MARINews, Rangkasbitung-Islam secara tegas melarang umatnya larut dalam sikap putus asa terhadap rahmat Allah SWT.
Sikap tersebut, kerap muncul bukan karena sempitnya rahmat Allah, melainkan akibat keterbatasan manusia dalam memahami keluasan dan maknanya.
Penegasan larangan ini secara jelas termaktub dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 53, yang artinya “Katakanlah: hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Dalam khazanah keislaman, diriwayatkan sebuah kisah yang menggambarkan betapa luas dan tak terbatasnya rahmat Allah SWT.
Dikisahkan, Malaikat Jibril AS pernah turun menemui Rasulullah SAW dengan membawa kabar gembira dari Allah. Jibril menyampaikan bahwa siapa pun dari umat Nabi Muhammad SAW yang sepanjang hidupnya bergelimang maksiat, namun satu tahun sebelum wafat ia kembali kepada Allah dengan memohon ampun, maka seluruh dosanya akan diampuni.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW yang sangat memahami kondisi dan kelemahan umatnya menjawab dengan penuh kasih sayang, bahwa waktu tersebut masih terasa terlalu lama bagi umat Rasul.
Jibril kembali menghadap Allah SWT. Tidak lama kemudian, Jibril AS kembali turun dan menyampaikan bahwa siapa saja dari umat Nabi yang bertobat satu bulan sebelum kematiannya, Allah akan mengampuni seluruh dosanya.
Namun Rasulullah SAW kembali menyatakan waktu itu pun masih terasa panjang bagi umatnya. Jibril kembali menghadap Allah, lalu turun lagi membawa kabar bahwa ampunan Allah diberikan kepada siapa pun yang bertobat satu minggu sebelum wafatnya.
Jawaban Rasulullah SAW tetap sama, menunjukkan betapa Rasul memahami keterbatasan umatnya dalam menjaga konsistensi amal.
Hingga akhirnya, Jibril AS turun kembali dengan membawa salam dari Allah SWT dan menyampaikan bahwa siapa pun dari umat Nabi Muhammad SAW yang sepanjang hidupnya bergelimang dosa baik satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari sebelum wafatnya bahkan ketika ruh telah berada di tenggorokan, meski lidahnya tak lagi mampu berucap, selama matanya menatap penuh harap dan hatinya bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.
Kisah ini menunjukkan Allah tidak pernah lelah mengampuni dan tidak pernah jenuh menerima taubat. Justru sering kali manusia yang enggan kembali dan terjebak dalam keputusasaan.
Padahal, dalam hikmah para ulama dijelaskan saat seorang hamba merasa terdiam oleh dosa dan keburukan dirinya, kemurahan Allah yang seharusnya menggerakkannya untuk kembali berharap. Keluasan rahmat Allah mampu mengangkat siapa pun, meski dosa terasa menggunung.
Sikap putus asa sejatinya menjadi celah bagi setan, sementara terus berharap dan berusaha merupakan bentuk perlawanan terhadapnya.
Seorang hamba sepatutnya datang kepada Allah dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, karena hanya kepada Allah tempat bergantung dan memohon ampun. Rahmat Allah tidak terbatas bagi orang-orang saleh dan alim semata, tetapi terbuka bagi siapa pun yang tidak berputus asa dan terus berupaya mendekat kepadanya.
Maka, seburuk apa pun keadaan diri dan sebanyak apa pun dosa, seorang mukmin hendaknya tidak meninggalkan ibadah dan kebaikan, sekecil apapun bentuknya, agar tetap terjaga ikatan harapan dalam meraih rahmat Allah SWT.
Pelajaran serupa juga tercermin dalam kisah seorang tokoh yang sebagian riwayat dikenal sebagai Abu Nawas, dan riwayat lain disebut Abu Nuas.
Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas, jenius, serta memiliki keahlian luar biasa dalam merangkai syair dan puisi. Namun di balik kecemerlangan akalnya, hidupnya dipenuhi dengan kelalaian, kemaksiatan, dan kebiasaan bermabuk-mabukan.
Dirinya hidup sezaman dengan Imam Syafi‘i Rahimahullah Ta‘ala. Ketika Abu Nawas wafat, kabar kematiannya sampai kepada Imam Syafi‘i. Mengetahui kehidupan masa lalunya, Imam Syafi‘i pada awalnya enggan untuk menyalatinya.
Namun tidak lama kemudian, orang yang memandikan jenazah Abu Nawas menemukan secarik syair indah yang tersimpan di bawah bantalnya. Syair itu berbunyi:
Ilahi lastu lil-Firdausi ahlā , Wa lā aqwā ‘alā nāril-jahīmi, Fahab lī taubatan waghfir dzunūbī, Fa innaka ghāfirudz-dzanbil-‘azhīmi
Yang maknanya: “Wahai Tuhanku, aku sadar bahwa aku bukanlah hamba yang layak untuk menempati Surga Firdaus. Namun aku pun tak sanggup jika harus dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Maka anugerahkanlah kepadaku taubat dan ampunilah dosa-dosaku, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa yang besar.”
Ketika syair itu dibacakan kepada Imam Syafi‘i, hatinya tersentuh. Dalam sebagian riwayat disebutkan ia segera mendatangi tempat pemakaman untuk menyalatinya, sementara riwayat lain menyebutkan Imam Syafi’I mendoakan Abu Nawas setelah dimakamkan.
Kisah Abu Nawas ini, menjadi pelajaran penting bahwa manusia tidak berhak memvonis akhir hidup seseorang. Pintu hidayah dan ampunan Allah tetap terbuka hingga akhir hayat.
Setiap insan memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik, selama nyawa masih dikandung badan. Maka, sikap yang paling utama adalah mendoakan sesama, bukan mencela, agar doa tersebut menjadi jalan kebaikan dan husnul khatimah.
Pada akhirnya, bukan besarnya dosa yang paling patut ditakuti oleh seorang hamba, melainkan saat hatinya kehilangan harapan dan berhenti berharap kepada Allah.
Sebab dosa, sebesar apapun, masih berada dalam jangkauan ampunannya. Kondisi berbahaya adalah saat seorang hamba merasa terlalu jauh, terlalu kotor, lalu enggan kembali.
Rahmat Allah senantiasa terbentang luas, melampaui murkanya, menanti setiap jiwa yang ingin pulang dengan kerendahan hati dan kesungguhan taubat.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews.





