Tradisi Mak Meugang: Tanda Awal dan Akhir Ramadhan di Aceh

Tradisi Mak Meugang tidak hanya menjadi momen kebersamaan atau pertanda awal dan akhir ramadhan. Tradisi ini ajarkan kepedulian bagi sesama. (Artikel Serba Serbi Ramadhan Hari ke Delapan Belas)
  • view 245
Foto Ilustrasi Tradisi Mak Meugang
Foto Ilustrasi Tradisi Mak Meugang

MARINews, Aceh -Indonesia sebagai Negara majemuk memiliki tradisi dan budaya yang beraneka ragam. 

Setiap daerah selalu memiliki keunikan tradisinya. Diantaranya tradisi yang dilakukan dalam menyambut bulan suci ramadhan, baik yang dilakukan di awal, pertengahan maupun akhir ramadhan.

Salah satu provinsi di pulau sumatera yakni Aceh juga memiliki keunikan dan cara tersendiri dalam menyambut dan berpisah dengan bulan suci ramadhan.

Provinsi yang dikenal sebagai “Serambi Mekah” ini memiliki tradisi yang dikenal dengan tradisi Meugang atau Mak Meugang.

Mengenal Tradisi Mak Meugang
Tradisi Mak Meugang dilakukan sehari sebelum puasa pertama sebagai penyambut bulan suci ramadhan, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri sebagai tanda berakhirnya bulan suci ramadhan dan sehari sebelum menyambut Idul Adha.

Tradisi ini, dilakukan dengan cara menyembelih hewan seperti sapi, kerbau, kambing, ayam atau bebek, yang kemudian dimasak dengan beraneka jenis masakan seperti rendang, gulai, kuah beulangong, sie reuboh (daging rebus) ataupun masakan-masakan lainnya. 

Hasil masakan, akan dinikmati bersama keluarga terdekat atau kerabat lainnya, serta menjadi momen berbagi kepada fakir miskin dan yatim piatu di lingkungan sekitar. 

Terkadang perayaan Meugang juga diadakan secara bersama-sama seperti di Masjid atau Meunasah (Mushola).

Sejarah Tradisi Mak Meugang
Masyarakat Aceh telah merayakan tradisi Mak Meugang sejak beberapa abad yang lalu, tradisi ini dimulai sekitar tahun 1607-1636 M di masa Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda.

Kala itu, sang Raja memotong hewan-hewan ternak untuk dibagikan kepada rakyatnya secara gratis. Selain sebagai bentuk rasa syukur Sultan atas kemakmuran rakyat Aceh dan bentuk ucapan terimakasih Sultan kepada rakyatnya, tradisi ini dimaksudkan agar tidak ada rakyatnya yang kelaparan, sehingga semua rakyat bisa merasakan makanan yang sama.

Saat Aceh mulai dikuasai oleh Belanda. Tradisi Mak Meugang tidak lagi dilakukan oleh Raja atau Sultan. 

Namun, dikarenakan tradisi Mak Meugang sudah menjadi kebiasaan yang mengakar pada rakyat Aceh, tradisi ini tetap dirayakan oleh Masyarakat Aceh dalam kondisi apapun sampai saat ini.

Daging-daging dari tradisi Mak Meugang juga kerap digunakan oleh pahlawan Aceh dalam bergerilya melawan Belanda. Daging-daging tersebut, diawetkan sebagai perbekalan.

Tradisi Mak Meugang Pengingat Pulang Bagi Perantauan Aceh
Aroma khas rendang atau kuah beulangong seolah sudah melekat di hidung masyarakat Aceh saat perayaan meugang tiba. Tidak terkecuali bagi para perantau yang berasal dari Aceh, aroma tersebut seakan menjadi pertanda sebagai panggilan pulang ke kampung halaman.

Momen berkumpul dengan keluarga menjadi momen yang selalu diharapkan kedatangannya untuk dirayakan oleh masyarakat Aceh, termasuk mereka yang berada di perantauan. 

Tradisi yang diajarkan Sultan Iskandar Muda berabad-abad lalu, tertanam dalam jiwa rakyat Aceh. Jika sang Sultan di hari Mak Meugang ingin memastikan rakyatnya bisa menikmati daging. 

Maka, ibu, ayah, suami, istri, kakak atau adik ingin memastikan keluarganya dapat menikmati daging seperti yang mereka rasakan, meskipun sedang berada di perantauan.

Nilai Moral Dari Tradisi Mak Meugang
Tradisi Mak Meugang tidak hanya menjadi momen kebersamaan atau pertanda awal dan akhir ramadhan. 

Lebih dari itu, tradisi ini mengajarkan kepedulian bagi sesama. Sultan Aceh memperlihatkan bahwa semua rakyatnya harus merasakan kebahagiaan yang sama, dan masyarakat Aceh mengajarkan pentingnya kepedulian dan berbagi dengan sesama.

Tujuannya tidak hanya menikmati daging Mak Meugang secara bersama, namun ada tujuan lain agar tidak ada orang Aceh yang kelaparan, sehingga melakukan tindakan-tindakan lain demi memenuhi kebutuhan perut. 

Secara tidak langsung, Sultan Iskandar muda ingin mengajarkan kepada rakyatnya agar tidak mengambil yang bukan miliknya. 

“Tajak ube lot tapak, taduk ube lot punggong” adalah pepatah dalam bahasa Aceh yang jika diterjemahkan berarti “berjalanlah sesuai ukuran kaki, duduklah sesuai ukuran pantat”.

Pepatah ini memiliki makna agar menjalani hidup sesuai kemampuan dan jangan mengambil hak-hak orang lain. Demikian juga, masih jadi pesan popular bagi Masyarakat Aceh sampai saat ini.

Di zaman modern saat ini, nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Sultan Iskandar Muda harus tetap dipertahankan, tidak hanya bagi masyarakat Aceh tetapi bagi semua orang. 

Tidak terkecuali bagi Hakim dan Aparatur Peradilan, agar dapat menjaga integritas, menjalani hidup sesuai kemampuan dan tidak mengambil yang bukan haknya. 

Ayo jadikan bulan suci ramadhan sebagai momen untuk memperbaiki diri menjadi insan yang lebih baik.

Untuk Mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews Follow Channel WhatsApp : MARINews

Penulis: Rezki Fauzi
Editor: Adji Prakoso