Boalemo - Melalui inovasi Selasar Inspirasi Kepaniteraan, PN Tilamuta menjadikan lorong yang biasanya hanya ruang perlintasan kinerja bagi tenaga teknis kepaniteraan sebagai ruang kesadaran. Di sepanjang dindingnya terpampang pesan-pesan dari para tokoh insan peradilan mulai dari Ketua Mahkamah Agung (KMA), Dirjen Badan Peradilan Umum, Ketua Pengadilan Tinggi Gorontalo, hingga Ketua PN Tilamuta. Nilainya beragam, mulai dari integritas, profesionalitas, semangat kerja, kedisiplinan, kerja sama, dan kekompakan.
Namun di antara semua itu, pesan KMA memiliki daya getar yang khas: “Integritas ibarat lentera yang cahayanya dapat menerangi gulita. Agar lentera integritas tetap menyala, diperlukan komitmen bersama untuk saling menjaga.”
Pesan ini bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah peringatan yang lembut sekaligus tegas. Lentera hanya menyala jika dirawat. Ia tidak kebal terhadap angin, tidak abadi tanpa perhatian. Begitu pula integritas ia bukan atribut jabatan, melainkan sikap batin yang harus dipelihara.
Menariknya, pesan ini ditempatkan di selasar, sebuah ruang yang dilalui semua orang. Secara filosofis, selasar adalah simbol transisi. Di sanalah orang bergerak dari satu tugas ke tugas lain, dari satu keputusan ke keputusan berikutnya. Meletakkan pesan integritas di ruang transisi seolah menegaskan: setiap perpindahan langkah harus tetap berada dalam terang nilai.
Inovasi ini bertujuan agar pesan-pesan tersebut tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi pengingat yang terus hadir dalam keseharian insan peradilan PN Tilamuta. Setiap kali pegawai kepaniteraan melintasi selasar itu, ada dialog diam yang mungkin terjadi: Apakah pekerjaanku hari ini sudah berada dalam cahaya lentera itu?
Dalam perspektif etika kebajikan, karakter terbentuk dari pengulangan kesadaran. Apa yang sering dilihat, akan sering diingat. Apa yang sering diingat, akan lebih mudah diwujudkan. Selasar itu menjadi ruang repetisi nilai tanpa suara, tanpa tekanan, tetapi konsisten.
Lebih jauh, selasar tersebut bukan hanya ruang refleksi individual. Ia juga menjelma ruang interaksi kolektif. Di sela pelaksanaan tugas, Warga PN Tilamuta sering berkumpul di sana untuk berdiskusi dan berbagi informasi. Bahkan, tak jarang rapat dilakukan dalam suasana santai dan akrab di tempat itu.
Di sinilah pesan KMA menemukan konteks nyatanya, yaitu komitmen bersama untuk saling menjaga. Integritas tidak hidup dalam isolasi. Ia tumbuh dalam budaya. Diskusi yang terbuka, kerja sama yang solid, dan kekompakan yang terbangun menjadi pagar yang melindungi lentera agar tidak padam.
Selasar itu menjadi metafora organisasi yang sehat dan tempat nilai dipajang, dibicarakan, dan dihidupi sekaligus. Integritas tidak hanya dibaca di dinding, tetapi diuji dalam percakapan, diuji dalam keputusan, dan diuji dalam kebersamaan.
Di tengah tantangan dunia peradilan yang menuntut ketelitian, ketegasan, dan akuntabilitas tinggi, pesan KMA di selasar PN Tilamuta hadir sebagai kompas moral. Ia tidak berteriak, tetapi mengarahkan. Ia tidak menghakimi, tetapi mengingatkan. Gedung pengadilan bukan hanya berdiri dari beton dan baja, melainkan dari nilai yang dijaga bersama. Dan di selasar PN Tilamuta, nilai itu menyala seperti lentera menerangi setiap langkah menuju keadilan.



