunyi khas saat dipukul atau digetarkan. Ia biasanya diiringi dengan alat sederhana lainnya seperti gendang atau perkusi tradisional.

Namun, Koko’o lebih dari sekadar membangunkan orang untuk makan sahur. Secara maknawi, ia adalah simbol panggilan spiritual. Bunyi bambu yang menggema di dini hari bukan hanya mengetuk pintu rumah, tetapi juga mengetuk kesadaran batin.

Wujudnya mengingatkan Ramadhan adalah momentum untuk bangun bukan hanya dari tidur fisik, melainkan dari kelalaian jiwa.
Tradisi ini, juga menegaskan nilai kebersamaan. Anak-anak muda biasanya menjadi pelaku utama Koko’o. 

Mereka berjalan bersama, memainkan alat musik dengan semangat, menghadirkan suasana meriah sekaligus religius. Dalam kebersamaan itu, tertanam nilai gotong royong, solidaritas, dan kecintaan terhadap budaya sendiri.

Guna melestarikan tradisi ini, pemerintah daerah dan masyarakat rutin mengadakan Festival Koko’o setiap bulan Ramadhan. Festival ini, jadi ajang kreativitas kelompok-kelompok pemuda dari berbagai desa dan kecamatan. 

Bentuknya menampilkan aransemen ritmis Koko’o yang lebih variatif, kostum tradisional yang khas, serta koreografi yang terkonsep. Meski dikemas lebih modern dan kompetitif, ruhnya tetap sama: menjaga identitas Gorontalo dan memperkuat syiar Ramadhan melalui budaya.

Festival Koko’,o bukan sekadar perlombaan musik tradisional, tetapi ruang edukasi budaya. Generasi muda diperkenalkan kembali pada akar tradisi, sekaligus didorong untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai dasarnya.

Tumbilotohe: Cahaya Menuntun ke Fitrah
Jika Koko’o adalah irama dini hari, maka Tumbilotohe adalah cahaya senja menjelang kemenangan. Tumbilotohe yang berarti “memasang lampu” merupakan tradisi menyalakan lampu minyak pada tiga malam terakhir Ramadhan. Ribuan lampu dipasang di halaman rumah, tepi jalan, dan sekitar masjid, menciptakan panorama cahaya yang memukau.

Secara filosofis, cahaya dalam Tumbilotohe melambangkan hidayah dan kemenangan spiritual. Tiga malam terakhir Ramadhan diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan, termasuk kemungkinan turunnya Lailatul Qadar. 

Cahaya lampu yang digunakan untuk menerangi jalan menuju masjid menjadi simbol penerang jalan menuju fitrah, sekaligus ekspresi rasa syukur atas kesempatan menjalani ibadah sebulan penuh.

Lampu-lampu tersebut, biasanya ditempatkan pada rangka bambu yang dibentuk artistic dan kadang menyerupai gerbang, kubah, atau ornamen islami. Proses pemasangannya dilakukan bersama-sama oleh warga, memperkuat rasa persatuan. 

Anak-anak belajar tentang tradisi, orang tua menanamkan nilai spiritual, dan seluruh kampung terlibat dalam suasana penuh khidmat.

Guna memperluas gaung tradisi ini, digelar pula Festival Tumbilotohe yang menjadi daya tarik budaya dan wisata religi. Dalam festival ini, desa-desa berlomba menghadirkan instalasi lampu minyak paling indah dan kreatif, tanpa menghilangkan esensi tradisinya. 

Saat malam tiba, Gorontalo berubah menjadi lautan cahaya yang memesona, sebuah pemandangan yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menyentuh secara spiritual.

Festival Tumbilotohe memperlihatkan tradisi lokal mampu bertransformasi menjadi peristiwa budaya berskala besar tanpa kehilangan makna aslinya. Ia menjadi simbol bahwa cahaya iman dapat dirawat bersama, diterangi oleh nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan.
 
Simfoni Iman dan Identitas
Koko’o dan Tumbilotohe adalah dua bab dalam satu kisah besar tentang Ramadhan di Gorontalo. Koko’o membangunkan jiwa melalui irama bambu, sementara Tumbilotohe menerangi malam dengan cahaya harapan. 

Satu berbentuk suara, satu berbentuk Cahaya keduanya menyatu sebagai simfoni budaya yang memperkaya pengalaman spiritual masyarakat.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap lestari karena ia tidak sekadar dipertahankan, tetapi dimaknai ulang oleh setiap generasi. Selama Koko’o masih bergema di waktu sahur dan lampu-lampu Tumbilotohe terus menyala di penghujung Ramadhan, selama itu pula identitas dan nilai luhur Gorontalo akan tetap hidup bercahaya, berirama, dan penuh makna.

Daftar Referensi :
1.    Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo. (2022). Festival Tumbilotohe dan Kokoo sebagai Warisan Budaya Ramadhan Gorontalo. Gorontalo: Dispar Provinsi Gorontalo.
2.    Pemerintah Provinsi Gorontalo. (2021). Pesona Budaya Tumbilotohe: Tradisi Cahaya di Ujung Ramadhan. Gorontalo: Humas Pemprov Gorontalo.
3.    Rahim, S. (2018). Tradisi Tumbilotohe dalam Perspektif Sosial dan Keagamaan Masyarakat Gorontalo. Jurnal Kebudayaan dan Keislaman, 12(2), 145–158.
4.    Syarif, M. (2019). Kokoo sebagai Media Syiar Islam dan Penguatan Identitas Budaya di Gorontalo. Jurnal Seni dan Tradisi Nusantara, 7(1), 23–35.
5.    Taib, A. (2017). Nilai-Nilai Filosofis dalam Tradisi Ramadhan Masyarakat Gorontalo. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 5(3), 201–215.


 

Penulis: Juang Samadi
Editor: Tim MariNews