MARINews, Ngamprah - Fenomena mudik telah menjadi tradisi setiap idulfitri terutama di Indonesia. Fenomena mudik bukan saja mengenai cerita perjalanan maupun silaturahim, namun mudik juga membawa fenomena sosial tersendiri.
Orang mudik sangat berkaitan dengan orang yang bekerja merantau dan pulang ke kampung halamannya. Fenomena mudik membawa gejala sosial yang tumbuh. Gejala tersebut merupakan gejala dimana orang yang mudik ingin memperlihatkan bahwa dirinya telah sukses di perantauan.
Mudik memberikan dampak positif maupun negatif dalam masyarakat. Di balik segala dampak positif mudik, ternyata mudik menyelipkan dampak negatif juga di kalangan masyarakat. Fenomena mudik memunculkan gaya masyarakat untuk memperlihatkan kemewahan kepada saudara-saudaranya di kampung halaman.
Gaya ini mengakibatkan tingginya kebutuhan masyarakat untuk merencanakan mudiknya, seperti sewa mobil bagi yang tidak memilki kendaraan, beli oleh-oleh untuk sanak saudaranya, membeli pakaian, bahkan perhiasan untuk dipakai saat berlebaran di kampung halaman. Hal-hal ini diusahakan guna memenuhi gengsi semata.
Padahal, tanpa hal-hal tersebut sebenarnya mudik dapat dilaksanakan secara sederhana tanpa menonjolkan kemewahan-kemewahan kepada masyarakat di kampung halamannya. Fenomena ini terjadi baik di kalangan strata sosial atas maupun strata sosial menengah ke bawah. Hal ini menurut penulis menjadi penyakit sosial yang muncul setiap tahunnya. Dampak dari hal ini tentu kebutuhan seusai lebaran menjadi membengkak.
Selain itu, hal ini menjadi daya tarik bagi masyarakat di kampung untuk bekerja di kota tanpa adanya persiapan bahkan lowongan yang jelas, sehingga hamper setiap lebaran masyarakat di daerah perantauan seringkali bertambah.
Cerita mengenai kesuksesan yang belum tentu benar dengan realita yang ada membuat kecemburuan sosial yang tinggi dan menarik masyarakat untuk meniru yang dilakukan oleh pemudik tersebut. Meskipun secara positif, kondisi demikian memberikan semangat bagi para masyarakat di kampung halaman, namun terkadang semangat tersebut tidak dibarengi dengan persiapan yang matang.
Hal tersebut tak jarang menambah jumlah penduduk di daerah-daerah perantauan pasca mudik lebaran, karena setiap pemudik membawa sanak saudaranya untuk ikut merantau.
Selain hal tersebut, mudik memunculkan fenomena OKB (Orang Kaya Baru). Dalam karyanya Erving Goffman, The Presentation of Self in Everyday Life, interaksi sosial dianalogikan sebagai sebuah pertunjukan teater, di mana individu adalah aktor yang secara strategis menampilkan karakter atau citra diri tertentu kepada audiens mereka.
Dalam perspektif mudik, mudik merupakan front stage atau panggung depan bagi para pemudik. Melalui mudik yang merupakan panggung depan tersebut, para pemudik memperlihatkan berbagai simbol dirinya yang menunjukkan kesuksesannya di rantau, seperti mobil, pakaian bagus, perhiasan, dan sebagainya. Hal ini membuat mudik mengalami pergeseran makna, yang tadinya digunakan untuk menjalin silaturahmi namun sekarang juga dijadikan sebagai ajang pamer.
Menanggapi fenomena mudik yang terjadi di masyarakat Indonesia ini, sudah seharusnya insan Mahkamah Agung kembali mengingat mengenai larangan flexing yang telah dilontarkan Ketua Mahkamah Agung dalam setiap sambutannya. Imbauan untuk hidup sederhana merupakan himbauan yang harus diingat dalam sanubari setiap insan Mahkamah Agung menyambut mudik lebaran tahun ini. Akhirnya selamat idulfitri, selamat mudik ke kampung halaman.
DAFTAR PUSTAKA:
- Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Doubleday Anchor Books.
- Ritzer, G. & Goodman, D. J. (2011). Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Kreasi Wacana.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp : MARINews.





