“Life is the conquest of mobility. As a ‘process of exteriorization,’ technics is the pursuit of life by means other than life.” – Bernard Stiegler (Technics and Time, 1: The Fault of Epimetheus).
Cerita rakyat di Mesopotamia ribuan tahun yang lalu mendaulat bulan sebagai Nanna Sin, dewa kebijaksanaan dan keadilan. Sang dewa bulan mengawasi jalannya kehidupan dari langit, dan dengan mengatur langkahnya dalam bentuk siklus, ia pun mengendalikan kehidupan manusia.
Bagi orang di Mesopotamia, sang dewa bulan adalah hakim dan sekaligus penguasa. Secuplik mitos tersebut menjadi catatan penting bahwa sejak peradaban pertama benda-benda selestial telah lama menjadi penanda penting dalam kehidupan manusia.
Antropolog Thorkild Jacobsen lewat bukunya The Treasures of Darkness a History of Mesopotamian Religion (1976) menyajikan hikayat tersebut untuk menggambarkan peran benda-benda langit dalam membentuk peradaban manusia.
Sekitar 5.000 tahun kemudian, sebuah media teknologi melaporkan bahwa perusahaan yang bernama Galactic Resource Utilization Space (GRU Space) membuka penawaran berlibur ke bulan dalam bentuk “hotel”, dengan deposit sekitar satu juta dollar per orang untuk perjalanan yang direncanakan pada tahun 2032 (Interesting Engineering, Christopher McFadden, 25 Januari 2026).
Obsesi manusia terhadap bulan telah beralih dari simbol kultural menjadi eksplorasi personal, dan sekaligus menjadi peluang bisnis baru. Kekaguman dan ketakutan berubah menjadi dorongan saintifik bercampur rasa ingin tahu, dibumbui dengan privilese eksklusif yang sangat lukratif.
Wajah Baru Bisnis Antariksa
Dalam The Theory of the Leisure Class (2007), Thorstein Veblen mengatakan bahwa ekonomi yang didasarkan atas sirkulasi barang-barang mewah pada dasarnya dibangun di atas tiga pilar: visibilitas (conspicuous), nilai (valuable goods), dan reputasi (reputability). Ketiganya berubah dari jaman ke jaman.
Dengan berpijak atas pemikiran Veblen, kita dapat menjelaskan mengapa orang-orang dari kelas sosial atas cenderung memilih jam tangan seharga ratusan juta rupiah, padahal ketepatan waktu yang sangat akurat juga dapat diberikan oleh jam tangan dengan harga ratusan ribu rupiah.
Kita juga dapat memahami mengapa air mineral seharga puluhan ribu rupiah sebotol menjadi pilihan di ruang rapat kelas atas, sementara kesegaran atas dahaga yang sama dapat diperoleh tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, hanya dengan mendidihkan air keran.
Sederhananya, barang-barang mewah bagi orang dari kelas sosial atas adalah penanda keberjarakkan mereka dengan yang lain. Sebuah jam tangan merek Rolex, misalnya, yang berharga ratusan juta rupiah, bukan artefak kultural untuk menunjukkan waktu.
Dalam kosa kata Veblen, memiliki barang-barang semahal ini adalah sarana untuk menunjukkan penaklukan atas waktu, dan menegaskan ironi dengan kelas sosial lain di bawahnya. Dalam pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu (Distinction, A Social Critique of the Judgement of Taste), kepemilikan produk dalam kategori ini adalah sebuah cara untuk membedakan habitus (selera yang umum ditemui dalam sebuah stratum sosial) yang satu dengan yang lain.
Bourdieu mengatakan: “To the socially recognized hierarchy of the arts, and within each of them, of genres, schools or periods, corresponds a social hierarchy of the consumers. This predisposes tastes to function as markers of ‘class’” (Pada hierarki seni yang diakui secara sosial, dan di dalam masing-masingnya, baik genre, aliran maupun periode, terdapat hierarki sosial para konsumennya. Hal ini membuat selera cenderung berfungsi sebagai penanda ‘kelas’) (Bourdieu, 2010:XXV).
Angkasa luar, termasuk objek selestial seperti bulan dan planet, bisa dilihat sebagai sesuatu yang sangat fungsional, seperti yang dicatat oleh David Schrunk dkk. dalam The Moon: Resources, Future Development, and Settlement (2006).
Namun seperti yang mungkin sulit dibayangkan oleh akademisi manapun, projek-projek utopis seperti hotel di bulan yang dilempar ke pasaran adalah habitus baru yang menebalkan garis pemisah antara kelas sosial atas dengan kelas menengah dan bawah.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa pada tahun 2021, perusahaan tamasya Antariksa milik miliarder Jeff Bezos, Blue Origin, menawarkan kursi di roket seharga dua ratus ribu dolar untuk sekali terbang (Reuters, 19 Mei 2021), dan memberikan pengalaman tanpa bobot (weightless) selama sekitar 11 menit di ketinggian jelajah 100 kilometer – menurut laman web resmi dari Blue Origin.
Ini berarti harga pengalaman tersebut setiap menitnya sekitar 18 ribu dolar, atau sekitar 300 juta rupiah. Seperti yang digagas Veblen, sekali lagi, perekonomian barang dan jasa supermewah ini menarik garis tegas dan keras antara orang-orang terkaya di sebuah negara dengan warga negara lainnya.
Dari Barang Eksklusif ke Jasa Hiper-eksklusif dan Risiko Korporatokrasi
Peralihan dari barang eksklusif seperti jam tangan Rolex ke pengalaman melayang di Antariksa selama sebelas menit di roket New Shepard ala Blue Origin membawa kita untuk memaknai pemikiran Veblen dengan lensa pasca-modern.
Bagi Zygmunt Bauman, dunia pasca Perang Dunia Kedua mejadi “cair”; Bauman menyebutnya sebagai liquid modernity (modernitas larut). Cairnya ruang hidup manusia ini menurut Bauman terjadi karena realitas spasial digantikan oleh realitas temporal. Wilayah (teritori) berubah wujud menjadi ekstra-teritorial, karena yang mampu bergerak lincah yang memiliki kekuasaan sesungguhnya.
Bauman mengatakan dalam Liquid Modernity (2000:9): “Velocity of movement and access to faster means of mobility steadily rose in modern times to the position of the principal tool of power and domination” (Kecepatan gerak dan akses terhadap sarana mobilitas yang lebih cepat secara bertahap meningkat dalam zaman modern hingga menempati posisi sebagai alat utama kekuasaan dan dominasi).
Argumentasi yang diajukan Bauman ini juga berarti bahwa negara statis akan kalah bersaing dengan korporasi dalam hal kelincahan. Korporasi pada akhirnya menjadi penguasa yang sesungguhnya, melampaui kemampuan negara manapun dalam mengambil keputusan.
Situasi ini dapat kita lihat sekarang ketika perusahaan multi-nasional justru sangat berpengaruh terhadap kebijakan politik sebuah negara. Analisis Bauman dapat ditarik menjadi sebuah catatan penting tentang kemungkinannya naiknya korporatokrasi, atau pemerintahan oleh korporasi.
Analisis oleh David C. Korten dalam When Corporations Rule the World (2015) mencatat poin-poin kritis berikut ini. Pertama, elitisme baru dalam bentuk pemerintahan korporo-oligarkis akan menggantikan demokrasi.
Kedua, kapitalisme menjadi akhir dari mekanisme pasar. Ketiga, pertumbuhan ekonomi membuat manusia dan alam menjadi sekadar liabilitas Perusahaan. Keempat, kekuasaan tidak lagi memiliki batas, dan bila ini terjadi, siapapun atau apapun dapat dikorbankan begitu saja.
Korporatokrasi pada akhirnya akan menjadi akhir dari supremasi hukum (rule of law), dan bila itu terjadi, fungsi hukum sebagai pengendali kekuasaan pun berakhir. Pengkaji hukum Luigi Ferrajoli dalam bab dalam bukunya “The Past and the Future of the Rule of Law” (2007) berargumen bahwa kekuasaan tanpa hukum kehilangan justifikasinya.
Tanpa hukum, lanjut Ferrajoli, kebebasan kehilangan penjaminnya. Hukum yang dibuat semena-mena, menjadi hukum yang berbahaya dan kehilangan marwahnya (Ferrajoli, 2007: 323-327).
Mitigasi Gelagat Ekonomi Baru
Eksplorasi bukan barang baru dalam sejarah manusia. Masalahnya, ketika ada celah yang memberi ruang pada korporatokrasi, maka kemungkinan besar kita melihat potensi impunitas yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar.
Kasus Lavin v. Virgin Galactic Holdings, Inc., No. 1:21-cv-03070-ARR-TAM, yang diajukan ke pengadilan di New York, Amerika Serikat, pada tanggal 28 Mei 2021 adalah contoh cara hukum mengendalikan korporasi dalam modus ekonomi baru semacam ini.
Anthony Lavin, mewakili investor dari Virgin Galactic, menggugat perusahaan yang ditanamkan modalnya tersebut karena gagal memberikan kejelasan tentang prosedur keselamatan penerbangan roket teknologi terbaru dan melanggar Securities Exchange Act of 1934 Sections 10(b), 20(a), dan 20A (Justia, 2024).
Proses litigasi masih berlangsung hingga hari ini dan belum ada putusan yang dijatuhkan. Bila korporatokrasi menjadi sesuatu yang lazim, langkah semacam ini tidak mungkin dilakukan dan mungkin sekali memakan korban jiwa. Di sini kita melihat bahwa hukum mutlak hadir demi menjamin sisi kemanusiaan dari perkembangan industri, ekonomi, dan teknologi.
Pada akhirnya, mitos kuno tentang bulan mengingatkan kita bahwa benda langit ini pernah berfungsi sebagai penanda kolektif bagi ritme kehidupan dan legitimasi sosial.
Kini, ketika bulan menjadi arena komersial dan ekspresi habitus kelas atas, maknanya bergeser dari simbol tatanan kehidupan bersama menjadi komoditas individual yang mempertegas jurang sosial.
Teknologi telah mengubah kondisi eksistensi manusia sehingga kelangsungan hidup, ingatan kolektif, dan relasi antarindividu semakin bergantung pada artefak teknis dan infrastruktur yang dibuat dan dioperasikan oleh institusi ekonomi besar.
Selama distribusi akses dan risiko tetap tidak seimbang, kecenderungan menuju kekuasaan korporat yang tidak bertanggung jawab akan menggerus fungsi protektif hukum dan menempatkan nilai ekonomi di atas nilai kemanusiaan.
Oleh karena itu hukum harus dipertegas sebagai instrumen yang menjaga keselamatan bersama, menjamin kesetaraan akses, dan membatasi dominasi swasta; tanpa mekanisme hukum yang efektif, inovasi teknologi yang paling canggih pun berpotensi memperdalam ketidakadilan dan merusak tatanan sosial yang memungkinkan kehidupan bersama.
Referensi
- Jacobsen, Thorkild, 1976, The Treasures of Darkness: A History of Mesopotamian Religion, Yale University Press, New Haven.
- Stiegler, Bernard, 1998, Technics and Time, 1: The Fault of Epimetheus, Stanford University Press, Stanford.
- Veblen, Thorstein, 2007, The Theory of the Leisure Class, Oxford University Press, Oxford.
- Bourdieu, Pierre, 2010, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, Routledge, London.
- Schrunk, David, et al., 2006, The Moon: Resources, Future Development, and Settlement, Springer, New York.
- Bauman, Zygmunt, 2000, Liquid Modernity, Polity Press, Cambridge.
- Korten, David C., 2015, When Corporations Rule the World, Berrett-Koehler Publishers, Oakland.
- Ferrajoli, Luigi, 2007, “The Past and the Future of the Rule of Law”, dalam The Rule of Law: History, Theory and Criticism, Springer, Dordrecht.
- McFadden, Christopher, 2026, “Company Offers Lunar Hotel Trips for 2032”, Interesting Engineering, New York.
- Reuters, 2021, “Blue Origin Sells Seats for Suborbital Space Flight”, Reuters News Agency, London.
- Lavin, Anthony v. Virgin Galactic Holdings, Inc., 2021, Complaint under the Securities Exchange Act of 1934, United States District Court for the Eastern District of New York, New York.





