Lailatul Qadar atau Malam Kemuliaan, adalah puncak keutamaan dalam bulan suci Ramadan. Disebutkan dalam surah Al-Qadar (QS. 97:1-5), malam ini digambarkan sebagai saat turunnya Al-Qur'an pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW, di mana ibadah di dalamnya bernilai lebih tinggi daripada ibadah selama seribu bulan. Bagi umat Islam, Lailatul Qadar bukan sekadar malam biasa, melainkan portal rahmat ilahi yang membuka pintu ampunan, keberkahan, dan penentuan takdir. Di Indonesia, malam Lailatul Qadar dirayakan dengan penuh khidmat di masjid-masjid, musholla, dan rumah-rumah, sekaligus menjadi momen refleksi spiritual di tengah kehidupan sehari-hari.
Surah Al-Qadar terdiri dari lima ayat singkat tapi penuh makna: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kebaikan sampai terbit fajar" (QS. Al-Qadar: 1-5).
Secara historis, Lailatul Qadar pertama kali terjadi pada tahun 610 M di Gua Hira, Mekah, saat wahyu pertama turun kepada Nabi SAW. Hadits Nabi SAW dalam Shahih Bukhari menjelaskan bahwa pada malam ini, Allah SWT menetapkan qadar (takdir) makhluk-Nya hingga tahun depan, termasuk rezeki, jodoh, umur, dan ujian hidup. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu" (HR. Bukhari-Muslim). Ini menjadikan malam ini sebagai "reset spiritual" tahunan.
Keutamaan malam Lailatul Qadar adalah penggandaan pahala: satu malam setara 83 tahun 4 bulan ibadah penuh. Bayangkan metafor ini, seperti investasi kecil yang menghasilkan bunga berlipat ganda. Malaikat-malaikat, dipimpin Jibril AS, turun membawa rahmat, doa orang beriman dikabulkan, dan setan dibelenggu. Hadits lain dari Anas bin Malik RA menyebutkan bahwa siapa pun yang melewatkan Lailatul Qadar karena tidur, seperti kehilangan harta karun. Di Indonesia, tradisi seperti "selamatan" atau pengajian malam ganjil mencerminkan pemahaman ini, meski esensinya tetap pada ibadah pribadi.
Nabi SAW tidak menyebut tanggal pasti untuk mendorong umatnya beribadah konsisten. Petunjuknya: pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29). Ibnu Abbas RA meriwayatkan malam ke-27 paling mungkin, tapi Aisyah RA bilang Nabi SAW "menggiatkan" seluruh sepuluh malam. Tanda-tandanya: cuaca sejuk tanpa angin kencang, matahari terbit merah tanpa sinar menyilaukan (HR. Muslim), dan hati merasa damai luar biasa.
Aisyah RA bercerita: Saat Nabi SAW bertemu Lailatul Qadar, beliau berdoa, "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, menyukai ampunan, maka ampunilah aku). Kisah Umar bin Khattab RA yang bangun malam untuk shalat hingga pagi, atau Ali bin Abi Thalib RA yang tadarus Al-Qur'an hingga hafal, menginspirasi generasi. Di zaman modern, cerita seorang ulama Indonesia seperti Buya Yahya yang rutin i'tikaf sepuluh malam terakhir menunjukkan betapa malam ini mengubah hidup jutaan orang.
Lailatul Qadar adalah ujian ketakwaan, apakah kita rela berkorban tidur demi pahala abadi? Seperti pohon yang akarnya dalam di malam itu, hidup kita akan subur sepanjang tahun. Mari sambut sepuluh malam terakhir Ramadan dengan semangat Nabi SAW, semoga Allah SWT mudahkan kita bertemu malam suci ini dan kabulkan segala doa. Wallahu a'lam bish-shawab.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews





