Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki hasrat untuk dicintai oleh Sang Pemberi Hidup. Hasrat ini memang sudah ada dalam diri manusia untuk mengalami kasih sayang Tuhan yang tidak akan bisa digantikan oleh kasih sayang yang lain.
Hasrat untuk memperoleh kasih sayang ini sudah diletakkan oleh Tuhan saat manusia diciptakan di muka bumi ini. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).
Nabi Salomo sebagai penulis Kitab Pengkhotbah menyatakan bahwa Tuhan sudah meletakkan kasihnya dalam hati manusia agar berdaya guna untuk dikembangkan dan dikelola dengan baik guna menuntun manusia sampai pada kehidupan kekal.
Kehidupan kekal sudah ada di dalam hati manusia sejak manusia diciptakan Tuhan. Maka dari itu manusia yang telah jatuh dalam dosa seharusnya bertobat dan kembali pada kodratnya yaitu bersatu dengan Tuhan dalam keabadian. Kasih Tuhan yang berdiam dalam sanubari manusia merupakan anugerah Tuhan untuk melenyapkan kesombongan dan kekecewaan.
Manusia dikuasai oleh dosa dan pelanggaran yang tidak pernah bisa diampuni bila Kasih Tuhan tidak disadari sepenuhnya karena hanya kasih inilah obat paling ampuh untuk mengobati “penyakit” parah manusia yaitu penolakan. Penolakan adalah bentuk dari rasa benci dan diskriminasi yang pelan-pelan bisa membunuh orang beriman untuk menggapai keabadian.
Saat Tuhan Yesus masuk kota Yericho, ada seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus. Ia berbadan pendek dan memiliki kerinduan untuk berjumpa dengan Yesus. Maka dari itu, Ia memanjat pohon ara dan berusaha melihat Yesus dari atas pohon supaya lebih jelas kelihatannya. Tak disangka oleh Zakheus, Yesus menyapanya dengan ramah dan menyatakan keinginannya untuk menumpang di rumah Zakheus.
“Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu,” (Lukas 19:5). Kerinduan Zakheus untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus berbalas dan melegakan dahaga jiwanya yang tandus.
Zakheus tidak diterima oleh orang-orang yang hidup di sekitarnya lantaran profesinya yaitu pemungut cukai.
Pemungut cukai yang hidup pada zaman Yesus merupakan salah satu profesi yang dibenci oleh orang Yahudi lantaran berkhianat pada orang sebangsanya.
Kesetiaan mereka berpusat pada bangsa Romawi dan para pemungut cukai sering kali memungut pajak dengan jumlah yang amat tinggi sehingga merugikan para wajib pajak yang dalam hal ini adalah bangsa Yahudi. Stigma yang diberikan kepada pemungut pajak yang adalah orang berdosa dan harus dijauhi.
Zakheus yang adalah kepala para pemungut cukai tentunya adalah salah satunya dan dapat dipastikan, ia memiliki harta berlimpah dan kekayaan yang fantastis di kota Yericho.
Namun ada satu hal yang mengganjal jiwanya yaitu kehampaan jiwa dan penolakan yang dialaminya dari orang-orang sebangsanya. Kehampaan jiwa dan penolakan ini menjadikan dirinya gelisah untuk menemukan hal yang dapat mengisi kehampaan hidupnya. Kehampaan ini hanya bisa dipuaskan oleh Tuhan Yesus sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan sejati. Yesus pun mencari Zakheus agar ia kembali pada pelukan-Nya. Tuhan Yesus sungguh rindu mendekap Zakheus untuk masuk dalam rangkulan kasih-Nya yang disediakan sejak awal dunia.
Dua Pribadi yang saling merindukan akhirnya bertemu dan saling melampiaskan rasa kangennya satu sama lain di rumah Zakheus. “Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita,”( Lukas 19:6). Ayat ini sangat jelas sekali maknanya sebab Zakheus yang sudah bergelut dengan jiwanya setiap hari telah menemukan belahan jiwanya yang akan menuntunnya ke kehidupan kekal yaitu Tuhan Yesus sang Raja Kemuliaan Kekal. Sukacita Zakheus membuktikan bahwa jiwa yang tandus dan kering mulai merangkak masuk ke dalam kebahagiaan sejati yang telah dinantikan Zakheus. Zakheus belum menyadari bahwa Tuhan Yesus sedang mencarinya untuk tinggal dalam kasih-Nya yang sangat dibutuhkan Zakheus untuk melawan arus dunia yang mengarah pada kebinasaan.
Penolakan warga Yericho terhadap Zakheus memuncak saat Yesus memutuskan untuk tinggal di rumah Zakheus. ”Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa,” ( Lukas 19:7). Kenyataan kasih antara Tuhan dan manusia yang tergambar antara Zakheus dan Tuhan Yesus terdistorsi oleh gunjingan semua orang yang hadir di dekat Zakheus. Orang banyak cenderung untuk menghakimi orang berdosa dan terputus dari hubungan sosial budaya.
Orang seperti Zakheus tidak punya tempat yang layak di mata warga Yericho yang menganut agama Yahudi. Warga Yericho pun tidak mengenal Tuhan Yesus secara dekat karena anggapan mereka tentang Tuhan Yesus adalah seorang pemimpin kharismatik yang akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi. Pandangan mereka tentang Yesus berubah setelah Yesus memutuskan untuk tinggal di rumah Zakheus. Penghakiman warga Yericho ini justru dihalau oleh Tuhan Yesus yang mengutamakan manusia sebagai mahkluk yang paling berharga.
”Pada waktu ahli-ahli taurat dan golongan farisi melihat: bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya : “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit, Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa,”(Markus 2:16-17). Pada ayat yang tertulis di Injil Markus ini Tuhan ingin menyampaikan hal yang amat fundamental yaitu bahwa penolakan merupakan penyakit yang sungguh mematikan bagi jiwa seseorang untuk bertumbuh dalam iman. Penolakan adalah sumber dari rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama yang mengarah pada kematian kekal.
Penolakan memang tidak bisa dihindari oleh setiap orang beriman karena pendapat orang lain tentang diri kita memang tidak bisa dibendung.
Penolakan adalah kendaraan iblis untuk memisahkan manusia dari belas kasih Tuhan. Semua hal ini tentunya menghambat manusia untuk setia pada kehendak dan rencana keselamatan abadi yang telah dirancang oleh Tuhan sejak dunia dijadikan. Hambatan ini akan menjadikan seseorang terbuang, terpinggirkan dan terlupakan dari pergaulan sehari-hari.
Sikap penolakan dan kebencian pasti akan diperlihatkan oleh setiap orang yang merasa dirinya kaya, punya pangkat dan jabatan, punya kedekatan politik dengan pejabat yang lebih tinggi, punya gelar akademik unggul, dan bermoral baik kepada setiap insan yang miskin, tak berpangkat, tak punya siapa-siapa untuk jadi cantolan pejabat, berpendidikan rendah, orang yang baru keluar penjara, dan orang yang memiliki keterbelakangan mental.
Penolakan dan kebencian seperti ini tentu akan menjerumuskan orang kepada kebinasaan kekal. Hal ini sungguh sangat menyakitkan dan menyesakkan karena manusia tidak lagi bernilai dan berharga di mata orang yang berkedudukan tinggi dan kaya raya.
Situasi ini tentunya membatasi pergaulan si kaya dan si miskin untuk tidak setara dalam perlakuan sosial dan diskriminasi tidak dapat dihindari untuk terjadi di masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan pertobatan dari si kaya dan si miskin untuk menjemput keselamatan yang telah disediakan oleh Tuhan Yesus.
Zakheus yang jiwanya tercabik-cabik akibat penolakan dan kebencian oleh orang sebangsanya akhirnya memutuskan untuk bertobat dan mengembalikan setengah dari miliknya kepada orang miskin serta dia juga akan mengembalikan empat kali lipat jumlah uang kepada siapa pun yang telah diperasnya. “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat,” ( Lukas 19:8).
Sikap Zakheus yang bertobat merupakan respons indahnya dari penerimaan yang telah diperlihatkan oleh Tuhan Yesus kepada Zakheus. Tuhan Yesus tidak menghakimi Zakheus dengan kebencian namun Ia mendekati Zakheus dengan Pengampunan dan belas kasih yang tulus.
Belas kasih ini yang mengubah hati Zakheus yang keras membatu menjadi terkikis oleh air hidup yang telah dicurahkan ke dalam hati Zakheus melalui firman-Nya yang melegakan jiwanya.
Penerimaan yang penuh belas kasih dan pengampunan tentunya akan menolong setiap orang dari penolakan dan kebencian. Penerimaan kepada mereka yang tersudutkan dan teraniaya merupakan satu-satunya cara untuk membuka pintu keselamatan yang telah disediakan oleh Tuhan Yesus kepada setiap orang yang mau menjadi murid-Nya. Tanpa penerimaan, belas kasih dan pengampunan, setiap orang tidak akan pernah bisa untuk menggapai keselamatan abadi karena terang kasih Tuhan terhalangi oleh penolakan dan kebencian.
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang-orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi,” (Lukas 11: 52).
Tuhan Yesus menegur dengan keras para ahli Taurat yang mengerti kitab suci namun tidak melakukannya karena mereka tidak memiliki kasih Tuhan. Diri mereka hanya dipenuhi dengan ayat-ayat Taurat beserta aturan dan tata ibadah Yahudi. Seharusnya mereka memahami secara penuh isi hati Tuhan yang dituliskan dalam kitab Taurat.
Tetapi para ahli Taurat ini malah justru mengucilkan setiap orang yang perilakunya bertentangan dengan kitab Taurat. Hal inilah yang ditentang oleh Tuhan Yesus karena kasih dan pengampunan kepada para pendosa jauh lebih utama daripada tata ibadah dan buku Taurat yang merupakan benda mati.
Tuhan Yesus sangat menekankan dan mengingatkan para ahli Taurat untuk melaksanakan semua perintah dan larangan yang ada dalam kitab Taurat dengan kasih dan pengampunan karena hal tersebut jauh lebih berharga daripada menyudutkan orang berdosa seperti Zakheus.
Para Ahli Taurat dan orang Farisi di kota Yericho sungguh sangat membenci Zakheus karena profesinya sebagai pemungut cukai.
Zakheus juga merupakan kaki tangan bangsa Romawi yang dianggap kafir oleh orang Yahudi, sehingga Zakheus dinilai sebagai penjahat dan penghianat bangsa Yahudi.
Pertobatan Zakheus adalah pintu masuk bagi dirinya untuk menerima keselamatan dari Tuhan Yesus yang pada saat itu dalam perjalanan ke Yerusalem karena perjalanan ke Yerusalem pastinya harus melewati kota Yericho yang sungguh amat sejuk.
Secara geografis, kota Yericho merupakan kota yang subur dan kaya akan pertanian serta peternakannya. Kota yang dihuni oleh para pedagang, pengusaha, peternak dan petani kaya. Oleh karenanya perjalanan dari Yerusalem ke Yericho merupakan jalur yang amat berbahaya karena sering kali terjadi perampokan di jalur tersebut. Jalur dari Yerusalem ke Yericho yang menurun merupakan jalur empuk bagi terjadinya tindak kriminal dan biasanya jalan itu dilalui oleh saudagar kaya raya yang akan pulang ke Yericho dari Yerusalem.
Kisah tentang orang Samaria yang baik hati yang ditulis di Injil Lukas 10: 25 – 37 terjadi di jalur tersebut yang dipenuhi dengan kasih dan kepedulian yang hebat dari orang Samaria kepada orang Yahudi karena orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Dikisahkan tentang seorang Yahudi yang tergeletak di jalan karena dirampok dan dianiaya hingga tak berdaya oleh perampok yang mengambil seluruh hartanya.
Pertama kali muncul seorang imam di jalan itu tetapi ia mengabaikan orang Yahudi itu dan melewati orang sekarat itu. Kedua muncul seorang Lewi di jalan itu namun dia juga melewatinya tanpa menolong orang yang luka parah tersebut. Ketiga muncul orang Samaria yang sedang bepergian menggunakan keledai, ia melihat orang Yahudi itu sedang tak sadarkan diri dan terluka amat parah. Ia memutuskan untuk membalut lukanya dengan anggur dan minyak. Setelah itu diletakan orang Yahudi itu di atas keledainya dan dibawa ke penginapan untuk diinapkan di sana.
Orang Samaria itu pun menginap di sana dan keesokan paginya Ia memberikan uang kepada pemilik penginapan untuk membayar biaya penginapan tersebut sekaligus biaya perawatan. Ia berjanji akan membayar kembali biaya perawatan yang kurang setelah urusannya selesai. “Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali,” (Lukas 10: 35-37). Perilaku orang Samaria yang tergerak oleh belas kasihan kepada orang Yahudi yang terbaring tak berdaya di tengah jalan untuk segera menolongnya merupakan bukti kasih Tuhan yang hadir secara nyata dalam diri orang Samaria tersebut.
Orang Samaria tidak mengenal orang Yahudi tersebut namun karena belas kasih yang melampaui batas sosial budaya mampu menggerakkan rasa kemanusiaannya untuk menggotong orang tersebut dan merawatnya di penginapan. Belas kasih dan pengampunan menjadi prioritas yang patut didahulukan daripada tata ibadah dan penyembahan di gereja.
Orang Samaria itu taat dan setia pada kehendak Tuhan yang diam di dalam dirinya sehingga belas kasihan tercurah dan hadir untuk menolong sesama yang membutuhkan.
Hal semacam inilah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus karena manusia sedang dicari oleh Tuhan untuk diajak kembali pulang kampung ke kampung halaman surgawi, tempat dimana manusia berasal. Yesus sangat menginginkan kita bertobat dan masuk kembali pada jalur keselamatan yang telah disediakan oleh Tuhan Yesus.
Zakheus adalah salah satu dari banyak orang yang telah merespons rahmat keselamatan yang telah dihadirkan oleh Tuhan Yesus. “Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang," (Lukas 19 : 9-10). Tuhan Yesus sangat bersukacita karena pencariannya telah mendapatkan respons sangat luar biasa dari Zakheus yaitu menerima keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus.
Yesus mencari manusia yang terhilang dari pandangannya karena keserakahan dan kekecewaan. Dia ingin sekali menggapai manusia yang terhilang ini agar mendengarkan setiap firman yang disampaikan-Nya.
Namun banyak manusia yang lebih memilih maut daripada hidup karena gemerlapnya dunia lebih mengkilap dan menggiurkan daripada jalan keselamatan yang dibentangkan oleh Tuhan Yesus.
Kenapa manusia dicari oleh Tuhan? Manusia dicari oleh Tuhan karena manusia memiliki harga yang tak ternilai. Bila kita menelusuri makna dari kata “cari” maka kita berkesimpulan bahwa sesuatu yang dicari artinya sesuatu itu bernilai harganya.
Sehingga waktu dan pikiran seseorang akan tercurah di sana untuk mengusahakan pencarian sebesar-besarnya agar sesuatu yang berharga tersebut dapat ditemukan dengan segera. Kata mencari dan menyelamatkan yang hilang artinya manusia pernah menjadi bagian dari hidup Tuhan namun dia terpisah dari Tuhan dan tak pernah kembali pulang.
Maka dari itu Tuhan Yesus turun dari surga untuk menjemput semua manusia agar kembali pada kodratnya yang semula yaitu kekudusan dan kesempurnaan bersama Allah Bapa di Surga.
Manusia yang dicari Tuhan ini haruslah menanggapi panggilan dan kehendak Tuhan ini degan senantiasa membaca kitab suci dan berdoa setiap hari agar kasih dan kebaikan-Nya tercurah secara paripurna dalam hidup orang beriman yang mendambakan keselamatan abadi.
Zakheus yang bertobat dan mengubah arah hidupnya untuk mengabdi Tuhan menjadi inspirasi bagi kita agar kita selalu membiarkan kasih Tuhan masuk ke kehidupan kita yang hampa dan membaharui akal dan budi kita untuk mengabdi Tuhan dan sesama secara seimbang.
Pertanyaan selanjutnya adalah sudahkah Tuhan yang mencari manusia ini kita tanggapi secara serius? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah diserahkan kepada setiap orang beriman yang mendambakan keselamatan kekal.
Tanggapan serius dari manusia akan panggilan Tuhan perlu sekali diusahakan agar rahmat kasih-Nya menguasai hidup kita sepenuhnya.





