Asal-Usul Tradisi Syawalan
Perayaan Syawalan yang dilaksanakan setiap 8 Syawal dalam penanggalan Hijriah di Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, adalah sebuah tradisi yang sudah lama berlangsung.
Menurut tokoh masyarakat Abdurahim Umar, tradisi itu telah ada sejak 1855. Sayangnya, belum ada bukti atau keterangan tertulis yang mendukung penyataan itu, sehingga ada pula orang yang menyebutkan bahwa tradisi Syawalan bermula dari abad ke-20.
Walaupun ada perbedaan pendapat tentang awal mula perayaan ini, namun semua bersepakat bahwa perayaan Syawalan berkaitan dengan berakhirnya puasa sunah bulan Syawal. Puasa itu dilakukan oleh sebagian masyarakat di wilayah tersebut, para tokoh masyarakat dan sebagian besar warga di wilayah itu.
Tradisi perayaan 8 Syawal ini masih berhubungan dengan rangkaian perayaan Idulfitri. Sehingga, bagi penduduk Pekalongan, perayaan ini seperti penutup dari rangkaian Lebaran Syawal.
Seperti disebutkan, tradisi Syawalan ini berhubungan dengan ibadah puasa sunah enam hari. Orang yang menjalankan puasa enam hari pada tanggal dua sampai dengan tujuh mengikuti anjuran yang termuat dalam hadis dan juga pendapat beberapa ulama.
Ragam Perayaan Syawal di Beberapa Daerah di Jawa Tengah
Tradisi perayaan pada 8 Syawal ini juga dikenal di wilayah lain. Sejumlah daerah di Jawa Tengah mengenalnya dengan Syawalan, ada juga yang menyebut sebagai bakda ketupat.
Dalam sebuah buku berjudul Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch (1882). P.J. Veth menyebut, pesta budaya ini sebagai Bada Lomban. Perayaan 8 Syawal tidak hanya dikenal dengan nama-nama yang berbeda, tetapi juga memiliki kekhasannva masing-masing.
Di Kaliwungu, Kabupaten Kendal misalnya, warga merayakannya dalam bentuk haul Mbah Kyai Guru Asy’ari. Di Muara Demak, Kabupaten Demak, perayaan Syawalan diadakan dalam bentuk acara sedekah laut atau sadran. Di Klaten, perayaan Syawalan diawali dengan kirab gunungan ketupat dari Alun-Alun Klaten menuju Bukit Sidoguro.
Sedangkan di Krapyak, Kota Pekalongan, perayaan Syawalan dirayakan dalam bentuk tradisi silaturahmi (berkunjung dari rumah ke rumah dan pemotongan lopis). Perbedaan masing-masing wilayah dalam merayakan dan memaknai perayaan didasarkan pada nilai-nilai budaya yang dianut warga setempat.
Silaturahmi dan Open House
Perayaan Syawalan di wilayah Krapyak berbentuk kegiatan saling berkunjung satu sama lain. Kunjungan ini dapat berasal dari warga Kota Pekalongan maupun dari wilayah sekitar, asalkan punya hubungan saudara, sahabat, rekan kerja, atau relasi dengan warga pemukim di wilayah Krapyak.
Pada hari perayaan, hampir di setiap rumah membuka rumahnya (open house) untuk tamu. Kunjungan tersebut untuk mewujudkan tali silaturahmi yang dilakukan oleh warga dan para tamu.
Bagi umat Islam anjuran silaturahmi ini sangat ditekankan. Warga Krapyak sadar bahwa silaturahmi tidak cukup hanya bertemu, saling meminta maaf atau saling berjabatan tangan. Mereka harus saling berkunjung, mencicipi suguhan yang disajikan dan saling menanyakan kabar. Kunjungan ke rumah saudara yang dituakan merupakan wujud penghormatan dari kelompok muda.
Sebaliknya, kunjungan oleh orang yang dituakan kepada yang muda merupakan cara menunjukkan perhatian. Di Krapyak, kegiatan saling berkunjung telah meniadi tradisi yang berjalan sepanjang tahun, dan dilaksanakan pada saat Perayaan Syawalan di setiap tanggal 8 Syawal.
Sejarah Lahirnya Lopis Raksasa dan Filosofi Dibaliknya
Awalnya, tradisi Syawalan adalah acara kunjungan ke rumah-rumah saudara atau teman yang tinggal di Krapyak, Kota Pekalongan. Karena jumlah tamu pengunjung membeludak, pada 8 Syawal, Kelurahan Krapyak menjadi tempat yang ramai dengan puluhan hingga ribuan orang berdatangan.
Pintu-pintu rumah dibuka menunggu para tamu mampir berkunjung. Jalan-jalan utama dan gang-gang di wilayah Krapyak menjadi padat dan ramai lalu-lalang para tamu yang datang silih berganti.
Seiring berjalannya waktu, semua wilayah permukiman atau kampung yang ada di wilayah ini merasa memiliki tradisi Syawalan. Mereka mencoba menciptakan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan acara tersebut sesuai dengan pemahaman mereka di dalam merayakan tradisi Syawal.
Pada 1956 , tepatnya di Krapyak Kidul Gang 8, beberapa anak muda mencoba menyemarakan acara Syawalan dengan membuat lopis yang berükuran besar. Berbeda dari lopis yang ada sebelumnya. ukuran lopis tersebut mungkin hampir sama dengan ukuran dandang (panci besar). Tentu lopis ini tidak lebih besar dari ukuran lopis raksasa sekarang, hanya sebesar batang pisang .
Meskipun tidak ada catatan tertulis yang menjelaskan mengapa mereka memutuskan untuk membuat lopis besar tersebut, namun ada yang berpendapat bahwa inisiasi ini sering dikaitkan dengan pidato Presiden Sukarno di Kebun Raja (Tugu Monumen Pekalongan) yang menyinggung lopis sebagai simbol persatuan. Hal ini disampaikan oleh KH. Zainudin Ismail (Almarhum) yang merupakan tokoh masyarakat Krapyak Kidul Gang 8 yang juga merupakan putra dari salah satu penggagas Lopis Raksasa.
Perubahan ukuran dari lopis seukuran dandang hingga lebih besar lagi, bukan semata-mata untuk memberikan hiburan atau sebuah tontonan yang menarik. Tetapi, perubahan ukuran ini dapat memberikan makna lebih tentang tradisi Syawal. Menurut keyakinan orang Jawa, ukuran yang besar atau Sesuatu yang berlebihan dapat memiliki makna simbolis seperti; kekuasaan, kesuburan, kelimpahan, kemajuan dan kemakmuran Karena makna simbolik di balik lopis besar begitu kuat.
Perubahan ukuran lopis mencerminkan pertumbuhan perayaan Syawalan itu sendiri. Dari sebuah perayaan sederhana oleh warga setempat, tradisi ini berkembang menjadi acara yang meriah dan dihadiri oleh puluhan ribu orang. Lopis yang besar menjadi simbol fisik dari perkembangan perayaan ini.
Ukurannya yang fantastis menciptakan dava tarik tersendiri dan tontonan yang luar biasa memikat. Hal itu menjadikan perayaan Syawalan lebih berkesan dan menarik minat orang untuk berkunjung termasuk wisatawan dan pengunjung dari luar daerah, yang kemudian dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Lopis adalah makanan tradisional yang sudah lama dikenal bukan hanya di Krapyak. Bahkan, dalam Serat Centhini yang terbit pada awal abad ke-19, makanan ini sudah dijelaskan sebagai hidangan.
Dari buku Orang Arab di Nusantara, Said bin Abdurahman Basyaiban yang menjadi menantu Raden Adipati Danurejo kemudian beberapa cucunya menjadi Bupati Magelang seperti Alwi bin Said Basyaiban yang bergelar Raden Tumenggung Danuningrat. Konon para keluarga Basyaiban ini mengadopsi lopis untuk dijadikan makanan suguhan utama suatu perayaan.
Tidak ada keterangan pasti alasan dipilinya lopis sebagai suguhan utama.
Namun, hari ini orang telah memaknainya sebagai sebuah doa atau harapan untuk mempererat persaudaraan. Mungkin karena sifat ketan yang lengket dan dalam proses pembuatannya diikat dengan tali rafia sehingga lopis dimaknai dengan simbol persatuan.
Proses Pembuatan Lopis
Proses pembuatan lopis mirip dengan pembuatan lontong dengan Langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perlu disiapkan gulungan daun pisang (sebaiknya menggunakan daun pisang klutuk agar tidak mudah sobek).
2. Kemudian, siapkan beras ketan yang sudah dicuci dan masukkan ke dalam gulungan daun itu sampai penuh.
3. Setelah diisi beras ketan, gulungan daun ditutup dan kemudian dikat dengan tali rafia agar tidak pecah saat proses perebusan.
4. Lopis direbus dalam dandang yang telah disiapkan, dan proses perebusan ini membutuhkan waktu hingga 12 jam agar matang sempurna.
5.Lopis siap disajikan.
Tekstur yang lengket dan padat membuat lopis tidak mudah dipotong. Namun, orang Krapyak memiliki cara khusus untuk memotongnya.
Pertama, tali yang melilit lopis perlu dilepas terlebih dahulu. Lalu daun pembungkusnya dibuka secara berlapis, mirip dengan cara mengupas pisang untuk mempertahankan bagian lopis yang masih tertutup supaya dapat di jadikan pegangan. Lingkarkan benang atau tali pada bagian lopis hingga penuh. Dengan cara ini lopis akan terpotong dengan rapi
Lopis biasanya disajikan dengan parutan kelapa yang telah diberi garam, dan sebagai variasi, bisa ditambahkan dengan kinca atau sirup gula merah yang kental. Pada hari tersebut, hampir semua rumah di Krapyak menyediakan lopis.
Pelestarian Nilai Tradisi
Tradisi Syawalan dan pemotongan lopis di Kelurahan Krapyak adalah sebuah tradisi yang patut dilestarikan dan dikembangkan. Rasa kebanggaan dan kepemilikan atas trádisi itu diperlukan, sehingga muncul keterlibatan seluruh masyarakat lintas generasi dalam menjaga dan merawat serta mengembangkan tradisi Syawalan di Pekalongan.
Sebuah tradisi akan selalu mengalami perubahan. Masyarakat lokal sebagai pemilik tradisi itu harus mampu beradaptasi dan mampu menjaga sistem nilai dasar guna meneruskan tradisi sekaligus merawat sejumlah atribut dan makna simbolik sehingga memberikan sebuah pengalaman bagi pengunjung. Masyarakat dituntut adaptif tanpa kehilangan nilai dasarnya, seperti persatuan dan kemakmuran.