“Tetelestai”: Seruan Kemenangan di Kayu Salib

Dalam Sejarah umat Kristiani, peristiwa Jumat Agung mencatat beberapa ucapan Yesus yang selalu diingat oleh umat Kristiani.
  • view 153
Ilustrasi | Ilustrasi AI
Ilustrasi | Ilustrasi AI

Bagi umat Kristiani, Hari Jumat Agung adalah salah satu hari akan selalu dikenang setiap tahunnya. Hari Jumat Agung adalah hari dimana Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia. Hari Jumat Agung adalah hari dimana Tuhan menyerahkan anak-Nya, Yesus Kristus, disalibkan untuk menebus dosa manusia. 

Dalam Sejarah umat Kristiani, peristiwa Jumat Agung mencatat beberapa ucapan Yesus yang selalu diingat oleh umat Kristiani, antara lain “eloi,eloi, lama Sabakhtani” yang berarti “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Kemudian, ada pula perkataan Yesus, “Aku haus!”, dan sebagainya. Namun, di antara semua perkataan Yesus dalam peristiwa Jumat Agung, ada salah satu perkataan yang dianggap sebagai puncak dari peristiwa Jumat Agung, yaitu “Sudah selesai.” Perkataan tersebut dianggap sebagai puncak dari peristiwa Jumat Agung karena setelah mengatakan perkataan tersebut, Yesus menundukkan kepala-Nya dan wafat di atas kayu salib.

Dalam tulisan ini, penulis ingin sedikit menggali makna perkataan “Sudah selesai” yang diucapkan Yesus di atas kayu salib – apakah hanya sekedar ucapan atau adakah makna yang terkadung di dalam ucapan tersebut?

Dalam bahasa Yunani Kuno, kata “sudah selesai” dituliskan dengan kata “tetelestai”. “Tetelestai” berasal dari kata “teleo” yang artinya menyelesaikan, melengkapi, atau mengakhiri. Di zaman Yesus hidup, “tetelestai” digunakan sebagai ekpresi saat seseorang sudah menyelesaikan suatu pekerjaan maupun saat seseorang selesai melunasi hutangnya.

Lalu muncul pertanyaan – mengapa Yesus mengatakan “tetelestai” atau “sudah selesai” di atas kayu salib? Raymond E. Brown, seorang imam Katolik yang berasal dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa ada beberapa makna dari kata “tetelestai” yang diucapkan Yesus di atas kayu.

Makna pertama adalah sebagai deklarasi bahwa Yesus telah menyelesaiakan tugasnya di muka bumi, yaitu membawa keselamatan bagi umat manusia melalui kematian-Nya di atas kayu salib.

Makna kedua adalah sebagai pernyataan kemenangan Yesus atas dosa dan maut. Melalui kematian-Nya, Yesus telah menyediakan jalan bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Allah dan mengalami kehidupan kekal.

Makna ketiga adalah sebagai pernyataan kepercayaan dan ketaatan Yesus kepada Allah. Yesus rela menyerahkan dirinya untuk mati di kayu salib, percaya pada rencana Allah untuk keselamatan umat manusia.

Yesus mengeluarkan seruan “tetelestai” sebelum wafat, yang berarti "Sudah selesai!" atau "Semua sudah terlaksana!" atau "Semua sudah dipenuhi!" yang mengindikasikan bahwa penebusan dosa di kayu salib telah mencapai kesempurnaan dan tuntas. Dengan demikian, kata "tetelestai" menegaskan bahwa Yesus Kristus telah melakukan penebusan dosa secara sempurna dan mengakhiri karya penebusan-Nya di dunia ini. 

Lalu mengapa Yesus menggunakan kata “tetelestai” dan bukan “eteluson” yang sama-sama berarti “Sudah selesai”. Meskipun sama-sama bermakna “sudah selesai”, kata “eteluson” menggambarkan sesuatu yang selesai saat itu dan hanya dapat dinikmati di saat itu juga. Berbeda dengan kata “tetelestai” yang merupakan kata dalam bentuk perfect tense dalam bahasa Yunani.

Tetelestai” menggambarkan kegiatan yang telah sepenuhnya selesai saat ini namun memiliki konsekuensi sepenuhnya di masa selanjutnya. Dalam konteks penyelamatan Yesus Kristus, hasil dari penyelamatan Yesus Kristus yang telah selesai di masa lalu dapat dinikmati hingga masa sekarang. Dengan demikian, wajar jika Yesus menggunakan kata “tetelestai” dan bukan “eteluson”, karena keselamatan yang merupakan hasil dari pengorbanan Yesus berlaku tidak hanya pada saat Yesus disalib, namun berlaku juga saat ini dan akan tetap berlaku di masa yang akan datang. 

Bagi umat Kristiani, kata “tetelestai” merupakan pengingat bahwa karya keselamatan Allah telah selesai, dan bahwa melalui kematian anak-Nya, Yesus Kristus, manusia dapat diperdamaikan dengan Allah dan mengalami hidup yang kekal.

Pada akhirnya, “Tetelestai” bukanlah ucapan putus asa, melainkan sebuah seruan kemenangan. Selamat merayakan Hari Jumat Agung. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

 

Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp: MARINews