Mengenal Lebih Dekat Masjid Pathok Negoro Plosokuning

Masjid Plosokuning, sempat mengalami renovasi di masa Hamengkubuwono II, yakni di tahun 1812. Masjid menjadi salah satu tempat pertahanan pada masa Agresi Militer I dan II.  (Artikel Serba Serbi Ramadhan Hari Keenam)
Foto Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Dokumentasi karatonyogyakarta.id
Foto Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Dokumentasi karatonyogyakarta.id

Yogyakarta sebagai kota pelajar menyimpan berbagai sejarah di dalamnya. Saat ini, penulis ingin mengajak mengenal lebih dekat salah satu masjid di bagian utara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Sejak Perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi wilayah Mataram menjadi 2(dua). Selanjutnya. kota Yogyakarta berdiri. Kasultanan Yogyakarta yang merupakan kerajaan Mataram Islam, telah membangun berbagai Masjid. 

Salah satu masjid yang terkenal adalah Masjid Gede. Namun, selain Masjid Gede, terdapat beberapa masjid yang dibangun oleh Kasultanan Yogyakarta. Salah satu diantaranya adalah masjid Pathok Negoro Plosokuning, Yogyakarta.   

Sebagian besar masyarakat di Indonesia hanya memahami Masjid Gede sebagai bagian dari Keraton Yogyakarta. Padahal di samping Masjid Gede, Karaton Yogyakarta memiliki berbagai Masjid lainnya. 

Masjid tersebut, adalah masjid pathok negoro yang dibangun di 4 (empat) penjuru mata angin, yaitu timur, utara, selatan dan barat. Masjid-masjid ini diantaranya adalah Masjid Jami’ An-nur di Mlangi, sebelah barat Yogyakarta, Masjid Jami’ Sulthoni di Plosokuning di sebelah utara Yogyakarta, Masjid Jami’ Ad-Darojat di Babadan bagian Timur Yogyakarta, dan Masjid Nurul Huda di Dongkelan atau bagian selatan Kota Yogyakarta. 

Masjid-masjid dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono I. Mengutip dari lamar Kratonjogja.id, pathok berarti sesuatu yang ditancapkan sebagai batas atau penanda, dapat juga berarti aturan, pedoman, atau dasar hukum.

Sementara negara berarti kerajaan, negara atau pemerintahan sehingga Masjid pathok negara bisa diartikan Masjid sebagai batas wilayah negara atau pedoman bagi pemerintahan negara. 

Hal ini, Masjid menjadu batas wilayah Yogyakarta. Dalam pembagian hierarki tata ruang dalam kerajaan Mataram Islam, dikenal wilayah Negaragung dan Kuthanegara. Kuthanegara berarti wilayah pusat sedangkan negaragung adalah wilayah kekuasaan sebagai penyangga wilayah pusat. 

Adapun Masjid Pathok Negoro diletakkan pada kuthanegara sebagai penyangga negaragung, yakni Karaton Yogyakarta. Secara filosofis, Masjid Pathok Negoro diilhami oleh falsafah Jawa, yaitu  mancapat mancalima. 

Mancapat berarti 4 (empat) perbedaan yang mana dalam kosmologi jawa, konsep tersebut membagi kehidupan menjadi 4 (empat) bagian, yaitu api, air, bumi dan udara, serta arah mata angin, yakni utara, selatan, timur dan barat. 

Adapun konsep mancalima berarti sentral yang merupakan penyempurna. Filosofi ini dikenal pula dengan istilah kiblat papat, limo pancer. 

Hal ini, berarti ada 4(empat) kiblat yang berpusat pada yang kelima dan merujuk Masjid Kraton Yogyakarta, dimana Masjid Gede menjadi pusatnya. 
Berbicara mengenai Masjid Pathok Negoro pada dasarnya sangat berhubungan dengan peradilan.

Pada awalnya salah satu fungsi dari m Masjid Pathok Negoro selain sebagai tempat pendidikan dan tempat ritual keagamaan juga berfungsi sebagai Pengadilan Surambi. Kita ketahui bersama bahwa Pengadilan Surambi merupakan awal berdirinya Peradilan Agama.

Adapun desain dari masjid ini masih otentik bernuansa Jawa dengan kubah yang mengadopsi konsep bangunan punden berundak. Bangunan ini, merupakan bangunan yang memadukan antara budaya Jawa, Hindu dan Islam. 

Masjid Pathok Negoro di bagian utara merupakan masjid Plosokuning. Masjid Plosokuning disebut sebagai satu-satunya Masjid Pathok Negoro yang masih terjaga keasliannya. 
Masjid ini, berada di utara kota Yogyakarta, tepatnya di Dusun Plosokuning, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. 

Masjid tersebut berdiri di atas tanah berukuran 2.500 meter persegi. Masjid ini, masih dikelilingi oleh kolam yang khas Masjid terdahulu, di mana orang yang akan masuk Masjid dapat membasuh terlebih dahulu kakinya pada kolam tersebut, agar terjamin kesuciannya.

Adapun Masjid ini berdiri sejak tahun 1724 sebelum Karaton Yogyakarta berdiri. Pada awalnya Masjid ini dipimpin oleh Kyai Mursada yang merupakan putera dari Kyai Nur Iman, Mlangi. 

Masjid dimaksud, sempat mengalami renovasi di masa Hamengkubuwono II, yakni di tahun 1812. Masjid menjadi salah satu tempat pertahanan pada masa Agresi Militer I dan II.  
Plosokuning menjadi saksi bisu pertahanan negara. Pada bulan Ramadhan diharapkan generasi muda juga mulai memahami sejarah Masjid yang berperan dalam perjuangan NKRI.

Daerah plosokuning hingga kini masih dikenal sebagai daerah religius yang masih terjaga keasliannya. Bilamana, berkunjung ke Yogyakarta jangan lupa untuk mengunjungi masjid Plosokuning yang masih sarat sejarah budaya maupun arsitekturnya.
 

Penulis: Nur Latifah Hanum
Editor: Tim MariNews