Family Gathering PN Tanjung Jabung Timur: Ikhtiar Pengabdian Sepenuh Hati

Kegiatan ini menegaskan bahwa pengabdian di lingkungan peradilan tidak hanya bertumpu pada profesionalitas hukum, tetapi juga pada dukungan keluarga sebagai fondasi integritas dan keseimbangan batin aparatur.
(Family Gathering PN Tanjung Jabung Timur: Memupuk Asa, Menyatukan Rasa |Dok. PN Tanjung Jabung Timur)
(Family Gathering PN Tanjung Jabung Timur: Memupuk Asa, Menyatukan Rasa |Dok. PN Tanjung Jabung Timur)

Tanjung Jabung Barat - Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Jabung Timur menyelenggarakan kegiatan Family Gathering dengan tema “Memupuk Asa, Menyatukan Rasa” pada Sabtu (7/2/2026) bertempat di Ballroom Hotel Wiltop Jambi. Kegiatan ini diikuti oleh keluarga besar PN Tanjung Jabung Timur yang terdiri dari para hakim dan aparatur peradilan, yang diikuti juga oleh keluarga masing-masing.

Acara tersebut dibuka oleh Ketua PN Tanjung Jabung Timur, Anisa Primadona Duswara, didampingi Wakil Ketua PN Tanjung Jabung Timur, Yustisia Permatasari, serta dihadiri oleh seluruh unsur aparatur pengadilan beserta keluarganya. Kehadiran keluarga dalam kegiatan ini menegaskan bahwa pengadilan tidak hanya dipahami sebagai institusi kerja, tetapi juga sebagai ruang pengabdian yang melibatkan dimensi kemanusiaan secara utuh.

Dalam sambutannya, Ketua PN Tanjung Jabung Timur menekankan bahwa tugas aparatur peradilan menuntut pengabdian yang dijalankan dengan ketulusan dan keseimbangan batin. Menurutnya, pengabdian tersebut akan tumbuh lebih kokoh apabila ditopang oleh keluarga yang memahami nilai dan tanggung jawab lembaga peradilan. “Pengabdian sepenuh hati tidak lahir dari individu yang berjalan sendiri, melainkan dari lingkungan yang saling menguatkan, termasuk keluarga,” tegasnya.

Family gathering ini diselenggarakan sebagaimana nilai dan arahan Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. Sunarto, yang menekankan bahwa kepemimpinan dan pengabdian di lingkungan peradilan tidak cukup bertumpu pada kecakapan hukum semata, melainkan harus berakar pada kejernihan hati, kerendahan sikap, kehati-hatian, dan pengabdian yang dijalankan secara total.

Secara filosofis, family gathering dimaknai sebagai upaya membangun keutuhan manusia aparatur peradilan. Aparatur peradilan tidak bekerja dalam ruang hampa, melainkan membawa seluruh kondisi batin, nilai, dan relasi personalnya ke dalam pelaksanaan tugas. Keseimbangan antara kehidupan profesional dan kehidupan keluarga menjadi prasyarat penting bagi lahirnya ketenangan batin, kejernihan sikap, serta kemampuan mengambil keputusan secara objektif dan berkeadilan.

Dalam kerangka tersebut, keluarga dipandang sebagai fondasi awal pembentukan integritas aparatur. Ketika keluarga memahami peran, tanggung jawab, dan nilai-nilai lembaga peradilan, dukungan yang diberikan tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga moral. Dukungan inilah yang memperkuat aparatur untuk tetap teguh pada etika, independen dalam bersikap, serta konsisten menjunjung nilai keadilan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Melalui kegiatan ini, PN Tanjung Jabung Timur menegaskan komitmennya untuk membangun peradilan yang tidak hanya kuat secara struktural dan normatif, tetapi juga kokoh secara moral dan kemanusiaan. Dengan dukungan keluarga yang memahami tanggung jawab serta nilai-nilai lembaga peradilan, aparatur peradilan diharapkan mampu menjalankan tugas dan kewenangannya dengan integritas pada tingkat yang tertinggi, demi terwujudnya peradilan yang berkeadilan dan dipercaya masyarakat.

Penulis: Christoper Hutapea
Editor: Tim MariNews