MARINews, Palembang - Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palembang, Drs. Abdullah, S.H., M.H., didampingi Plt. Sekretaris Bapak Rahmat Supli, S.H., M.Si., melaksanakan pembinaan dan pengawasan di Pengadilan Agama (PA) Pagar Alam, pada Rabu (25/2).
Agenda Pembinaan dan Pengawasan tersebut menghadirkan lebih dari sekadar evaluasi kinerja.
Di tengah evaluasi kerja tersebut tersampaikan pesan moral yang kuat tentang bagaimana membangun Peradilan melalui ikhtiar dan integritas yang konsisten.
Ketua PTA Palembang mengingatkan seluruh aparatur untuk selalu menjadi baik, dari hari ke hari, untuk lebih baik.
Sebuah pesan sederhana, namun sarat akan makna: apa yang akan kita petik di masa depan adalah hasil dari apa yang kita tanam hari ini.
Pesan tersebut menjadi refleksi, integritas tidak dibentuk dalam satu momentum besar.
Integritas itu tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara menerus, mulai dari menjaga disiplin, menyelesaikan perkara tepat waktu, melayani masyarakat dengan empati, hingga memegang teguh kode etik tanpa kompromi.
Dalam kesempatan yang sama, ditegaskan pula komitmen kuat untuk terus menjaga dan merawat kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan melalui penerapan prinsip Zero Tolerance, sebagai langkah demi menjaga marwah, kehormatan, serta kredibilitas lembaga peradilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan.
Dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh Ketua PTA Palembang tersebut, mengingatkan kita sebagai aparatur tidak terjebak dalam cara pandang yang pasif terhadap takdir.
Manusia tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an (QS. Luqman: 34):
“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok.”
Ayat tersebut bukan ajakan untuk pasrah, melainkan dorongan untuk berikhtiar. Karena masa depan tidak diketahui, maka yang bisa perbuat hari ini adalah bekerja sebaik mungkin.
Integritas bukan hanya soal kepatuhan terhadap aturan, tetapi tentang kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi bagi masa depan lembaga. Setiap keputusan, setiap pelayanan, setiap komitmen kecil yang dijaga hari ini adalah investasi moral bagi peradilan esok hari.
Peradilan yang agung tidak lahir dari kebetulan, melainkan tumbuh dari aparatur yang memilih untuk berintegritas, berikhtiar tanpa lelah, dan percaya bahwa masa depan yang lebih baik sedang dibangun mulai hari ini.
Pesan untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari adalah pengingat bahwa masa depan tidak ditunggu, melainkan diciptakan.
Takdir memang berada dalam ketetapan-Nya, namun ikhtiar adalah tanggung jawab kita, dan di antara doa yang dipanjatkan serta usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, lahirlah harapan bahwa peradilan yang bersih, profesional, dan dipercaya publik bukan sekadar cita-cita belaka.
Menjadi lebih baik setiap hari bukan sekadar slogan pembinaanpanggilan untuk bergerak, untuk tidak puas pada capaian hari ini, dan untuk terus menjaga marwah lembaga dengan kesungguhan.





