Aku berpikir maka aku ada, ungkapan terkenal tersebut hampir pasti pernah dibaca bahkan oleh bukan penggemar filsafat sekalipun. Ini menandakan diskursus filsafat telah menyentuh seluruh lapisan pembelajar, disadari atau tidak.
Yang membedakan, ada kalangan yang betul-betul menyelami filsafat dengan sungguh-sungguh dan ada juga yang tidak. Meskipun begitu dapat dipastikan selama seseorang itu berpikir maka saat itulah ia berfilsafat, karena esensi filsafat adalah berpikir.
Bagi kalangan yang kurang menggemari filsafat, bisa jadi alasannya adalah karena filsafat itu subjek pembelajaran yang menyeramkan dan sangat menguras otak. Itu terjadi karena ia belum membaca buku karangan Alfa Amorrista yang berjudul Dari Aristoteles Hingga Al-Ghazali: Filsafat Untuk Berpikir Kritis.
Buku ini, hadir untuk lebih mendekatkan filsafat kepada masyarakat, terutama pembelajar yang bukan filsuf. Berbeda dengan kebanyakan buku-buku filsafat lainnya, buku terbitan Anak Hebat Indonesia setebal 272 halaman ini menyajikan filsafat dengan pendekatan yang lebih praktis dan gaya bahasa yang lebih ringan.
Buku ini akan membawa kita mampu mengkontekstualisasikan pemikiran berbagai filsuf dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensinya buku berisi 20 bab pembahasan ini menjadi kurang relevan untuk dijadikan sumber rujukan penulisan ilmiah. Namun itulah kekuatan utama buku terbitan tahun 2024 tersebut, karena ia mampu membumikan filsafat yang selama ini melangit.
Hal ini selaras dengan kritik Petrarca, yang juga dibahas di dalam buku tersebut, bahwa filsafat menjadi tidak berguna apabila masih berkutat pada tataran teori. Filsuf sejati harus mampu melahirkan pemikiran yang dapat dikontekstualisasikan serta diaktualisasikan.
Kelemahan buku ini, yang di sisi lain juga menjadi kekuatan utamanya, karena terlalu fokus pada upaya kontekstualisasi, sehingga menyebabkan pembahasan terhadap pemikiran para filsuf menjadi kurang mendalam.
Penulis juga, terkesan memilih satu atau dua pemikiran seorang filsuf yang relevan dengan kehidupan masa kini untuk disajikan kepada pembaca, padahal filsuf tersebut melahirkan pemikiran yang lebih daripada itu, seperti pada pembahasan pemikiran Al-Ghazali dan Immanuel Kant.
Selain itu, penulis juga kurang konsisten dalam memilih untuk membahas sosok filsuf dan pemikirannya atau tokoh yang memicu kelahiran gerakan pemikiran baru. Pembaca akan menyadari itu saat membuka bab Emilie du Chatelet, dimana pembaca tidak akan menemukan pemikiran Emilie disana, sebab penulis justru membahas dampak dan pengaruh Emilie terhadap kemunculan gerakan feminisme, yang secara langsung juga bukan dicetuskan oleh Emilie itu sendiri.
Terlepas dari kekurangannya, yang menarik buku tersebut juga turut menyajikan pemikiran para filsuf yang selama ini jarang tersorot, seperti Kierkegaard dan Baumgarten. Sehingga akan menambahkan perspektif baru bagi pembaca yang jarang bergelut dengan dunia filsafat.
Pada bab terakhir, penulis mendorong para pembacanya untuk mampu merefleksikan tidak hanya pemikiran para filsuf, tapi juga perjuangan mereka dalam memperkaya dan menyebarkan gagasannya.
Anyway, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi pembelajar yang belum (dan tidak) menggemari filsafat. Bahkan mungkin saja buku ini dapat menjadi wasilah awal yang pada akhirnya menumbuhkan kecintaan kita pada filsafat.





