Jakarta, MARINews: Menjaga lisan menjadi salah satu kunci utama keberhasilan ibadah di bulan Ramadan. Pesan tersebut disampaikan oleh Ustaz Fachrurozi Ibn Mu’alim, S.Sos.I dalam Kajian Ramadan yang diselenggarakan di Masjid Al-Mahkamah, Mahkamah Agung RI, Jakarta (24/02).
Dalam tausiyah bertema “Menjaga Lisan”, Ustaz Fachrurozi menekankan bahwa keistikamahan seseorang dalam beribadah sangat erat kaitannya dengan kemampuannya menjaga ucapan. Menurutnya, orang yang istiqamah sejatinya adalah mereka yang mampu mengendalikan lisannya.
“Istikamahnya seseorang dalam ibadah berjalan seiring dengan penjagaannya terhadap lisan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah melatih pengendalian diri. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan emosi, perkataan, serta perilaku yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Mengutip hadis, ia menyampaikan bahwa seseorang tidak akan mampu meluruskan imannya hingga meluruskan hatinya, dan hati tidak akan lurus sampai lisannya terjaga. Karena itu, Ramadan menjadi momentum penting untuk memperbaiki kualitas ucapan dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Secara fikih, seseorang mungkin dinilai berhasil berpuasa karena mampu menahan makan dan minum. Namun, keberhasilan hakiki puasa juga diukur dari kemampuan menahan diri dari bagaimana ia menjaga lidahnya untuk tidak mencaci, menebar kebencian, maupun mencemooh orang lain.
“Allah tidak membutuhkan orang yang hanya menahan lapar dan haus, tetapi tidak menjaga lisannya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tantangan menjaga lisan di era digital. Menurutnya, menjaga ucapan kini tidak hanya dilakukan melalui percakapan langsung, tetapi juga melalui tulisan dan komentar di media sosial.
“Tambahan tugas kita hari ini adalah menjaga jempol. Semua konten bisa dikomentari, tetapi tidak semua harus dikomentari,” ungkapnya.
Ustaz Fachrurozi menambahkan bahwa salah satu amalan yang paling sulit dilakukan di masa sekarang adalah diam. Banyak pelatihan berbicara, tetapi sedikit yang mengajarkan seni menahan diri untuk tidak berbicara ketika tidak diperlukan.
Ia mencontohkan teladan para ulama terdahulu, seperti Sahabat Abu Darda yang menganjurkan umat Islam mempelajari teknik diam sebagaimana mempelajari teknik berbicara. Bahkan terdapat ulama yang melatih diri menjaga lisan selama bertahun-tahun hingga mampu mengendalikan ucapan, termasuk saat marah.
Menurutnya, ibadah puasa sejatinya merupakan latihan besar untuk menjaga lisan agar amal ibadah tidak menjadi sia-sia. Hal ini pula yang menjadi salah satu hikmah turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadan, yakni membimbing manusia agar lebih bijak dalam berkata.
Kajian Ramadan di Masjid Al-Mahkamah sendiri diselenggarakan setiap hari selama bulan Ramadan setelah salat zuhur. Kegiatan ini menghadirkan berbagai penceramah dengan tema yang berbeda setiap harinya, mulai dari penguatan ibadah, akhlak, hingga refleksi kehidupan sosial keagamaan.
Selain diikuti oleh pegawai Mahkamah Agung, kajian ini juga dapat diakses masyarakat umum melalui layanan siaran langsung pada kanal YouTube resmi Masjid Al-Mahkamah, sehingga manfaat kajian dapat menjangkau jamaah yang lebih luas.
Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak hanya ditentukan oleh ibadah lahiriah, tetapi juga kemampuan menjaga lisan, emosi, dan interaksi sosial, baik di dunia nyata maupun ruang digital.





