Allah berfirman: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra 17: 36)
Firman ini membuka kesadaran manusia tentang pentingnya ilmu. Hidup tidak boleh berjalan tanpa pengetahuan. Setiap langkah perlu diterangi oleh pemahaman. Di sana letak kemuliaan akal yang dianugerahkan Tuhan.
Pendengaran adalah pintu pertama pengetahuan. Dari telinga manusia mengenal banyak hal. Kata-kata masuk, lalu membentuk cara berpikir. Karena itu apa yang didengar perlu disaring dengan kesadaran.
Penglihatan adalah jendela yang memperluas cakrawala. Mata menangkap tanda-tanda kehidupan. Alam, manusia, dan peristiwa berbicara melalui penglihatan. Namun mata juga perlu diarahkan oleh kebijaksanaan.
Selain itu, di dalam diri manusia terdapat hati nurani. Ia bukan sekadar perasaan. Ia adalah pusat kesadaran. Dari sanalah lahir kejujuran batin.
Ketika pendengaran, penglihatan, dan hati bekerja bersama, manusia menemukan kejernihan. Pengetahuan menjadi lebih utuh. Pikiran tidak tergesa-gesa menilai. Keputusan lahir dari pertimbangan yang mendalam.
Dalam perjalanan hidup, manusia sering berhadapan dengan berbagai informasi. Tidak semuanya benar. Tidak semuanya layak diikuti. Karena itu, ketenangan berpikir menjadi kunci.
Orang yang bijak tidak mudah terpancing oleh kabar yang belum jelas. Ia menimbang dengan sabar. Ia memeriksa dengan hati yang tenang. Dari sana lahir sikap yang dewasa.
Kesadaran bahwa semua indera akan diminta pertanggungjawaban membuat manusia lebih berhati-hati. Setiap kata yang didengar memiliki pengaruh. Setiap pandangan membawa dampak. Setiap keputusan meninggalkan jejak.
Karena itu, menjaga indera adalah bentuk penjagaan diri. Telinga dijaga dari suara yang menyesatkan. Mata dijaga dari pandangan yang menipu. Hati dijaga dari prasangka yang keliru.
Ketika manusia mampu menjaga ketiga hal itu, hidup menjadi lebih jernih. Pikiran tidak mudah dipenuhi keraguan. Jiwa tidak mudah digoyang oleh kebisingan.
Ilmu kemudian tumbuh secara perlahan. Ia menguatkan keyakinan. Ia memperdalam pemahaman tentang kehidupan. Dari sana lahir keteguhan yang tenang.
Hidup yang dibimbing oleh ilmu akan melahirkan kedamaian. Langkah terasa mantap. Pikiran menjadi terang. Hati pun lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan.
Dengan begitu, manusia berjalan dengan kesadaran yang utuh. Pendengaran, penglihatan, dan hati menjadi penjaga perjalanan hidup. Dengan itu semua, kehidupan bergerak menuju kebijaksanaan yang semakin dalam.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews





