Masjid yang tampak “mengapung” di atas laut ini kerap membuat orang bertanya, di mana sebenarnya lokasinya?
Bangunan ikonik tersebut, adalah Masjid Terapung BJ Habibie. Salah satu destinasi religi yang kini menjadi kebanggaan warga Kota Pare-Pare, Provinsi Sulawesi Selatan.
Masjid ini, juga salah satu ikon kota yang berada di pinggir pantai dan memiliki pelabuhan yang sering disinggahi kapal laut.
Keberadaan Masjid ini, tidak hanya membuat Kota Pare-Pare dikenal sebagai penghubung jalur perdagangan Jawa, Kalimantan dan Sulawesi
Sejarah Pembangunan: Menghormati Putra Daerah
Masjid ini dibangun untuk mengenang Presiden ke-3 Republik Indonesia, B. J. Habibie, yang lahir di Pare-Pare pada 25 Juni 1936.
Penamaan masjid menjadi bentuk penghormatan atas jasa dan kontribusinya bagi bangsa, khususnya dalam bidang teknologi dan demokrasi.
Pembangunan masjid ini, merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat identitas Kota Pare-Pare sebagai “Kota Cinta Habibie-Ainun”.
Kehadirannya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat terhadap tokoh nasional yang berasal dari daerah tersebut.
Keunikan utama dari masjid terletak pada lokasi dan arsitekturnya. Masjid yang diresmikan Oktober 2023 ini terletak di atas laut atau pantai Mattirotasi
Kota Pare-Pare, terhubung dengan jembatan sepanjang 25 meter dari tepi pantai. Sebanyak 300 tiang pancang ditancapkan kokoh ke dasar laut untuk menopang masjid tersebut.
Desain arsitektur masjid mengambil inspirasi dari keagungan Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki.
Kubah besar dengan detail segitiga berwarna hitam, hijau, dan kuning serta dua menara menjulang di sisi kanan-kiri memberikan nuansa Timur Tengah yang kental.
Gabungan lokasi dan arsitekturnya menjadikan masjid ini mempunyai ilusi "terapung" yang tercipta saat air laut sedang pasang, di mana tiang-tiang pancang terendam air sehingga bangunan utama tampak mengambang di atas permukaan laut, menjadi penanda visual dari kejauhan, terutama bagi pengunjung yang melintas di sepanjang pesisir.
Mengapung, Namun Tetap Kokoh
Masjid Terapung BJ Habibie mengajarkan kita bahwa sesuatu bisa tampak mengapung, namun sesungguhnya kokoh berpijak. Demikian pula hidup seorang mukmin. Di tengah dunia ini, kita mungkin terombang-ambing dalam masalah, tetapi jika iman kokoh, kita tidak akan hanyut atau tenggelam.
Ramadhan adalah bulan tepat untuk merenungkan kembali "tiang pancang" kehidupan kita.
Apa yang membuat kita kokoh? Apa yang membuat kita bertahan saat godaan dan masalah yang datang? Masjid megah di tepi laut Parepare ini menjawabnya dengan diam: iman dan integritas.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga hati kita setenang air laut di pagi hari, sekokoh tiang pancang di dasar samudra dan setulus doa yang dipanjatkan di masjid terapung ini.




