Sebuah keluarga kecil sedang berjalan-jalan di sore hari sambil melihat-lihat keadaan komplek yang dipenuhi oleh banyak anak kecil yang mengendarai sepeda melintasi jalan setapak yang licin sehabis hujan deras. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri dan seorang anak yang baru berumur sembilan tahun. Jalan Komplek perumahan dihiasi oleh beberapa persimpangan jalan yang dapat dilintasi dengan berjalan kaki, sepeda atau sepeda motor. Dengan langkah pelan, tanpa henti dan hati yang riang gembira, keluarga kecil itu menapaki komplek perumahan. Komplek itu sendiri didiami oleh banyak keluarga muda yang baru beberapa tahun pindah ke daerah tersebut.
Suatu kali saat sedang mengelilingi komplek, si anak mengambil jalan lain yang berbeda dengan jalan yang biasa dilalui kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sepakat untuk mengikuti jalan yang dilalui si anak sambil menggandengnya agar tidak tersesat dan tertabrak oleh kendaraan yang melintas. Si anak kemudian berkata, “jalan yang sebelah sana banyak kubangan airnya jadi aku memilih jalan yang sebelah sini pa.” Lalu sang ayah menuntun tangan si anak dan mengikuti jalan si anak diikuti oleh sang ibu. Sang ayah kemudian berujar, “baiklah nak, papa ikuti jalan kamu tapi papa tuntun ya. Nanti ada sepeda motor yang sering lalu lalang di jalan ini.” Sang anak dengan tatapan yakin menggenggam tangan sang ayah dan mereka bertiga pulang ke rumah dengan jalan yang diinginkan sang anak.
Dalam perjalanan, sang Ibu berkata kepada si anak, “lain kali jangan memisahkan diri dari kami ya anak. Tadi mama cari kamu soalnya. Ternyata mengikuti jalan lain.” Lalu mereka bertiga tiba di rumah dengan penuh tawa dan sukacita setelah jalan-jalan sore.
Cerita di atas menggambarkan bahwa manusia sering memilih jalan yang mudah untuk sampai di tujuannya. Padahal jalan yang berliku, dipenuhi hambatan dan rintangan merupakan jalan terbaik untuk sampai di tujuan. Mengapa manusia sangat menyukai jalan pintas atau shortcut untuk meraih tujuannya? Hal itu tidak lain karena jalan berliku yang dipenuhi rintangan dan hambatan membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra untuk dilalui sehingga waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tujuan akan lebih lama.
Dalam Matius 16: 24-27 tertulis Firman Tuhan, “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.”
Dalam Firman-Nya, Tuhan Yesus menekankan satu hal yang amat fundamental dan mendasar sekali yaitu perjalanan menuju kampung halaman surgawi yang merupakan tujuan akhir hidup manusia menuntut perbaikan diri yang sangat hebat untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Mahakuasa.
Setelah mengalami perubahan hidup yang hakiki, setiap orang dituntut untuk memanggul salib, artinya setiap orang perlu melewati banyak sekali rintangan dan hambatan yang besar maupun kecil untuk mendekatkan diri kita dengan Yesus Kristus Tuhan kita. Setiap orang yang senantiasa melaksanakan kehendak-Nya tentu akan mengalami banyak sekali cemoohan, gunjingan, hasutan, fitnahan, hinaan, dan lain sebagainya. Jalan menuju surga menuntut kita untuk melewati ujian yang besar untuk sampai pada ketaatan permanen dan tiba pada kekudusan hidup yang merupakan syarat mutlak untuk berjumpa dengan Allah.
Kesucian hidup merupakan pintu utama untuk masuk gerbang surgawi sebagai tujuan final kehidupan kita. Tanpa kesucian atau kekudusan, manusia tidak dapat melihat Tuhan Yang Maha Kudus. Oleh karena itu, niat mulia seseorang untuk meraih surga sudah selayaknya mendapatkan ujian yang sesuai agar niat menjadi murni dan ikhlas. Seperti emas yang diuji dalam dapur api. Setelah kita menyangkal diri dan memikul salib, kita diharuskan mengikuti Tuhan Yesus melalui sabda-Nya yang dapat kita baca dan renungkan dalam kitab suci.
Tuhan Yesus adalah teladan utama yang wajib menjadi sumber kehidupan kita dengan tanpa keraguan. Mengikuti Tuhan Yesus artinya melepaskan semua keterikatan, kelekatan, kecenderungan, dan ketergantungan kita terhadap dosa yang akan membawa manusia pada kebinasaan kekal. Tuhan Yesus betul-betul memahami keadaan manusia yang tidak dapat melepaskan dosa karena dosa Adam yang merupakan dosa asal sudah melekat dalam diri manusia sejak dilahirkan.
Akan tetapi, Roh kudus telah dicurahkan dalam diri manusia melalui baptisan. Bagi Umat Kristiani, babtisan berarti memindahkan orang berdosa dari maut kepada hidup. Setiap orang yang menerima babtisan telah dimateraikan oleh darah Yesus, yang telah memberikan tanda bahwa setiap manusia yang dibabtis telah dipersatukan oleh kematian dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

