Review Film The Message “Kebenaran, Kesetaraan, dan Pesan Damai yang Abadi”

Melalui kisah perjuangan awal kaum Muslim, film ini menyampaikan pesan universal tentang tauhid, kesetaraan, dan keadilan yang tetap relevan bagi refleksi moral dan penegakan hukum di era modern.
(Foto: Poster Film The Message)
(Foto: Poster Film The Message)

Film karya Moustapha Akkad ini merupakan salah satu karya sinema religi paling penting dalam sejarah perfilman dunia. 

Dirilis pada tahun 1976, film ini berupaya menggambarkan lahirnya Islam dan perjuangan awal kaum Muslim di Jazirah Arab tanpa pernah menampilkan sosok Nabi Muhammad SAW secara visual. 

Keputusan artistik tersebut bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bentuk penghormatan terhadap keyakinan umat Islam sekaligus pendekatan elegan untuk menyampaikan pesan spiritual secara universal.

Sinopsis

Film ini dimulai pada masa masyarakat Quraisy di Makkah yang hidup dalam sistem sosial berbasis kesukuan, perdagangan, dan penyembahan berhala. 

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dan mulai menyampaikan pesan tauhid, menyerukan penyembahan kepada satu Tuhan serta penghapusan ketidakadilan sosial.

Dakwah tersebut mendapat tentangan keras dari para pemuka Quraisy yang merasa kekuasaan dan struktur sosial mereka terancam. 

Kaum Muslim awal mengalami penyiksaan, boikot ekonomi, dan pengasingan. Beberapa sahabat hijrah ke Habasyah untuk mencari perlindungan, sementara yang lain tetap bertahan dalam tekanan.

Ketika tekanan semakin berat, kaum Muslim berhijrah ke Madinah. Di sana terbentuk masyarakat baru yang dibangun di atas prinsip persaudaraan, kesetaraan, dan hukum yang adil. 

Konflik bersenjata seperti Perang Badar dan Uhud terjadi sebagai bagian dari upaya mempertahankan diri. 

Film mencapai puncaknya pada peristiwa penaklukan Makkah, ketika kota itu kembali ke tangan kaum Muslim tanpa pembalasan dendam massal. Pengampunan justru menjadi simbol kemenangan moral.

Pesan Universal tentang Kebenaran

Film ini menghadirkan Anthony Quinn sebagai Hamzah, paman Nabi, yang digambarkan sebagai figur keberanian dan pengorbanan. 

Namun kekuatan film ini tidak hanya terletak pada adegan heroik atau peristiwa sejarahnya. Ia terletak pada pesan moral yang melintasi batas agama, budaya, dan bangsa.

Dari sudut pandang universal, film ini berbicara tentang kebenaran yang tidak bergantung pada kekuasaan. 

Risalah Nabi Muhammad SAW menekankan tauhid, keadilan sosial, pembebasan dari perbudakan, dan penghapusan hierarki manusia yang dibangun atas dasar suku, warna kulit, dan kekayaan.

Salah satu representasi paling kuat dari pesan kesetaraan itu adalah sosok Bilal ibn Rabah. 

Dalam film, Bilal digambarkan sebagai seorang budak berkulit hitam yang disiksa karena mempertahankan keimanannya. Namun dalam ajaran Islam, ia diangkat menjadi manusia yang mulia dan menjadi muazin pertama. Kedudukannya tidak ditentukan oleh warna kulit atau status sosial, melainkan oleh integritas dan keteguhan moralnya.

Di titik inilah film ini menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi dunia modern, termasuk dalam konteks hukum. 

Hukum yang adil tidak boleh melihat warna kulit, status ekonomi, atau kebangsaan seseorang. 

Hukum harus berlaku sama bagi semua. Sebagaimana Islam pada masa awalnya meruntuhkan kasta sosial, hukum pun seharusnya menjadi instrumen kesetaraan, bukan alat dominasi.

Ramadhan 1447H dan Refleksi Kemanusiaan

Memasuki Ramadhan 1447H, pesan film ini terasa semakin mendalam. 

Ramadhan adalah latihan spiritual untuk menundukkan ego dan menumbuhkan empati. Ia mengingatkan, semua manusia setara dalam lapar, doa, dan ketergantungan kepada Tuhan.

Dalam konteks dunia hari ini, penderitaan manusia di Gaza menghadirkan ujian nurani global. Anak anak kehilangan keluarga, warga sipil hidup dalam ketidakpastian, dan nilai kemanusiaan diuji. 

Jika dibaca melalui lensa film ini, perjuangan tersebut bukan sekadar konflik politik, melainkan panggilan moral untuk tetap menegakkan keadilan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Film ini mengajarkan keteguhan tanpa kebencian. Ia menunjukkan, memperjuangkan kebenaran tidak identik dengan membalas dengan dendam. 

Nilai tertinggi dari perjuangan adalah menjaga moralitas tetap utuh dalam situasi yang paling sulit.

Trivia Menarik

Film ini diproduksi dalam dua versi sekaligus, versi bahasa Arab dan versi bahasa Inggris, dengan sebagian pemeran berbeda agar dapat menjangkau audiens global. 

Proses produksinya melibatkan konsultasi intensif dengan para ulama dari berbagai negara untuk memastikan kesesuaian dengan prinsip keagamaan, terutama dalam keputusan untuk tidak menampilkan Nabi secara visual.

Musik film ini digubah oleh Maurice Jarre yang menghadirkan nuansa epik dan spiritual yang kuat. 
Secara sinematografi, penggunaan sudut pandang kamera yang mewakili perspektif Nabi merupakan pendekatan inovatif yang jarang dilakukan dalam film sejarah.

Tragisnya, Moustapha Akkad wafat dalam serangan bom di Amman pada tahun 2005. 

Ia dikenal sebagai sineas yang berupaya membangun jembatan pemahaman antara dunia Barat dan Islam melalui karya karyanya.

Mengapa Penting Ditonton

Film ini penting bagi siapa pun yang memegang otoritas, terutama seorang hakim. 

Karena inti dari film ini adalah tentang keadilan yang berdiri di atas kesetaraan manusia. 

Seorang hakim setiap hari berhadapan dengan individu dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Film ini mengingatkan, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh atribut duniawi.

Sebagaimana Bilal ibn Rabah yang dahulu seorang budak tanpa posisi sosial, tanpa kekuasaan, tanpa harta, namun dimuliakan karena integritas dan keteguhan imannya, hukum pun seharusnya memandang manusia bukan dari atribut lahiriahnya, melainkan dari hakikat kemanusiaannya. 

Bilal pada masa itu berada di lapisan sosial paling bawah. Ia tidak memiliki perlindungan suku yang kuat, tidak memiliki kekayaan, bahkan tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri. 

Namun ketika Islam datang membawa prinsip tauhid dan kesetaraan, ukuran kemuliaan berubah total, yang dinilai bukan lagi garis keturunan atau status ekonomi, melainkan moralitas dan keteguhan prinsip.

Nilai inilah yang seharusnya menjadi roh penegakan hukum. Di hadapan hukum, tidak boleh ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat biasa, antara mayoritas dan minoritas. 

Hukum kehilangan maknanya ketika ia tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Hukum juga kehilangan wibawanya ketika ia keras kepada yang lemah namun lunak kepada yang kuat.
Seorang hakim berada pada posisi yang sangat menentukan dalam menjaga prinsip tersebut. 
Ruang sidang adalah ruang di mana seluruh atribut sosial dilepaskan. Di sana, seorang terdakwa bukan lagi dinilai berdasarkan popularitasnya, tekanan media, atau kemarahan publik, melainkan berdasarkan alat bukti yang sah dan keyakinan hakim yang lahir dari proses pembuktian yang jujur.
 
Ketika hakim membiarkan tekanan massa atau opini publik memengaruhi pertimbangannya, maka hukum berubah menjadi cermin emosi kolektif, bukan lagi penjaga keadilan.

Hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan politik, tekanan ekonomi, ataupun sorotan media. Ia harus berdiri tegak di atas bukti yang diuji secara objektif, di atas nurani yang bersih dari kepentingan, serta di atas prinsip kesetaraan di hadapan hukum. Prinsip ini bukan sekadar norma prosedural, melainkan fondasi moral dari sebuah peradaban yang beradab.

Bilal dimuliakan bukan karena ia kuat, tetapi karena ia benar. Demikian pula hukum harus berpihak pada kebenaran, bukan pada kekuatan. 

Dalam konteks itu, setiap hakim memikul tanggung jawab yang tidak ringan, yaitu memastikan bahwa setiap orang yang berdiri di hadapannya diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat, tanpa diskriminasi, tanpa prasangka, dan tanpa ketundukan pada arus populisme.

Dalam Ramadhan 1447H, film ini menjadi refleksi spiritual dan profesional sekaligus. Ia mengajarkan bahwa keadilan sejati adalah keadilan yang menjaga martabat manusia tanpa diskriminasi. 

Pada akhirnya, The Message bukan sekadar film sejarah, melainkan pengingat bahwa kebenaran, kesetaraan, dan keadilan adalah fondasi peradaban yang harus terus dijaga dan dihidupi.

Penulis: Rafi Maulana
Editor: Tim MariNews