Bagi sebagian orang, mendengar kata pengadilan sering kali menghadirkan bayangan tempat yang serius, bahkan menakutkan.
Ruang sidang terasa seperti dunia yang jauh dari keseharian masyarakat, dipenuhi istilah hukum dan suasana yang tegang.
Namun, siapa sangka di jantung Kota Kediri, ada pengadilan yang justru mematahkan semua anggapan dimaksud.
Pengadilan Negeri Kediri kini dikenal bukan hanya karena tugasnya menegakkan hukum, tetapi juga karena wajahnya yang ramah dan terbuka bagi masyarakat.
Suasana itu, tampak jelas saat halaman Pengadilan Negeri Kediri dipenuhi suara tawa anak-anak dari SDN Mojoroto 1 dan SDN Mojoroto 2.
Dengan seragam rapi dan mata berbinar, mereka datang berkunjung untuk belajar langsung tentang dunia peradilan,tanggal (11/3/2025).
Di dalam gedung yang berdiri megah tersebut, para siswa disambut hangat aparatur Pengadilan Negeri Kediri. Mereka diajak berkeliling, diperkenalkan pada ruang sidang, ruang pelayanan (PTSP) dan dijelaskan bagaimana penyelesaian suatu perkara.
Tidak ada ketegangan, tidak ada rasa takut yang ada hanyalah rasa ingin tahu dan semangat belajar.
Suasana serupa juga terlihat ketika rombongan siswa MAN 2 Kota Kediri datang berkunjung tanggal (20/10/2025). Dengan penuh antusias, mereka berdialog, bertanya, dan bahkan mencoba duduk di kursi hakim untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi penegak keadilan.
Namun, di balik keramahan dan semangat belajar itu, Pengadilan Negeri Kediri menyimpan sejarah yang luar biasa. Gedungnya merupakan peninggalan masa kolonial Belanda, dan kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya kebanggaan kota.
Peristiwa sejarah tergambarkan pada 19 Agustus 1945 Siang, R.S Probokeso Ketua Pengadilan Kediri kala itu gegap gempita mengabarkan telah ramai orang memasang bendera Merah Putih di daerah lain.
Probokeso berlarian dan berteriak mengajak siapapun yang ditemuinya untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Dikumpulkannya masyarakat sekitar gedung Pengadilan Negeri dan Landrecht.
Gemuruh luapan suka cita menyambut proklamasi yang bergaung di Jakarta, memunculkan keberanian luar biasa. Mereka bersama-sama mengibarkan Sang Merah Putih.
Proses pengibaran itu dipimpin sendiri oleh R.S. Probokeso. Bukan di tiang yang tertancap di halaman sebagaimana lazimnya bendera dikibarkan.
Di puncak gedung yang dibangun Belanda itulah, Merah Putih dipasang untuk berkibar-kibar pertama kali di Kediri. Seolah menyebar kabar di Kediri, bahwa Indonesia telah merdeka.
Kini, pengadilan yang dulunya dianggap tempat yang menegangkan, berubah menjadi ruang edukatif yang penuh nilai. Di sini, anak-anak belajar bahwa keadilan bukan sesuatu yang jauh, dan penegakan hukum bukanlah hal yang menakutkan.
Pengadilan Negeri Kediri telah membuktikan, di balik tembok bersejarah ada wajah lembut yang senantiasa terbuka untuk masyarakat. Kemudian di antara langkah kecil para siswa yang berkunjung, ada satu langkah yang kelak, akan menapaki jalan menuju pengabdian di dunia hukum, yang terinspirasi keramahan dan ketulusan dari aparatur Pengadilan Negeri Kediri.




