Pesan Mendalam Ketua PTA Bengkulu: Hakim Harus Low Profile Namun Tetap Menjaga Wibawa Wakil Tuhan

Melalui pembinaan akhir Januari, para hakim diingatkan untuk bersikap low profile dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan wibawa sebagai penjaga marwah peradilan.
(Foto: Pembinaan dari Ketua PTA Bengkulu | Dok. M. Yanis Saputra)
(Foto: Pembinaan dari Ketua PTA Bengkulu | Dok. M. Yanis Saputra)

Bengkulu - Menutup penghujung bulan Januari, Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Bengkulu menggelar kegiatan yang bertajuk "Pembinaan dan Rapat Kesepahaman Terhadap Pemahaman Hukum serta Komitmen Peningkatan Kinerja dan Integritas" pada Rabu (28/01/2026). Bertempat di aula utama PTA Bengkulu, kegiatan ini dihadiri langsung oleh seluruh jajaran pimpinan mulai dari Ketua, Wakil Ketua, hingga Hakim Pengadilan Agama dari seluruh wilayah hukum PTA Bengkulu.

Menjaga Marwah di Tengah Sorotan Publik

Dalam arahannya yang tajam dan mendalam, Ketua PTA Bengkulu, Dr. Ahmad Fathoni, S.H., M.Hum, menekankan bahwa peningkatan kinerja harus berjalan beriringan dengan penguatan integritas moral. Beliau kembali mengingatkan seluruh hakim mengenai pentingnya menghayati Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) sebagai "pagar gaib" dalam menjalankan tugas profesi.

Salah satu poin yang menjadi sorotan utama dalam pembinaan tersebut adalah peringatan agar para hakim lebih berhati-hati dalam menata kehidupan pribadi. Ketua PTA Bengkulu memberikan peringatan tegas agar para hakim tidak terjebak dalam masalah etika domestik atau yang beliau istilahkan dengan masalah "pihak ketiga dalam rumah tangga.”

"Sudah banyak contoh kasus yang berujung pada pelaporan ke Badan Pengawasan (Bawas). Hal ini tidak hanya menghancurkan karier individu, tetapi juga mencoreng kehormatan institusi peradilan secara keseluruhan," tegas Ketua PTA Bengkulu di hadapan para peserta.

Prinsip Low Profile Namun Berwibawa

Lebih lanjut, Ketua PTA Bengkulu mengajak seluruh hakim untuk kembali ke jati diri hakim yang sesungguhnya: pribadi yang tenang dan tidak pamer (low profile). Di era keterbukaan informasi saat ini, gaya hidup seorang hakim menjadi sorotan masyarakat.

Di akhir pembinaannya, beliau mengatakan "Hakim harus mampu bersikap low profile dalam kesehariannya, namun tidak boleh kehilangan wibawa saat menjalankan fungsinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Integritas itu bukan hanya soal menolak suap, tapi juga soal menjaga martabat diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial,".

Penulis: M. Yanis Saputra
Editor: Tim MariNews