Tulisan ini mengajak pembaca merenungkan panggilan terdalam manusia: memuji dan memuliakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup, terutama melalui kepedulian pada sesama yang lemah dan terpinggirkan.
Melalui transformasi filosofi salat, peradilan diharapkan tidak sekadar menjadi institusi hukum, tetapi ruang menghadirkan cahaya keadilan yang bersumber dari ketundukan kepada Tuhan.
Kesekretariatan di pengadilan sering kali tidak berada di garis depan proses persidangan, namun kontribusinya sangat menentukan keberlangsungan dan kualitas penyelenggaraan peradilan.
Dari waterlooplein peninggalan Hindia Belanda hingga berdirinya Monumen Pembebasan Irian Barat, kawasan ini merekam berbagai peristiwa penting yang membentuk identitas ibukota.
Persidangan pun tak bisa dilanjutkan. Para pencari keadilan yang sudah hadir, yang mungkin sudah menunggu berminggu-minggu untuk hari itu, harus pulang dengan tangan hampa.
Buku Dari Aristoteles Hingga Al-Ghazali: Filsafat Untuk Berpikir Kritis karya Alfa Amorrista menghadirkan filsafat dengan pendekatan yang ringan, praktis, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tulisan reflektif yang memetik pelajaran penegakan hukum dari gaya bermain Mansour Bahrami, tentang kecerdikan, kepekaan rasa, dan keberanian keluar dari pola kaku tanpa meninggalkan aturan.
Mengulas makna sebutan Hakim NKRI sebagai simbol pengabdian, kesederhanaan, dan keteguhan integritas di tengah keterbatasan penugasan dan beratnya tanggung jawab peradilan.
Komitmen yang dituangkan dalam dokumen tersebut diharapkan tidak berhenti pada tanda tangan, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam sikap, perilaku, dan budaya kerja aparatur peradilan sehari-hari.