Ramadan Bulan Al-Qur’an: Naikkan Levelmu!

Memperbanyak membaca dan mengkaji Al-Qur’an menjadi amalan utama yang seharusnya dihidupkan selama Ramadan.
Ustaz Abu Nabil dalam memberikan kajian Ramadan di Masjid Al Mahkamah (26/02) | Dok. Penulis
Ustaz Abu Nabil dalam memberikan kajian Ramadan di Masjid Al Mahkamah (26/02) | Dok. Penulis

Jakarta, MARINews: Dipertemukannya seorang hamba dengan bulan Ramadan adalah nikmat yang sangat besar. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjumpai bulan penuh berkah tersebut. Karena itu, tertundanya ajal dan masih diberinya usia hingga Ramadan patut disyukuri.

Pesan itu disampaikan Ustaz Abu Nabil Ruliyandi dalam kajian Ramadan di Masjid Al Mahkamah (26/02) bertajuk Ramadan Bulan Al-Qur’an. Ia mengingatkan bahwa kesempatan bertemu Ramadan merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

“Ditundanya ajal kita hingga bertemu Ramadan adalah nikmat yang luar biasa. Tidak semua orang diizinkan Allah sampai di bulan ini,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu keistimewaan Ramadan adalah kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk beramal saleh. Ibadah terasa lebih ringan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Qiyamullail, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berbagai amal kebajikan lainnya terasa lebih mudah dijalankan.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa ketika Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu rahmat diluaskan. Hal tersebut, menurutnya, menjadi isyarat bahwa Allah ingin memudahkan hamba-Nya meraih ampunan dan surga-Nya.

Ramadan dan Al-Qur’an

Ustaz Abu Nabil menegaskan bahwa Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang hak dan yang batil.

Karena itu, memperbanyak membaca dan mengkaji Al-Qur’an menjadi amalan utama yang seharusnya dihidupkan selama Ramadan. Ia menjelaskan bahwa orang yang berpuasa dengan pahala paling sempurna adalah mereka yang paling banyak berzikir kepada Allah, dan zikir terbaik adalah membaca Al-Qur’an.

Ia juga meluruskan pemahaman yang keliru terkait hadis “tidur di bulan Ramadan adalah ibadah”. Menurutnya, riwayat tersebut lemah bahkan palsu, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam beribadah.

Tidak Sekadar Membaca

Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga memahami terjemahannya dan mentadabburi maknanya. “Bagaimana mungkin kita memahami pesan Allah jika kita tidak mengetahui maknanya?” tegasnya.

Ia mengingatkan, membaca Al-Qur’an harus berbanding lurus dengan perbaikan akhlak. Tidak sepatutnya seseorang rajin membaca Al-Qur’an namun tetap melakukan ghibah, mencela, atau melanggar larangan Allah.

Mengutip hadis Nabi, ia menyampaikan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Setiap huruf yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan, terlebih di bulan Ramadan di mana pahala dilipatgandakan.

Menurut para ulama, yang disebut sebagai ahlul Qur’an bukan hanya mereka yang membaca dan menghafal, tetapi juga yang mentadabburi dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.

Syafaat Puasa dan Al-Qur’an

Dalam penutup kajian, Ustaz Abu Nabil mengingatkan tentang keutamaan puasa dan Al-Qur’an yang akan memberikan syafaat di akhirat kelak. Puasa akan memohon kepada Allah agar diizinkan memberi pertolongan kepada orang yang menahan lapar dan dahaga karena-Nya. Demikian pula Al-Qur’an akan memohon syafaat bagi orang yang membacanya dan menghidupkan malam dengan tilawah.

Ia berharap Ramadan tahun ini menjadi momentum untuk “naik level” dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an—tidak sekadar membaca, tetapi memahami, menghayati, dan mengamalkannya.

“Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Maka suksesnya Ramadan kita sangat ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an,” pungkasnya.