Dari Pikiran ke Keheningan

Hakim lintas peradilan antusias ikuti Diklat Filsafat MA, bahas kebenaran, kesadaran, dan keadilan lintas peradaban hingga malam hari.
  • view 151
(Foto: Badan Strategi Kebijakan Diklat Hukum dan Peradilan menggelar Kegiatan Pendidikan Filsafat dan Keadilan | Dok. Derry Yusuf Hendriana)
(Foto: Badan Strategi Kebijakan Diklat Hukum dan Peradilan menggelar Kegiatan Pendidikan Filsafat dan Keadilan | Dok. Derry Yusuf Hendriana)

Semangat dan antusias para Hakim lingkungan pada Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara, Hakim Ad Hoc seluruh Indonesia dalam mengikuti kegiatan Pendidikan Filsafat dan Keadilan yang diselenggarakan oleh Badan Strategi Kebijakan Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI pada Senin (6/4) masih terjaga. Meskipun kegiatan diselenggarakan hingga malam hari, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dari para peserta pendidikan dan Narasumber.

Pada sesi ketiga kegiatan tersebut, materi diisi oleh Dr. Phil reza A.A. Wattimena dengan didampingi oleh Irwan Rosady, S.H., M.H., Wakil ketua Pengadilan Negeri Pandeglang. Tema yang diangkat oleh pemateri adalah “Kehidupan, Kebenaran dan Keadilan : Pemikiran Lintas Peradaban.” Dalam pembukaannya, Dr. Reza yang akrab dipanggil Bung Reza menjelaskan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pemikiran filsafat Eropa dan pemikiran filsafat Asia, dimana para filsuf Eropa lebih mengklasifikasi berbagai hal sedangkan Filsuf Asia lebih memandang suatu hal lebih holistik atau keseluruhan.

Filsafat Adalah Ibu dari Semua Ilmu

Dalam pemaparannya, Reza menyampaikan filsafat adalah ilmu tentang segala hal yang ada. Filsafat berbicara hukum, agama bahkan korupsi. Reza menjelaskan, selama ribuan tahun, dari era klasik hanya ada filsafat sedangkan di era modern ilmu pengetahuan terpecah menjadi berbagai macam ilmu pengetahuan. Kemudian Reza mengajukan pertanyaan, ”Bagaimana filsafat memandang kehidupan?” Reza menjelaskan, “apabila filsafat Eropa memandang kehidupan adalah Bios-Theos yaitu asal dan tujuan dari segalanya sedangkan filsafat Asia Memandang kehidupan bukan pikiran bukan juga perasaan akan tetapi kesadaran murni tanpa nama.”

Reza kemudian memaparkan bahwa kebenaran dalam perspektif filsafat eropa meliputi empat hal, yaitu:

  1. Kebenaran kesesuaian;
  2. Kebenaran konsensus kesepakatan lewat prosedur yang baku;
  3. Kebenaran eksistensial; dan
  4. Kebenaran performatif. 

Kebenaran para filsuf Asia lebih berpikir mutlak (absolut), dimana kebenaran itu berada sebelum pikiran, sebelum bahasa, sebelum teori, sebelum rumusan itulah kehidupan dan kebenaran itu sendiri.

Level Kesadaran Manusia

Ada beberapa tingkatan kesadaran manusia yang mempengaruhi segala bentuk kejadian dan kejahatan di muka bumi ini, dimulai dari yang paling rendah (distingtif-dualistik) sampai yang paling tinggi. Kekosongan sangat mempengaruhi segala kejadian yang terjadi di dunia ini termasuk konflik yang sekarang terjadi di dunia. Reza menjelaskan bahwa level kesadaran manusia meliputi:

  1. Distingtif-dualistik, melihat dunia secara kaku, ada semacam fanatisme, orang orang yang hidup pada level kesadaran ini biasanya anti sosial, bertindak tanpa memikirkan orang lain, biasanya orang-orang dengan pemikiran jahat berada pada level ini;
  2. Immersif; 
  3. Holistik-kosmik, kebenaran universal (pencerahan), kesadaran yang melihat alam semesta sebagai diri sendiri;
  4. Meditatif;
  5. Kekosongan, berpandangan diri sendiri dengan tuhan adalah satu. Di level ini tidak ada kata, tidak ada konsep hanya ada keheningan.

Reza mengajak para peserta untuk menaikan level kesadarannya. ”Apabila dari 280 juta orang penduduk Indonesia, 50 juta orang saja menghayati level kedua, immersif, maka kondisi negara Indonesia ini akan baik baik saja, Indonesia bisa menjadi Indonesia Emas bukan Indonesia cemas,” ujarnya.

Politik Progresif Inklusif

Dalam pemaparannya Reza mengemukakan pendapat mengenai bagaimana politik progresif inklusif dapat diterapkan. Dalam pandangannya, Reza merumuskan bahwa progresif ditopang oleh 7 (tujuh) pilar:

  1. Lokalitas;
  2. Kesadaran;
  3. Ketertiban;
  4. Pembebasan;
  5. Kosmopolit;
  6. Komunikasi; dan
  7. Normatif;

“Menghargai budaya lokal, berpijak pada kesadaran bukan semata bersandar kepada intelektualitas, mendorong keterlibatan orang-orang untuk terlibat aktif, pembebasan dari kemiskinan, ketidakadilan struktural dan pembodohan dari tradisi lama, kosmopolit melihat diri sendiri bagian dari alam semesta, mendorong terjadinya komunikasi, normatif memberikan arah kita menuju atau mengarah ke suatu yang dituju.” tambahnya.

Penutup

Menutup sesi pelatihan ketiga, Irwan Rosady menyampaikan bahwa persoalan kehidupan, kebenaran, dan keadilan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan serta  tidak dapat dipisahkan. “Apa yang benar harus sejalan dengan apa yang adil dan keduanya harus berpijak pada kehidupan itu sendiri, Realitas saja tidak cukup dibaca hanya melalui pendekatan rasional formal akan tetapi melalui kedalaman kesadaran manusia.” ujarnya.

Kebenaran ini tidak berhenti pada korespondensi, konsensus prosedural, atau rumusan teoritis saja, tetapi menyentuh dimensi yang lebih mendasar yaitu keheningan sebelum pikiran. Dalam konteks ini, kebenaran mutlak dipahami sebagai keilmuan itu sendiri. Pentingnya transformasi kesadaran manusia sesuatu yang memiliki bentuk dan tingkatan, mulai dari kesadaran yang dualistik, sampai dengan kesadaran yang holistik, meditatif, bahkan menjadi pengalaman kosongan. Perluasan kesadaran inilah yang kemudian dipandang sebagai cara untuk memahami keadilan secara lebih utuh dan dimensional. Irwan menyampaikan, ”dalam ranah politik dan hukum, Politik progresif inklusif yang menuntut keberanian dari para peserta untuk bersikap kritis terhadap pola lama dan tradisi yang sudah tidak lagi memadai. Hal ini menjadi cita-cita dan harapan dari Bapak Kepala Badan Strategi Kebijakan Diklat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI yang menuntut para Hakim untuk lebih berpikir atau bersikap kritis terhadap pola lama, dimana hukum itu selalu berubah. Maka dibutuhkan pemikiran-pemikiran kritis dari para Hakim.”


Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp : MARINews.