Resensi Buku Learning to Learn

Penting untuk diketahui bahwa pembagian bab dalam buku ini tidak selalu sama dengan pembagian topik pembahasan, sehingga 16 bab bukan berarti 16 topik pembahasan.
Buku Learning How to Learn | Dok : Istimewa
Buku Learning How to Learn | Dok : Istimewa

Saya suka membaca sejak kecil. Dimulai dari hobi membaca komik, berlanjut menjadi kebiasaan melahap beragam genre buku, mulai dari yang ringan seperti koran bola, self-improvement mini guide dan sejarah, hingga yang berat seperti buku-buku aqidah, fiqh, filsafat dan tentu saja hukum.

Tidak semua bacaan tersebut mampu saya pahami, karena dulunya saya menganut “baca saja dulu, paham 20% isi bukunya sudah bagus”. Alhasil saya sudah khatam membaca cukup banyak buku, namun tidak seluruhnya mampu nyangkut di otak hingga kini.

Saya tidak menyesal pernah melakukan hal tersebut. Penyesalan saya hanyalah, mengapa saya baru menemukan buku sebagus “Learning How to Learn” karangan Barbara Oakley, Terry Sejnowski, dan Alistair McConville.

Pengarang buku ini terdiri dari tiga orang dengan keahlian yang berbeda-beda. Barbara Oakley adalah seorang professor teknik, Terry Sejnowski merupakan ahli saraf (neurosains), dan Alistair McConville memiliki pengalaman luas sebagai pengajar. Kolaborasi mereka bertiga menghasilkan buku hebat tentang panduan belajar cara belajar.

Learning How to Learn telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Buku terjemahan yang saya miliki merupakan cetakan ketiga pada bulan Juli 2024. Buku ini tidak terlalu tebal, hanya 302 halaman dengan inti pembahasan 240 halaman saja.

Buku ini terdiri dari 16 bab. Penting untuk diketahui bahwa pembagian bab dalam buku ini tidak selalu sama dengan pembagian topik pembahasan, sehingga 16 bab bukan berarti 16 topik pembahasan. Karena ada beberapa bab yang memiliki topik pembahasan yang sama, namun dengan perspektif ulasan yang berbeda, sehingga tetap penting untuk dibaca.

Gaya penulisan buku ini sangat ringan, malah terkesan seperti perbincangan antar teman, atau tutur seorang kakak kepada adiknya. Cukup banyak istilah-istilah neurosains yang rumit dialihbahasakan penulis untuk mempermudah pembaca, dengan tetap melampirkan catatan akhir bagi yang tertarik mengkaji lebih lanjut secara ilmiah. Meskipun begitu, buku “Learning How to Learn” ini tetap layak untuk dilahap sampai tamat.

Penulis menggunakan banyak sekali metafora lucu di dalam pembahasan (kalau tidak bisa disebut kekanak-kanakan). Hal tersebut dapat dimengerti, karena segmentasi target pembaca buku ini memang ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Tapi jangan khawatir, orang dewasa juga dapat memetik ide-ide kunci yang terkandung di dalam buku ini tanpa perlu bertansformasi menjadi anak-anak terlebih dahulu.

Alasan mengapa di awal tulisan saya mengatakan menyesal baru mengetahui buku sebagus ini, adalah karena buku ini mengajarkan teknik dasar untuk belajar. Seringkali kita terjun ke lapangan tanpa mengetahui medan, begitu pula kita belajar tanpa mengetahui tekniknya. Sehingga menyebabkan pemahaman kita terhadap suatu subjek menjadi tidak maksimal meskipun telah menghabiskan banyak waktu untuk belajar.

Buku ini akan memandu kita untuk mempelajari suatu subjek, baik baru maupun yang sudah lama kita geluti, dengan cara yang efektif dan lebih efisien. Buku ini mengulas bagaimana cara kerja otak saat belajar dan tentang mengelola fokus.

Dengan membaca buku ini, kita akan diajarkan teknik dasar untuk belajar, agar kita mampu meningkatkan pemahaman kita terhadap suatu subjek yang kita pelajari, bahkan untuk subjek yang rumit dan kompleks sekalipun, seperti fisika, kimia, atau filsafat.

Yang menarik, buku ini tidak akan menyuruh kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca. Buku ini bahkan akan menyarankan kita mengalokasikan cukup waktu untuk tidur, minimal 8 jam sehari, dan olahraga. Sebab tidur dan olahraga adalah salah satu unsur pendukung terbaik dalam belajar!

Menurut penulis, otak manusia memiliki batas. Oleh sebab itu, tidak bijak jika kita memaksakan diri untuk terus fokus belajar selama berjam-jam. Akan ada semacam alarm yang menandakan otak kita sedang merasa lelah, dan itulah saatnya kita masuk ke mode difusi, semacam mode pengalihan dalam otak.

Namun jangan khawatir, mode difusi bukan berarti kita akan membuang-buang waktu saat belajar, penulis justru memberikan langkah-langkah efektif menjadikan mode difusi sebagai waktu untuk mengingat-ingat pembelajaran yang baru dilakukan.

Ada satu pembahasan yang sangat menarik di dalam buku ini, yaitu ketika penulis menyadarkan keterbatasan otak manusia dalam memproses memori kerja (working memory), dan memberikan trik jitu memaksimalkan memori jangka Panjang (long-term memory). Pembahasan ini akan sangat membantu pembaca dalam memahami suatu subjek yang sulit sekalipun, sekaligus memiliki ingatan yang sangat kuat terhadap pemahaman tersebut.

Saat kita menonton televisi, kita dapat memindah-mindahkan channel televisi untuk mencari program kesukaan kita dengan mengklik tombol di remote tanpa harus menggunakan banyak energi untuk memikirkan “channel ini nomor berapa ya, saya harus menekan tombol yang mana ya”.

Atau saat kita menyetir mobil di area tempat tinggal kita, kita tidak akan berhenti sejenak untuk berpikir “setelah ini belok mana ya untuk menuju rumah”. Pun juga setelah bangun tidur kita tidak memerlukan banyak waktu untuk berpikir “kalau ke kamar mandi belok mana ya”.

Atau mungkin kita pernah mendengar musik favorit kita tiba-tiba disetel dan secara otomatis kita ikut bernyanyi tanpa harus membaca lirik lagunya di gawai ?

Kondisi-kondisi di atas terjadi karena semua pengetahuan mengenai channel televisi, jalan menuju rumah, letak kamar mandi, serta lirik lagu favorit telah tertanam jauh di dalam otak kita (long-term memory), sehingga kita tidak akan kesulitan untuk mengingatnya. Buku “Learning How to Learn” ini akan memandu kita untuk memiliki ingatan dan pemahaman sekuat dan semudah itu terhadap suatu subjek pembelajaran yang rumit sekalipun.

Tidak percaya ? Silahkan simak kisah Santiago Ramon Y Cajal yang disajikan oleh penulis di dalam buku tersebut.

Santiago muda dicap sebagai anak bebal yang tidak mengerti matematika dan sains. Namun dengan tekad dan semangat membara serta teknik belajar yang tepat, Santiago akhirnya dapat menjadi seorang dokter dan ahli neurologi (yang juga seorang professor patologi) bahkan peraih nobel prize!

Sehingga dengan membaca buku ini, kita akan memiliki keyakinan kuat bahwa tidak ada subjek yang sulit untuk dipahami, asalkan kita tahu teknik belajar yang tepat.

Penulis: Ahmad Rafuan
Editor: Tim MariNews