Ibnu Sina pada umumnya dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern berkat magnum opus berjudul Qanun fi ath-Thibb. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, hanya saja terkesan seperti mengabaikan kecemerlangan Avicenna di bidang lainnya. Sebagai seorang yang polimatik (menguasai berbagai bidang studi), Ibnu Sina merupakan pakar di banyak bidang keilmuan, salah satunya filsafat.
Kepakaran Ibnu Sina di bidang filsafat tergambar dari adanya aliran filsafat Avicennisme, yang ia rancang sedemikian rupa hingga menjadi mazhab filsafat tersendiri. Ibnu Sina mengembangkan filsafat sintesis komprehensif yang merupakan gabungan dan modifikasi antara Aristotelianisme, Neoplatonisme dengan teologi Islam.
Ibnu Sina telah mengarang banyak buku yang membahas filsafat, seperti Al-Isyarat wat Tanbihat, Uyun al-Hikmah, Al-Mabda wal Ma’ad, Hikmah al-Masyriqiyyah, dan puluhan bahkan ratusan buku lainnya. Namun untuk sekedar menemukan esensi filsafat Ibnu Sina, kita dapat membaca buku kecil setebal 100 karangan Iklil Pradigta yang berjudul “Ibnu Sina: Biografi dan Intisari Filsafatnya”.
Seperti judulnya, buku terbitan Diva Press ini menampilkan intisari dari pemikiran Ibnu Sina. Dan hebatnya, buku ini sudah cukup untuk memperkenalkan filsafat Avicennisme. Tentu bagi philosophy holic maupun akademisi tetap disarankan untuk merujuk kepada karangan asli Ibnu Sina. Namun bagi pembaca umum yang sekedar ingin tahu apa saja pemikiran Ibnu Sina, buku mungil ini cukup memberikan gambaran.
Buku ini akan memperkenalkan kita pada biografi singkat Ibnu Sina. Dari riwayat hidupnya kita akan mendapat gambaran latar belakang sosial, pendidikan bahkan politis sang filsuf Islam. Selain itu, pembaca juga akan terkesima terhadap kepakaran Ibnu Sina dari penjelasan penulis tentang kitab-kitabnya, yang berjumlah ratusan jilid di berbagai bidang. Seperti kedokteran, filsafat, filologi, astronomi, matematika, fisika, kimia bahkan seni puisi.
Pada bab kedua buku ini, dijelaskan tentang pemikiran Ibnu Sina di bidang filsafat secara ringkas namun bernas. Di bagian ini, dijelaskan bahwa banyak pemikiran filsuf barat yang masyhur sebetulnya dipengaruhi Avicennisme. Siapa sangka konsep “cogito ergo sum” Rene Descartes memiliki dasar argumen yang mirip dengan argumen “the floating man” Ibnu Sina tentang eksistensi kesadaran diri manusia. Begitu juga Thomas Aquinas, John Duns Scotus, William Ockham, Roger Bacon, dan filsuf besar dunia barat lainnya, juga terpengaruh fondasi pemikiran Avicennisme yang berkembang subur di Eropa pada abad pertengahan.
Bab ketiga buku ini mengantarkan pembaca pada kontribusi Ibnu Sina di bidang sains. Tidak sekedar bidang kedokteran, filsuf yang dikenal dengan nama Avicenna ini juga memiliki penemuan penting di bidang kardiologi, fisiologi, sistem operasi bahkan hingga psikologi. Ibnu Sina juga pencetus mekanisme pengobatan eksperimental, uji klinis, sistem karantina untuk penyakit menular, serta penemu vermis dan caudate nucleus di bidang neuroanatomi, mekanisme anestesi untuk pembedahan bahkan hingga hirudoterapi (terapi lintah).
Selain itu, Ibnu Sina adalah dokter pertama yang mempelopori pulsologi, psikofisiologi serta psikosomatik. Saat banyak dokter di zamannya beranggapan penyakit fisik selalu disebabkan sesuatu yang bersifat material, atau bahkan ada yang menghubungkannya dengan hal mistis, Ibnu Sina menemukan bahwa ada banyak penyakit fisik yang justru disebabkan faktor psikologis.
Meskipun buku ini terkesan mungil, tetapi dengan membacanya kita akan menyadari, tentang betapa megahnya pemikiran Avicenna di bidang filsafat serta betapa cemerlangnya penemuan Ibnu Sina di bidang sains. Jadi, buku ini sangat layak bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap filsafat.





