Nilai Falsafah Jawa dalam konsep Kebajikan dan Keadilan

Wakil Ketua MA Suharto tekankan nilai kebajikan dan keadilan dalam filsafat Jawa sebagai pedoman hakim menjaga harmoni dan integritas.
(Foto: Wakil Ketua MA Isi Materi Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Filsafat bagi para Hakim | Dok. Derry Yusuf Hendriana)
(Foto: Wakil Ketua MA Isi Materi Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Filsafat bagi para Hakim | Dok. Derry Yusuf Hendriana)

MARINews, Jakarta – Falsafah Jawa mengajarkan nilai-nilai kebajikan yang layak menjadi pedoman para hakim. 

Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial YM H. Suharto, S.H., M.Hum., mengungkapkannya saat menjadi pemateri dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan filsafat bagi para hakim dari empat lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung, Kamis (09/04/2026).

YM Suharto membawakan tema Kebajikan dan Keadilan dalam Filsafat Jawa.

Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa filsafat baik yang berkembang di Barat, Timur, Islam, maupun Jawa pada hakikatnya memiliki kearifan masing-masing yang saling melengkapi. 

“Salah satu benang merah yang dapat ditarik dari berbagai filsafat tersebut adalah konsep keseimbangan, keselarasan, dan harmoni sebagai nilai universal dalam kehidupan manusia,” ujar YM Suharto.

Menurut YM Suharto, Filsafat Jawa menekankan upaya menyelaraskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. 

“Nilai kebajikan ini diwariskan melalui garis keturunan serta diinternalisasi dalam kebudayaan,” terang YM Suharto.

Dengan demikian, menurut Suharto, berperilaku baik terhadap sesama bukan semata-mata merupakan perintah agama, melainkan juga bagian dari kesadaran moral yang hidup dalam masyarakat.

Beliau juga menggarisbawahi bahwa kebajikan sejatinya bersumber dari kesadaran yang mendalam (kesadaran sejati). 

Ia juga menerangkan bahwa dalam falsafah Jawa terdapat prinsip bahwa seseorang tidak boleh berperilaku tidak adil.

“Penekanannya bukan sekadar pada kewajiban untuk “harus adil”, melainkan pada upaya menghindari ketidakadilan. Dengan menghindari perilaku yang tidak adil, seseorang secara alami akan sampai pada sikap yang adil.” tambah Suharto

YM Suharto memberikan gambaran bahwa dalam falsafah jawa terdapat sederet konsep kebajikan yang menyelaraskan kehidupan itu sendiri.

Diantaranya adalah mengasuh dengan cinde dan ciladan, laku ikhlas tanpa pamrih dimana berbuat baik bukan untuk pujian atau jabatan keikhlasan yang menjadi nilai moralnya. 

Lalu ada pula falsafah umbul-umbul ditanam paling dalam yang bengkok justru di puncak, serta falsafah burung kuntul dan gagak dimana jika putih katakan putih jika hitam katakan hitam.

Kemudian ada juga Nrimo Ing Pandum yang berarti menerima segala hal dengan ikhlas, Harmoni sosial dan budi luhur yang mengajarkan menjaga keseimbangan hubungan antar manusia dan memiliki budi yang luhur.

Menutup pemaparan materi, YM Suharto menyampaikan bahwa pembelajaran ini bukan mengajarkan tentang kebathinan akan tetapi mengajarkan olah pikir.(*)


Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp : MARINews.