Pengadilan Terpercaya, Rakyat Sejahtera

Melalui penguatan integritas, transparansi, dan inovasi layanan, Mahkamah Agung meneguhkan komitmennya menghadirkan keadilan yang tidak hanya ditegakkan, tetapi juga dirasakan dan dipercayai masyarakat.
(Ilustrasi AI Laptah 2025. Foto: Ilustrasi AI)
(Ilustrasi AI Laptah 2025. Foto: Ilustrasi AI)

Tema “Pengadilan Terpercaya, Rakyat Sejahtera” dipilih sebagai nadi yang mengalir di sepanjang Laporan Tahunan Mahkamah Agung Republik Indonesia Tahun 2025. 

Tema ini, bukan sekadar ungkapan formal, bukan sekadar kata-kata yang tersusun rapi di halaman-halaman laporan, dan bukan sekadar slogan yang indah untuk diulang-ulang dalam pidato resmi. 

Hal tersebut, lahir dari kesadaran yang mendalam bahwa hukum dan keadilan bukanlah abstraksi yang hidup di ruang kosong. Wujudnya adalah denyut yang mengalir di tengah masyarakat, napas yang meneguhkan setiap langkah rakyat, dan sinar yang menembus kegelapan ketidakpastian. 

Hakikatnya, tema ini menegaskan bahwa pengadilan yang dipercaya dan rakyat yang sejahtera adalah dua kutub dari satu kesatuan: pengadilan yang menegakkan keadilan dengan keyakinan, integritas, dan keberanian menumbuhkan kesejahteraan. Rakyat yang sejahtera adalah bukti hidupnya hukum, cerminan bahwa keadilan tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan, dihayati, dan dipercayai.

Keadilan, dalam pandangan Mahkamah Agung, bukanlah sekadar teks undang-undang atau prosedur yang harus diikuti. Ia adalah angin yang menembus ruang-ruang kehidupan, menyejukkan hati yang gelisah, menenangkan jiwa yang resah, dan meneguhkan keyakinan bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki tempat yang sama di hadapan hukum. 
Bentuknya adalah sungai yang mengalir di tengah masyarakat, kadang deras dan mengguncang, kadang tenang dan menenteramkan, tetapi selalu menuju laut kebenaran yang luas dan tidak terhingga. 

Sepanjang tahun 2025, Mahkamah Agung menapaki jalan ini dengan kesadaran bahwa pengadilan yang dipercaya tidak terbentuk secara instan. Kepercayaan lahir dari konsistensi, dari keteguhan untuk menegakkan prinsip meski berat, dari keberanian untuk menegakkan kebenaran meski pahit, dan dari kesabaran yang menunggu hasil tanpa kehilangan harapan.

Kepercayaan rakyat adalah harta paling berharga bagi pengadilan, lebih berharga daripada setiap peraturan, lebih mulia daripada setiap penghargaan. 

Ia lahir dari tindakan nyata, dari transparansi yang dapat dirasakan, dari akuntabilitas yang tidak sekadar kata, dan dari inovasi yang mempermudah setiap warga untuk menjangkau keadilan. Tahun 2025 menjadi saksi bagi langkah-langkah Mahkamah Agung yang memperkuat fondasi kepercayaan ini: digitalisasi layanan yang memecah jarak dan waktu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang menegaskan profesionalisme dan integritas, penguatan sistem akuntabilitas yang menumbuhkan kepercayaan, dan perluasan akses bagi seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga desa, dari pulau besar hingga pelosok yang terselip di antara ombak. 

Semua langkah ini, sekecil apapun, diarahkan pada satu tujuan agung, yakni keadilan hadir, dirasakan, dan dipercayai, sehingga rakyat dapat merasakan kesejahteraan yang lahir dari keyakinan bahwa hukum hadir untuk melindungi, bukan menindas.

Sejahtera, dalam perspektif Mahkamah Agung, bukan sekadar bebas dari sengketa, bukan hanya terpenuhinya kebutuhan materi, dan bukan sekadar ketiadaan ketidakadilan. Bentuknya ketenangan batin, keyakinan bahwa hak dijaga, suara didengar, dan hukum menjadi perisai yang meneduhkan. 

Wujud lainnya, malam yang damai setelah hari yang penuh kegelisahan, adalah embun yang menyejukkan setelah terik yang membakar, adalah lentera kecil yang menuntun langkah manusia di lorong gelap kehidupan. 

Saat masyarakat menatap pengadilan dengan keyakinan, ketika rakyat percaya bahwa keadilan bukanlah abstraksi yang jauh di atas awan, melainkan sesuatu yang nyata, dapat disentuh, dan dirasakan, di sanalah kesejahteraan sejati hadir, bukan sebagai wacana, tetapi sebagai pengalaman hidup yang membumi, sehari-hari, yang dirasakan dalam ketenangan dan rasa percaya.

Tema “Pengadilan Terpercaya, Rakyat Sejahtera” bukan sekadar kata-kata indah, bukan sekadar kalimat yang dirangkai untuk laporan resmi, tetapi cermin perjalanan panjang Mahkamah Agung, manifestasi nilai-nilai yang menjiwai setiap hakim, setiap pegawai, dan setiap insan hukum yang bekerja dengan hati, akal, dan integritas. 

Tema ini, adalah pengingat abadi bahwa keadilan adalah dialog antara hukum dan nurani manusia, antara teks formal dan rasa moral yang hidup di hati rakyat, antara aturan yang tertulis dan rasa keadilan yang melekat dalam kehidupan nyata. 

Pada tahun 2025, narasi ini bukan sekadar laporan tahunan, wujudnya adalah deklarasi filosofis, pernyataan yang menegaskan satu kebenaran sederhana namun agung. Kepercayaan pada pengadilan adalah benih dari kesejahteraan rakyat, dan kesejahteraan rakyat adalah bukti hidupnya keadilan.

Lebih dari itu, tema ini mengajak kita merenung bahwa keadilan bukanlah tujuan statis, tetapi proses yang terus berdenyut, perjalanan yang menuntut perhatian, kesungguhan, dan perbaikan tanpa henti. Pengadilan yang dipercaya rakyat adalah pengadilan yang hidup bersama rakyatnya, yang mendengar denyut nadi masyarakat, yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan prinsip, yang menjadi sungai yang mengalir, angin yang menyejukkan, dan lentera yang menuntun. 

Rakyat yang sejahtera adalah rakyat yang merasakan keadilan sebagai napas kehidupan, sebagai penguat keyakinan bahwa hukum bukan hanya aturan, tetapi jaminan hidup yang meneguhkan martabat manusia, yang menumbuhkan harapan, dan yang menjaga agar bangsa ini tetap tegak di atas prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan.

Di sinilah letak makna sejati dari tema Laporan Tahunan MA-RI Tahun 2025: pengadilan dan rakyat adalah dua sisi dari satu keping koin yang sama, yang keberadaannya saling meneguhkan, saling memberi arti, dan saling menjadikan bangsa ini lebih kuat, adil, dan sejahtera. 

Gagasan ini adalah undangan untuk merenung, untuk menyadari, bahwa hukum yang hidup bukanlah hukum yang menakutkan, tetapi hukum yang dipercaya; kesejahteraan yang hakiki bukan sekadar terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi rasa aman, rasa dihargai, dan rasa adil yang dirasakan di setiap napas kehidupan. 

Dalam kesadaran itu, Mahkamah Agung menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi pengadilan yang dipercaya, agar rakyat dapat sejahtera, agar keadilan terus bernapas, abadi, dan hadir dalam setiap langkah bangsa, dan agar setiap insan yang mencari keadilan merasakan bahwa hukum adalah sahabat, perisai, dan rumah bagi kemanusiaan.
 

Penulis: Juang Samadi
Editor: Tim MariNews