Di Atas Orang yang Berpengetahuan Masih Ada yang Lebih Mengetahui

Dari sini kita mengerti, bahwa seluruh ilmu pada akhirnya bermuara kepada Allah. Manusia boleh belajar sepanjang hidupnya, tetapi samudra ilmu Ilahi tidak akan pernah habis dijelajahi.
  • view 3506741
Foto Ilustrasi | Freepik.com
Foto Ilustrasi | Freepik.com

“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada yang lebih mengetahui.” (Q.S. Yusuf: 76) Ayat ini menghadirkan kesadaran mendalam tentang hakikat ilmu. Di dalam kehidupan manusia, ada kecenderungan yang sering tidak disadari, ketika seseorang telah mengetahui sesuatu, ia mudah merasa telah sampai pada puncak pengetahuan. Ilmu yang dimiliki kadang membuat seseorang berdiri sedikit lebih tinggi dari orang lain, seakan-akan ia telah melihat lebih jauh dari yang lain.

Namun ayat tersebut hadir seperti embusan angin yang menggerus kesombongan intelektual manusia. Ayat tersebut mengingatkan bahwa setinggi apa pun pengetahuan seseorang, selalu ada pengetahuan lain yang lebih luas di atasnya. Setiap tingkat ilmu hanyalah satu anak tangga dari anak tangga yang lebih tinggi.

Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar informasi tentang hierarki pengetahuan, tetapi juga pelajaran tentang kerendahan hati bagi setiap pencari ilmu.

Ayat tersebut membuka cakrawala bahwa ilmu bukanlah menara yang memiliki puncak tetap. Ia lebih menyerupai langit yang berlapis-lapis. Seseorang mungkin telah mendaki tinggi dalam pengetahuan, tetapi ketika ia menengadah, akan melihat langit yang lebih tinggi lagi. Begitulah ilmu bergerak, ia selalu memperlihatkan keluasan yang melampaui jangkauan manusia. Semakin seseorang mengetahui, semakin ia sadar betapa luasnya wilayah yang belum ia sentuh.

Sebetulnya, ayat tersebut bukan sekadar informasi tentang hierarki ilmu, melainkan pelajaran tentang kerendahan hati spiritual. Ilmu yang sejati tidak membuat hati menjadi keras, tetapi justru melembutkannya. Ia menjadikan seseorang lebih tenang, lebih berhati-hati dalam menilai, dan lebih sadar bahwa pengetahuan manusia hanyalah setitik cahaya dari samudra ilmu Allah yang tak berbatas.

Ilmu yang sejati adalah ilmu yang menuntun manusia untuk mengenal keterbatasannya. Ketika seseorang memahami sesuatu, ia sebenarnya sedang membuka pintu menuju banyak pertanyaan baru. Setiap jawaban melahirkan cakrawala yang lebih luas. Di situlah seseorang belajar bahwa perjalanan ilmu tidak pernah benar-benar selesai.

Karena itu, ayat tersebut mengandung pesan tentang adab dalam berilmu. Seseorang boleh memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam, tetapi ia tidak boleh kehilangan kerendahan hati. Sebab pada setiap tingkat pengetahuan selalu ada tingkat lain yang lebih tinggi. Bahkan para nabi yang memiliki kedudukan mulia dalam ilmu pun tetap diajarkan untuk terus belajar.

Dalam Surah Al-Kahf, Kisah Nabi Musa misalnya, bertemu dengan seorang hamba saleh bernama Khidir. Nabi Musa adalah seorang nabi besar, seorang pembawa syariat, seorang yang berbicara langsung dengan Allah. Namun Allah tetap mempertemukannya dengan seorang hamba yang memiliki pengetahuan tentang rahasia-rahasia takdir yang belum beliau ketahui. Perjumpaan itu menjadi pelajaran abadi bahwa ilmu memiliki dimensi yang beragam, dan setiap manusia hanya memegang sebagian kecil darinya.

Ayat tersebut juga mengingatkan bahwa pengetahuan manusia bersifat parsial. Kita memahami dunia melalui pengalaman yang terbatas, melalui akal yang terbatas, dan melalui waktu yang terbatas. Sementara pengetahuan Allah melampaui semua itu. Ia mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus. Apa yang bagi manusia tampak sebagai misteri, bagi Allah adalah keteraturan yang sempurna.

Kesadaran ini melahirkan sikap batin yang sangat penting, yaitu tawadhu’. Bahwa kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan intelektual, melainkan tanda kedewasaan spiritual. Orang yang benar-benar berilmu tidak mudah merendahkan orang lain, karena ia tahu bahwa setiap orang mungkin menyimpan pengetahuan yang tidak ia miliki. Bahkan dari seseorang yang tampak sederhana pun, hikmah bisa datang dengan cara yang tidak terduga.

Ayat tersebut juga memberi pesan bahwa belajar tidak pernah memiliki titik akhir. Hidup adalah perjalanan menimba pengetahuan. Setiap pengalaman, setiap pertemuan, setiap kegagalan, bahkan setiap kesalahan bisa menjadi guru yang membuka pemahaman baru. Seorang pencari ilmu yang sejati tidak berhenti bertanya, tidak berhenti merenung, dan tidak berhenti memperbaiki dirinya.

Ilmu juga bukan sekadar kumpulan informasi. Ia adalah cahaya yang menuntun jiwa. Ketika ilmu benar-benar meresap ke dalam hati, ia mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Ia menjadikan manusia lebih bijaksana dalam menghadapi perbedaan, lebih sabar dalam menghadapi kesulitan, dan lebih tenang dalam menghadapi ketidakpastian.

Dari sini kita mengerti, bahwa seluruh ilmu pada akhirnya bermuara kepada Allah. Manusia boleh belajar sepanjang hidupnya, tetapi samudra ilmu Ilahi tidak akan pernah habis dijelajahi. Semakin jauh seseorang berlayar di lautan pengetahuan, semakin ia merasakan keluasan yang tak bertepi.

Dan mungkin, di situlah keindahan sebenarnya dari ilmu. Ia bukan sekadar alat untuk mengetahui dunia, tetapi juga jalan untuk mengenal kebesaran Tuhan. Ketika seseorang memahami bahwa selalu ada yang lebih mengetahui di atas dirinya, hatinya menjadi lebih lapang, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada sumber segala pengetahuan, yaitu Allah Yang Maha Mengetahui.

Penulis: M. Khusnul Khuluq
Editor: Tim MariNews