Pengalaman akan kebaikan Tuhan yang sangat besar dalam hidup manusia adalah saat Yesus masuk ke dunia dan menjadi manusia, sama seperti kita. Tuhan Yesus yang menjadi manusia adalah bukti nyata penyertaan Tuhan yang tidak pernah akan surut menyertai manusia yang amat dicintai-Nya. Kehadiran Yesus di dunia bukanlah tanpa alasan karena hal tersebut sudah dinubuatkan oleh para Nabi ribuan tahun sebelumnya. Alasan utama kehadiran-Nya adalah menyelamatkan manusia berdosa untuk kembali dalam pelukan Allah yang amat setia. “Aku, Akulah Tuhan, Tidak ada Juruselamat selain daripada-Ku,” (Yesaya 43:11). Hal ini dipertegas oleh Matius. ”Karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka,” ( Matius 1: 21). Hal ini membuktikan bahwa penyelamatan akan terjadi bila manusia membiarkan Tuhan campur tangan dalam hidupnya.
Keselamatan adalah karunia yang maha indah dalam hidup manusia yang tidak dapat dihasilkan oleh manusia dengan usahanya, namun hal itu dianugerahkan secara cuma-cuma dari kerelaan Tuhan kepada setiap orang yang dikehendaki-Nya. Manusia tidak akan pernah bisa mengusahakan keselamatan bila Tuhan tidak berkenan. Keselamatan hanya dapat diperoleh dengan ketaatan kepada Tuhan. Ketaatan paling minimal ditunjukkan dengan cara mendengarkan Firman Tuhan dan melaksanakannya tanpa banyak kompromi.
Dunia ini hanya berisi kebinasaan kekal. Manusia tidak akan pernah bisa melawannya sendirian tanpa bantuan dari Tuhan Yesus. Dunia tidak akan pernah bisa diubah secara paripurna jika manusia tidak berpegang pada Allah. Ketergantungan manusia pada Tuhan Yesus haruslah mutlak dan tanpa syarat karena manusia tidak bisa berjalan dengan penuh keyakinan bila Tuhan tidak campur tangan dalam hidup manusia. Mengapa ketergantungan pada Tuhan itu mutlak? Karena manusia merupakan ciptaan yang dibentuk oleh Tuhan untuk melaksanakan Firman-Nya di muka bumi untuk mengarahkan hidup manusia pada kesempurnaan Ilahi. Bila manusia ingin mencapai kesempurnaan Ilahi, maka dibutuhkan kekudusan. Kekudusan hanya dapat dicapai dengan ketaatan yang serius, dan ketaatan hanya bisa diperoleh bila Tuhan berkenan untuk memberikannya pada manusia yang dikehendaki-Nya. Jadi dapatlah disimpulkan bahwa ketaatan adalah satu-satunya jalan untuk meraih kesempurnaan hidup. Tanpa ketaatan maka manusia tidak akan bersatu dengan Allah sebagai satu-satunya yang Maha Sempurna.
”Sebab itu hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna,” (Matius 5:48). Kesempurnaan adalah tujuan utama hidup manusia. Tanpa kesempurnaan manusia akan terjerumus dalam kebinasaan kekal yang dimulai di muka bumi ini yaitu hidup terpisah dari belas kasih Tuhan Yesus melalui tindakan yang di luar rencana Tuhan. Semua tindakan negatif tersebut haruslah dihindari dan dibuang dari pikiran manusia. Terpisah dari kasih Tuhan merupakan hal yang amat berat dan menyulitkan manusia karena terpisah dari Tuhan tentunya berbuah maut yang akan menghancurkan hidup. Kehancuran hidup ini adalah buah dari ketidaktaatan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa disadari oleh manusia. Hal ini amat wajar karena manusia memiliki kecenderungan untuk berdosa dan terbuai oleh bujuk rayu iblis. Maka dari itu, manusia jangan berlama-lama hidup dalam dosa karena hal tersebut merupakan bentuk dari kematian meski manusia itu hidup secara jasmani. Oleh karenanya manusia membutuhkan Tuhan Yesus untuk menjadi nahkoda menuju kehidupan kekal.
“Martha, Martha, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya,” (Matius 10: 41-42). Dalam Injil Matius dikisahkan Martha yang sangat sibuk di dapur menyiapkan banyak hal karena kedatangan Yesus di rumahnya. Namun Yesus menghendaki agar Martha bertindak seperti Maria saudarinya untuk tetap duduk di kaki Yesus dan mendengarkan sabda-Nya. Yesus senantiasa mengundang setiap orang untuk mendekat kepada-Nya yang merupakan sumber kebahagiaan sejati dan kehidupan kekal. Hidup dalam Tuhan berbuah manis dan penuh sukacita karena sumber damai sejahtera yang memiliki dunia berpihak kepada setiap orang yang menghendaki kebahagiaan sejati dan tidak akan pernah dirampas oleh iblis.
Yesus Kristus ibarat magnet yang menarik semua orang untuk mendekat kepada-Nya. Mengapa Yesus dikatakan sebagai magnet kehidupan orang percaya? Yesus disebut sebagai Magnet kehidupan orang percaya memiliki maksud bahwa kematian Yesus di atas kayu salib merupakan bukti konkrit kasih-Nya yang tanpa batas bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kematian Yesus di atas kayu salib menarik semua orang untuk melekatkan diri pada ketaatan dan penyerahan hidup secara total pada kehendak Allah Bapa di surga. Kelekatan setiap orang pada kematian Yesus di kayu salib akan memampukan manusia untuk taat dan berserah pada rencana Allah Bapa di surga yang senantiasa mendatangkan kebaikan bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Tanpa ketaatan dan penyerahan, manusia tidak akan memperoleh damai sejahtera dan sukacita yang sudah dianugerahkan kepada-Nya sejak dunia dijadikan.
Melalui ketaatan dan penyerahan, manusia terlibat scara langsung dalam karya kasih Allah yang sudah ada sejak dunia dijadikan yaitu membawa semua orang masuk dalam kebahagiaan surgawi. Hal ini tidaklah mudah karena manusia harus menghadapi banyak penolakan dan penganiyaan dari penghuni dunia yang sebagian besar mengarahkan hidup mereka pada kebinasaan. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi setiap orang untuk bersaksi dan mengabarkan kabar sukacita surgawi kepada siapapun yang membutuhkan belas kasih-Nya sekalipun penolakan dan penganiayaan akan dihadapi setiap hari. Arus dunia yang begitu kuat menghendaki setiap orang percaya untuk melibatkan Tuhan Yesus melekat pada dirinya agar damai sejahtera yang telah ditinggalkan Yesus menjadi tameng untuk melawan segala bentuk rintangan dan hambatan yang akan memisahkan hidup dari kasih Tuhan.
Kebaikan Tuhan ini haruslah senantiasa dipelihara dalam diri kita agar hidup senantiasa mengarah pada kehendak dan rencana Tuhan yang amat indah. Pemeliharaan kebaikan Tuhan dilakukan dengan selalu mendengar firman Tuhan dan melaksanakannya secara terus menerus tanpa henti. Ketaatan pada firman Tuhan menggiring hidup setiap orang untuk menikmati janji-janji Tuhan yang ada dalam kitab suci dan hal tersebut pasti akan terjadi pada hidup orang percaya. Firman Tuhan itu ibarat pelita yang menerangi jalan kita yang dikepung oleh kegelapan dosa dunia.
“Akulah terang dunia; barang siapa mengikut aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup,” ( Yohanes 8: 12). Orang percaya yang mengikuti Tuhan Yesus akan merasakan terang kasih-Nya yang begitu mencerahkan dan melegakan. Terang Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia karena Tuhan senantiasa setia. Namun, manusia yang diliputi oleh kegelapan dunia akan kesulitan untuk merasakan terang Ilahi. Kegelapan dunia senantiasa menuduh manusia akan ketidaklayakannya, kehinaannya, keminderannya, ketidakmampuannya, kebodohannya, kemiskinannya, dan rasa bersalahnya. Hal ini tentunya menghalangi terang Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam hidupnya dan menghambat proses keselamatan yang sedang dikerjakan oleh Tuhan Yesus.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menandaskan akan perlunya menjaga pikiran untuk terarah hanya kepada Tuhan Yesus. “Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu,” (Filipi 4:8). Rasul Paulus mengingatkan setiap orang percaya untuk melawan semua tuduhan iblis dengan memikirkan hal-hal yang baik dan kudus agar jiwa dan roh senantiasa dikuasai oleh sumber kebahagiaan sejati yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus, sang sumber kehidupan akan menganugerahkan kebahagiaan sejati dan penghiburan untuk senantiasa berada dalam rencana keselamatan yang dirancang oleh Tuhan pada mulanya meskipun persoalan dan tantangan hidup mencederai pikiran dan jiwa orang percaya.
Setiap orang harus mengendalikan pikirannya dari tuduhan si jahat yang berusaha memisahkannya dari terang Kristus. Oleh karena itu pandangan kita haruslah senantiasa diarahkan pada kehendak dan rencana Tuhan yang maha indah yang telah dirancangkan-Nya sejak awal dunia. “Tunjukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu sipu,” (Mazmur 34:6). Nabi Daud sungguh amat berhikmat saat menuliskan Mazmur ini karena setiap manusia cenderung untuk memalingkan pandangannya dari Tuhan yang Mahakuasa yang memberikan kehidupan kekal pada manusia. Ia menyarankan agar pandangan kita harus senantiasa mengarah pada Tuhan saja dan bukan kepada hal lain yang merusak jiwa kita.
Hal-hal yang merusak jiwa kita akan memalingkan muka kita dari hadapan Tuhan dan hal ini amatlah berbahaya karena manusia pasti akan menuju pada kebinasaan kekal. Oleh karena itu, rahmat pertobatan haruslah dipanjatkan kepada Tuhan agar dianugerahkan kepada kita agar kita senantiasa memikirkan hal-hal yang dikehendaki Tuhan dan mengarahkan pandangan kita hanya pada Tuhan saja.
Salah satu murid Yesus, Rasul Petrus, cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri dan bukan pemikiran Tuhan sehingga rencana keselamatan umat manusia akan terhambat. Maka dari itu Yesus memarahi Petrus untuk mengubah pola pikirnya, dari pola pikir kekalahan kepada pola pikir kemenangan. “Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia,” (Matius 16:23).
Rasul Petrus berusaha untuk membujuk Yesus agar melupakan rencana keselamatan Tuhan untuk tidak perlu menderita sengsara dan wafat di kayu salib karena bila Yesus mati maka tidak akan ada orang yang akan membebaskan mereka dari penjajahan romawi.
Pemikiran Petrus sungguh jauh berbeda dari pemikiran Tuhan Yesus sebab Petrus mengikuti Yesus dengan harapan akan terbebas dari penjajahan Bangsa Romawi. Pemikiran Tuhan Yesus adalah kesengsaraan dan kematian-Nya di kayu salib haruslah terjadi di muka bumi ini dan keselamatan manusia haruslah hadir di dunia ini untuk membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dan penjajahan dosa.
Kontradiksi antara pemikiran Yesus dan Petrus menjadi pelajaran emas buat kita semuanya yaitu bahwa Kehendak dan Rencana Tuhan haruslah menjadi panglima bagi hidup kita karena hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk memperoleh keselamatan abadi dari Tuhan Yesus. Kehendak kita haruslah menjadi hal yang perlu dikesampingkan daripada kehendak Tuhan karena Kehendak Tuhan merupakan intan dan permata kehidupan yang lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini.
Lalu bagaimana menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan Mahakuasa? Hal pertama yang harus dilakukan adalah membaca firman-Nya yang ada dalam kitab suci karena firman-Nya adalah penuntun jalan orang percaya untuk sampai pada kehidupan kekal. Firman Tuhan akan membaharui akal budi kita agar sejalan dengan kehendak dan rencana Tuhan sendiri.
Firman Tuhan adalah mutiara yang amat berharga yang menuntun langkah kita untuk menyatu dengan Tuhan Yesus sendiri selaku sang Firman yang hidup. Penyatuan hidup kita dan hidup kristus amatlah penting karena kita perlu menambatkan hidup kita pada pikiran Kristus sang pemenang jaya.
Pikiran yang dikuasai oleh Yesus akan senantiasa mengarah pada keselamatan abadi dan berjumpa dengan-Nya dalam surga-Nya yang mulia. Saat ini memang kita tidak dapat memandang wajah-Nya namun kehadiran-Nya sangatlah nyata dan konkrit melalui hal-hal baik yang senantiasa hadir dalam hidup kita. Tanpa Pikiran Yesus, kita akan masuk dalam kegelisahan dan ketakutan yang akan menuntun hidup kita pada kebinasaan kekal.
Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah berdoa siang dan malam untuk bermohon pada Tuhan agar menganugerahkan rahmat pertobatan melalui penyanggkalan diri yang terus menerus tanpa henti. Rahmat pertobatan adalah kunci bagi terwujudnya penyatuan diri manusia dengan diri Tuhan Yesus.
Pertobatan adalah langkah utama untuk sepikir dan sehati dengan Tuhan Yesus karena pertobatan merupakan rahmat dari Tuhan untuk membenahi diri manusia dari dosa dan kesalahan serta mengarahkan hidup hanya kepda Tuhan saja. Kebaikan Tuhan terbesar sungguh akan menuntun kita pada kebahagiaan sejati yaitu hidup bersama Tuhan selama-lamanya. Kebaikan Tuhan terbesar adalah wafat dan kebangkitan-Nya di kayu salib untuk membawa setiap orang pada keselamatan.
Sudah selayaknya kita meletkkan keinginan dan hawa nafsu kita pada Yesus agar rencana keselamatan terjadi di muka bumi ini. “Sebab segala sesuatu telah ditaklukan-Nya di bawah kaki-Nya,” (1 Korintus: 27). Berkat kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus sudah menyerap semua dosa kita dan menanggung hukumannya supaya kita tidak perlu lagi berada di bawah perbudakan dosa dan hawa nafsu yang mendatangkan kebinasaan.
Kita hanya perlu menyerapnya melalui firman-Nya yang hidup dan menguasai pikiran kita. Bila pikiran kita dikuasai oleh firman Tuhan maka tindakan kita akan dilandasi oleh Kasih dan damai sejahtera yang telah ditinggalkan oleh Yesus sebagai warisan abadi bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah pintu masuk untuk beroleh hidup yang kekal bagi siapapun yang percaya pada-Nya.
Kasih dan pengampunan akan dianugerahkan kepada kita agar tetap hidup dalam kesatuan dengan-Nya sebagai satu-satunya jaminan keselamatan kekal. Kasih dan pengampunan adalah bahan baku utama untuk hidup dalam kesatua dengan-Nya sebab kasih dan pengampunan merupakan senjata yang paling ampuh untuk melawan tipu daya si jahat.
Kasih dan pengampunan yang dikaruniakan Yesus menjadi perisai kita untuk menghadapi serangan si jahat secara bertubi-tubi tanpa henti. Perisai kasih dan pengampunan akan senantiasa melindungi kita bila kita senantiasa taat pada kehendak dan rencana-Nya sejak dunia dijadikan. Ketaatan adalah satu-satunya jalan untuk hidup dalam kasih dan pengampunan. Maka dari itu rahmat pertobatan haruslah tinggal tetap di dalam hati kita untuk hidup taat terhadap firman Tuhan yang merupakan kehendak dan rencana-Nya yang membahagiakan.





