Manusia yang Terpikat Oleh Kasih Tuhan

Melalui kisah wanita berdosa yang terpikat oleh kasih Yesus, tulisan ini mengajak pembaca merenungi kuasa pengampunan dan cinta Ilahi yang menghidupkan kembali harapan manusia.
(Ilustrasi. Foto: Ilustrasi AI)
(Ilustrasi. Foto: Ilustrasi AI)

Pancaran kasih Tuhan yang bersinar di tengah kegelapan dosa tentunya amat dirindukan oleh setiap orang yang berkehendak baik. Terang kasih Tuhan ini tentunya menyinari gelapnya hidup manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu dan kebencian. Bersinarnya kasih Tuhan amatlah diidam-idamkan oleh setiap manusia yang jatuh dalam lubang dosa yang menghancurkan jiwanya. Tanpa pancaran kasih Tuhan, manusia tidak dapat menemukan Tuhan yang senantiasa hadir dalam hidupnya. Hal ini amatlah lumrah karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk terjatuh dalam dosa yang sama.

Sekalipun demikian, manusia berusaha untuk berjalan menuju terang kehidupan untuk menggapai keabadian bersama Tuhan Yesus. Perjalanan menuju terang Ilahi bukanlah sebuah sulap, karena hambatan dan rintangan senantiasa menghadang derap langkah manusia untuk menikmati terang kasih-Nya. Oleh karena itu, kesabaran dan ketekunan amatlah diperlukan untuk mengiringi langkah manusia menuju terang yang tidak akan pernah padam.

Perjalanan menuju cahaya juga dilakukan oleh seorang wanita berdosa di sebuah kota yang bernama Betania. Ia sangat terpikat oleh Tuhan Yesus yang berada di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Wanita berdosa tersebut segera pergi menyongsong Yesus yang tengah duduk makan bersama murid-murid-Nya. Seperti yang tertulis dalam Lukas 7:36, “Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi.” Wanita itu sangat terpikat oleh pancaran kasih Tuhan. Ia begitu bersemangat untuk menyambut Tuhan Yesus yang begitu mempesona jiwanya yang haus akan air kehidupan. Wanita itu datang dengan membawa minyak buli-buli pualam yang amat mahal harganya pada saat itu, untuk meminyaki kaki Yesus dengan minyak dan menyeka kaki-Nya dengan rambutnya. Kasih sayang Tuhan telah memikat jiwanya. Wanita berdosa itu hanyalah warga kelas dua dan tentunya tidak akan mendapat tempat dalam pergaulan sosial di masyarakat Yahudi. Wanita berdosa itu telah melakukan perbuatan yang amat dilarang, yaitu menjadi seorang wanita tunasusila. Hal tersebut membuat wanita itu dikucilkan. Bahkan wanita itu bisa dirajam dengan batu hingga mati menurut hukum yang berlaku saat itu. Hal semacam ini menyebabkan sang wanita tenggelam dalam kehampaan jiwa. Penolakan dan kekosongan jiwanya hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan Yesus sebagai otoritas tertinggi dari dunia ini. Wanita itu perlahan-lahan menapaki jalan terang yang telah dibentangkan oleh Tuhan Yesus bagi dirinya.

Seperti yang tertulis dalam Lukas 7:38, “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” Suara tangisan wanita berdosa itu menyiratkan kesedihan yang amat menyakitkan. Jiwanya rapuh oleh penolakan orang-orang sebangsanya. Ia tidak sanggup menahannya kesedihan itu. Jiwanya ingin masuk dalam rangkulan kasih Tuhan yang penuh kasih sayang. Tangisan wanita berdosa itu adalah bukti kesungguhan berserah  sepenuhnya pada Tuhan Yesus. Daya pikat kasih Tuhan Yesus telah menarik jiwanya untuk mendekat pada air hidup yang meyegarkan jiwanya yang layu oleh hawa nafsu dan perzinahan. Ia mau  kembali pada hakikat jiwanya yaitu menyatu dengan penciptanya dan pemberi hidup yang tidak akan pernah meninggalkannya. Kasih sayang Tuhan Yesus adalah obat mujarab untuk mengosongkan semua beban derita jiwanya dan segera beranjak pada sumber kehidupan abadi. Wanita berdosa ini memutuskan untuk datang pada Tuhan Yesus sebagai satu-satunya sumber kasih sayang, harapan, sukacita, damai sejahtera, iman dan kehidupan kekal yang akan menemainya berjalan dalam badai kehidupan yang tidak akan pernah selesai selama ia masih hidup di dunia. 

Dunia tempat wanita berdosa ini berpijak adalah tempat yang penuh dengan hal-hal buruk yang tidak akan pernah berhenti mengisi dunia ini. Dunia ini dikuasai oleh gelapnya kejahatan yang akan selalu menarik setiap orang agar masuk ke dalamnya. Manusia yang hidup di kegelapan dunia ini akan hidup dalam berbagai macam dosa seperti pora, narkoba, minum minuman keras, dan lain-lain. Namun semua hal itu tidak akan pernah bisa mengisi sebuah ruang dalam jiwa manusia yang hanya bisa diisi oleh kasih sayang Tuhan Yesus. Kasih Sayang Tuhan Yesus ini memang tidak akan bisa masuk begitu saja kepada jiwa manusia bila manusia tidak menghendakinya. Jiwa manusia seringkali diisi oleh sampah dunia – iri hari, dengki, tipu daya, dan lain-lain - yang akan menghancurkan jiwanya. Sampah-sampah ini hanya bisa dibersihkan dengan kasih sayang Tuhan sendiri.

Lukas 7:44-47 menuliskan, “Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." Ayat ini menceritakan bagaimana Tuhan Yesus sungguh menyambut wanita berdosa yang datang dengan hati yang hancur dan membutuhkan pertolongan. Mengapa wanita ini membutuhkan pertolongan? Karena jiwanya yang dikuasai oleh penolakan dan kebencian telah tenggelam dalam kesedihan mendalam sehingga tangan kasih Tuhan perlu campur tangan dalam membersihkan sampah dunia yang menghambat karunia serta rahmat kebaikan yang akan segera menghidupi jiwanya yang kosong. Dalam adat Yahudi bila seorang tamu bertandang ke rumah sahabat atau saudaranya maka kewajiban tuan rumah untuk membasuh tangan tamunya, meminyaki kepalanya dengan minyak dan mencium pipinya sebagai tanda pembersihan sang tamu dari hal-hal jahat dan sebagai tanda persaudaraan sejati. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh tuan rumah, Simon, si orang farisi kepada Tuhan Yesus. Hal tersebut dilakukan oleh seorang wanita berdosa. Ia meminyaki kaki Tuhan Yesus dan menciumi kaki Tuhan Yesus terus menerus. Air matanya tidak pernah putus membasahi kaki Tuhan Yesus. Air mata yang menetes di kaki Tuhan Yesus diseka dengan rambut sang wanita berdosa agar segera kering kembali. Benteng-benteng penolakan berusaha ditembus oleh sang wanita berdosa degan kasih yang tulus murni agar Kasih Tuhan Yesus mengalir ke dalam dirinya. Kasih seperti ini merupakan inti dari hidup manusia yang juga dirindukan oleh Tuhan Yesus.

Allah telah menganugerahkan kasih-Nya kepada manusia secara cuma-cuma tanpa disadari oleh manusia karena kasih itu berada di dalam sanubari manusia yang paling dalam. Tanpa pertolongan Tuhan Yesus maka kasih seperti itu tidak akan pernah hadir dalam hidup manusia. Kasih yang diberikan kepada wanita berdosa itu dianugerahkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Tuhan Yesus berkehendak untuk menganugerahkan kasih tersebut kepada wanita berdosa ini karena jiwa wanita ini telah berteriak hari demi hari memohon pertolongan-Nya. Tuhan Yesus dengan otoritas-Nya mengampuni dosa wanita tersebut karena jiwa wanita ini membutuhkan keselamatan. Dalam Lukas 7:48 dikatakan, “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “dosamu telah diampuni.” Tindakan Yesus mengampuni wanita beerdosa tersebut merupakan bukti nyata belas kasih-Nya yang amat besar yang tidak akan pernah bisa dibendung oleh apapun. Saat itu juga si wanita yang telah diampuni oleh Tuhan Yesus pasti merasakan kelegaan yang sangat besar karena Air Kehidupan telah mengalir deras ke dalam jiwa dan rohnya. Air kehidupan inilah yang sudah dinantikan dan didambakan oleh sang wanita berdosa untuk bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus. Jiwanya yang gersang perlahan-lahan dibasahi oleh Air Kehidupan kekal yang memang diidam-idamkan oleh sang wanita berdosa. Yesus, Sang Alfa dan Omega, pemilik jiwa setiap manusia telah menguasai jiwa wanita berdosa untuk senantiasa menemani sang wanita kemanapun ia melangkah. Pengampunan adalah sebuah rahmat kebaikan paling besar dalam hidupnya karena Yesus rela meyapanya, membelanya di depan orang farisi. Yesus juga tidak menghakiminya. Yesus menerimanya dengan keadaannya yang berdosa untuk masuk dalam koridor keselamatan yang sudah menjadi grand design Allah sendiri. Tuhan Yesus telah memikat jiwa wanita tersebut untuk menyatu dalam hidup-Nya yang penuh kasih dan berkelimpahan. Tuhan Yesus mengundang wanita berdosa untuk bertobat dan mengubah arah hidupnya menuju jalan keselamatan abadi yang memang tidak banyak orang bisa melewatinya. Jalan keselamatan itu memang milik semua orang beriman namun Tuhan Yesus hanya berkenan kepada setiap orang yang patuh dan taat pada kehendak-Nya.

Pertemuan antara Pencipta jagad raya dengan wanita berdosa yang tak berdaya adalah sebuah pemandangan sangat indah karena Tuhan Yesus selaku Raja semesta alam rela turun ke dunia yang telah bobrok oleh dosa dan mengampuni wanita berdosa yang sangat mendambakan kasih sayang surgawi. Tidak ada yang paling berharga selain manusia sebagai ciptaan yang membutuhkan Tuhannya. Sebaliknya manusia juga sebenarnya sangatlah membutuhkan Tuhan tetapi tergantikan oleh pengejaran kekayaan dan jabatan, ketaatan pada hawa nafsu perzinahan, dan kecintaan akan uang. Hal ini memang sangat lumrah karena dikuasainnya manusia oleh hal-hal tersebut merupakan perjalanan yang harus dilalui manusia untuk sampai pada Tuhan Yesus. Wanita berdosa telah sampai pada tujuannya yang sejati yaitu kasih karunia Tuhan Yesus. Kasih karunia Tuhan Yesus adalah modal utama untuk berhadapan dengan aneka ragam persoalan yang datang silih berganti. Wanita berdosa ini telah mendapatkan sebuah kesempatan untuk memelihara hidupnya agar dikuasai hanya oleh Tuhan Yesus sebagai satu-satuya sumber dan tujuan hidup mausia. Kelegaan wanita tersebut akan air kehidupan kekal merupakan buah dari penantiannya yang sangat panjang. Hal tersebut adalah hadiah yang paling berharga bagi wanita tersebut karena Tuhan adalah satu-satuya permata indah yang akan menemaninya untuk masuk dalam kebahagiaan abadi.

Pertemuan dua pribadi  yang saling merindukan ini tentunya tidak disukai oleh para orang Farisi yang hidup di Betania. Seperti yang diceritakan dalam Lukas 7:49, “Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Mereka terganggu dengan dua hal yang menjadi pertanyaan besar buat mereka. Pertanyaan pertama: mengapa Yesus mau duduk dekat-dekat dengan wanita berdosa. Kedua: Mengapa Yesus mengatakan kepada wanita berdosa tersebut dosamu sudah diampuni? Jawaban dari dua hal tersebut adalah pertama Tuhan Yesus memutuskan untuk tetap tidak menjauh dari wanita tersebut karena kasih yang ditunjukan oleh wanita berdosa ini menggerakkan hati-Nya yang penuh kasih untuk mengampuninya dengan penuh keyakinan. Kedua, Tuhan Yesus sangat memiliki otoritas untuk mengampuni dosa manusia yang mendambakan kasih sayang Tuhan. Orang-orang Farisi yang makan bersama Tuhan Yesus di Betania sangat heran terhadap kejadian yang baru saja terjadi karena pengampunan itu hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri tapi orang-orang tersebut mendengar Yesus mengampuni wanita berdosa tersebut. Dalam kepercayaan orang Yahudi hanya Allah yang bisa mengampui dosa dan bila ada manusia biasa yang mengatakan bahwa dia mengampuni dosa orang maka orang tersebut dianggap menghujat Allah. Hal ini nantinya akan jadi bahan mereka untuk menjerat Yesus di hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem. Dari ayat yang yang disajikan di atas kita dapat melihat dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang makan bersama Yesus tidaklah mengenal Tuhan Yesus. Ketidaktahuan orang-orang Farisi terhadap pribadi Yesus merupakan bukti faktual bahwa Tuhan tidaklah dapat dimengerti oleh semua orang karena rahmat pengenalan akan Tuhan tidak dianugerahkan kepada setiap insan. Manusia yang hidup pada jaman sekarang juga perlu belajar bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam hidup kita namun kehadiran-Nya gagal disadari sehingga kehampaan dan kekosongan memenuhi manusia.

Firman Tuhan dalam Yohanes 15:7 berkata, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Tuhan Yesus mengundang setiap orang untuk menyimpan Firman-Nya dalam hati agar semua kehendak kita dapat dipenuhi oleh Tuhan. Firman-Nya senantiasa menerangi langkah manusia untuk menapaki jalan terang. Tanpa terang Ilahi, manusia tidak dapat menyadari kehadiran Tuhan sebab terang ilahi itu berasal dari firman-Nya. Maka dari itu setiap manusia diundang untuk membiarkan firman Tuhan menetap dalam hatinya lewat membaca kitab suci secara rutin dan terus-menerus. Mengenal Tuhan Yesus sebagai firman yang hidup haruslah dilakukan setiap hari dan tanpa kenal lelah sebab Yesuslah satu-satunya alasan manusia untuk bertindak dan mengasihi sesama dan bahkan musuh sekalipun. Banyak manusia yang telah mati secara rohani namun hidup secara fisik karena gagal mengenal Tuhan Yesus dan kehendak-Nya lantaran hidupnya dikuasai oleh aturan-aturan keagamaan yang membentengi kasih sayang Tuhan untuk masuk dalam hidupnya.

Dalam 1 Korintus 13:2, Rasul Paulus menuliskan, ”Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.  Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,  bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus itu, Rasul Paulus menekankan bahwa Kasih merupakan hal yang sangat fundamental wajib dijalankan dan dipraktIkan tanpa henti dibandingkan dengan pengetahuan dan keberanian untuk dibakar karena iman. Tanpa kasih maka semua yang kita miliki adalah sia-sia belaka. Allah adalah kasih dan setiap orang yang mengasihi berasal dari Allah serta mengenal Allah. Maka dari itu kasih adalah satu-satunnya jaminan untuk menyatu dengan Allah yang tidak terlihat. Bila kita tidak bisa mengasihi manusia yang kelihatan, maka sangatlah sukar untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan. Lantas, apakah kasih Tuhan sudah kita miliki sekarang ataukah kita masih jauh dari kasih itu? Jawaban ini diserahkan kepada kita masing-masing untuk merespon kasih Tuhan yang tidak ada batasnya.
 
Wanita berdosa mendapatkan kasih Tuhan karena Ia betul-betul terpikat dan terkesima oleh kasih Tuhan yang begitu besar. Makanya jiwa wanita berdosa yang datang kepada Yesus benar-benar dipulihkan dan ditahirkan untuk menyatu dengan Kasih Tuhan yang abadi. Firman Tuhan dalam Lukas 7:50 berkata, “Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" Tuhan Yesus betul-betul menyatakan bahwa wanita berdosa tersebut telah lepas dari dosa dan diperdamaikan dengan Tuhan dan sesama. Keselamatan kekal juga telah dianugerahkan kepadanya secara cuma-cuma. Wanita berdosa yang terpikat oleh kasih Tuhan telah kembali pulang kepada kodratnya yang mula-mula yaitu bersatu dengan sumber kasih abadi yakni Tuhan Yesus, raja kemuliaan kekal. GPS yang telah ditanam oleh Tuhan Yesus kepada wanita ini akhirnya terdeteksi oleh pemilik-Nya. Wanita berdosa menemukan pencipta-Nya sedangkan Tuhan Yesus menemukan ciptaan-Nya yang akan segera kembali pulang bersama-Nya ke surga. Wanita berdosa tersebut telah terlihat jelas oleh Tuhan Yesus karena jiwanya yang amat merindukan-Nya untuk tinggal bersama wanita tersebut. Jiwa wanita tersebut telah betul-betul tenang dan lega karena Sang Pemilik jiwa telah menjemputnya untuk kembali pulang dan hidup bersama-sama lagi dengan Tuhan Yesus. Jiwa yang retak telah pulih dan bersandar secara penuh di dada pencipta-Nya yang amat penuh kasih sayang dan tidak akan pernah menolak serta mengecewakannya. Kelelahan jiwanya mulai berangsur-angsur pulih dan bersemangat untuk menghalau kegelapan yang menghadang karena sumber terang hidup telah mendampingi jiwanya. 


 

Penulis: Johanes Libu Doni
Editor: Tim MariNews